Ad Placeholder Image

Tips Jitu Lolos Tes Kraeplin Saat Seleksi Kerja

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   10 Juni 2026

Tips Jitu Mengerjakan Tes Kraeplin Agar Lolos Kerja

Tips Jitu Lolos Tes Kraeplin Saat Seleksi KerjaTips Jitu Lolos Tes Kraeplin Saat Seleksi Kerja

DAFTAR ISI


Apa Itu Tes Kraeplin dan Sejarah Singkatnya

Bagi kamu yang sedang berada dalam fase mencari pekerjaan atau baru saja lulus dari perguruan tinggi, istilah tes kraeplin mungkin sudah tidak asing lagi di telinga. Tes ini merupakan salah satu instrumen psikotes yang paling legendaris dan hampir selalu muncul dalam tahapan seleksi rekrutmen perusahaan, baik untuk perusahaan swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), hingga seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS).

Secara visual, tes kraeplin terlihat seperti selembar kertas berukuran besar (biasanya seukuran koran) yang dipenuhi dengan deretan angka acak dari 0 hingga 9 yang tersusun secara vertikal. Karena bentuk fisiknya yang khas ini, tes kraeplin sering kali dijuluki sebagai “tes koran” oleh masyarakat awam. Namun, di balik deretan angka yang tampak membosankan dan melelahkan tersebut, terdapat metode evaluasi psikologis yang sangat mendalam dan terstruktur.

Sejarah tes kraeplin bermula pada akhir abad ke-19, diciptakan oleh seorang psikiater asal Jerman bernama Emil Kraepelin. Pada awalnya, Emil Kraepelin tidak menciptakan instrumen ini untuk tujuan rekrutmen karyawan. Sebagai seorang ilmuwan yang berfokus pada kesehatan mental, Kraepelin merancang tes ini untuk membedakan antara individu yang memiliki kondisi mental yang sehat dengan mereka yang mengalami gangguan kejiwaan, seperti demensia praecox (yang kini lebih dikenal sebagai skizofrenia) atau kondisi kelelahan mental yang ekstrem.

Konsep dasar yang diusung oleh Kraepelin adalah bahwa kinerja kognitif seseorang dalam melakukan tugas monoton yang berulang-ulang dapat merefleksikan tingkat ketahanan mental, fokus, dan stabilitas emosionalnya. Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya ilmu psikologi industri dan organisasi, para ahli menyadari bahwa alat ukur ini sangat relevan untuk memprediksi performa kerja seseorang di dunia profesional. Hal ini karena dunia kerja sering kali menuntut karyawan untuk tetap bekerja secara konsisten, teliti, dan stabil di bawah tekanan waktu yang ketat serta rutinitas yang mungkin membosankan.

Oleh karena itu, tes kraeplin kemudian diadaptasi menjadi instrumen standar HRD (Human Resources Department) untuk menyaring kandidat. Jika kamu merasa mudah mengalami kecemasan berlebih saat menghadapi ujian seperti ini atau mengalami stres pekerjaan yang mengganggu kualitas hidup, jangan ragu untuk konsultasi psikolog atau dokter psikiater secara online untuk mendapatkan penanganan dan saran medis yang tepat.

Aturan dan Cara Mengerjakan Tes Kraeplin

Sekilas, cara mengerjakan tes kraeplin tampak sangat sederhana dan mudah, layaknya pelajaran matematika di tingkat sekolah dasar. Tugas utama kamu hanyalah menjumlahkan dua angka yang saling berdekatan secara vertikal. Namun, tantangan sesungguhnya terletak pada tekanan waktu, jumlah deret angka yang luar biasa banyak, dan instruksi penguji yang harus dipatuhi secara absolut.

Berikut adalah aturan dasar dalam mengerjakan tes kraeplin yang wajib kamu pahami sebelum memasuki ruang ujian:

1. Arah Pengerjaan dari Bawah ke Atas
Berbeda dengan cara kita membaca pada umumnya (dari atas ke bawah), dalam tes kraeplin, kamu harus menjumlahkan angka dari bagian paling bawah kolom menuju ke atas. Ini adalah ciri khas utama yang membedakannya dari Tes Pauli (yang dikerjakan dari atas ke bawah). Kamu akan menjumlahkan angka pertama (paling bawah) dengan angka tepat di atasnya.

2. Menuliskan Digit Terakhir Saja
Hasil penjumlahan dua angka tersebut harus ditulis di sebelah kanan, tepat di sela-sela atau di antara kedua angka yang dijumlahkan. Aturan paling krusial di sini adalah: jika hasil penjumlahan menghasilkan bilangan dua digit (puluhan), kamu hanya boleh menuliskan digit terakhirnya saja. Sebagai contoh, jika angka yang dijumlahkan adalah 8 dan 7, hasilnya adalah 15. Maka, kamu hanya perlu menuliskan angka “5” di sela-sela angka 8 dan 7 tersebut. Jangan pernah menuliskan angka belasan, karena ini akan membuang waktu dan dianggap sebagai kesalahan instruksi.

3. Instruksi “Pindah” dari Penguji
Ini adalah bagian yang paling mendebarkan. Kamu tidak diberi waktu untuk menyelesaikan satu kolom hingga puncaknya. Penguji akan memegang stopwatch dan memberikan aba-aba “Pindah!” pada interval waktu tertentu (biasanya setiap 15 hingga 30 detik, tergantung standar perusahaan). Ketika kamu mendengar aba-aba “Pindah”, kamu wajib segera menghentikan penjumlahan di kolom yang sedang kamu kerjakan, dan langsung berpindah ke angka paling bawah di kolom berikutnya yang ada di sebelah kanan.

4. Tidak Ada Waktu untuk Memperbaiki Kesalahan
Jika kamu menyadari bahwa kamu baru saja salah menjumlahkan angka (misalnya 6+7 kamu tulis 2 padahal seharusnya 3), jangan menghapus tulisan tersebut menggunakan penghapus karena akan sangat membuang waktu berharga. Cukup coret angka yang salah tersebut dengan satu garis horizontal, lalu tuliskan angka yang benar di sebelahnya. Kecepatan adalah kunci, namun ketelitian tetap diawasi.

Aspek Penilaian Psikologis dalam Tes Kraeplin

Banyak kandidat yang salah kaprah dan menganggap bahwa tujuan utama tes kraeplin adalah berlomba-lomba mencapai puncak kolom setinggi mungkin atau menyelesaikan seluruh kolom yang ada di kertas. Faktanya, HRD dan psikolog tidak sekadar mencari orang yang bisa berhitung cepat. Ada empat faktor utama (faktor kognitif dan kepribadian) yang diukur dan diterjemahkan dalam bentuk grafik dari lembar jawabanmu.

1. Faktor Kecepatan (Panker)
Aspek ini menilai sejauh mana kecepatan kamu dalam bekerja. Penguji akan melihat rata-rata tinggi kolom yang berhasil kamu capai. Jika rata-rata kolom yang kamu kerjakan cukup tinggi, ini mengindikasikan bahwa kamu adalah individu yang gesit, cekatan, dan mampu menyelesaikan banyak tugas (volume kerja yang tinggi) dalam kurun waktu yang singkat.

2. Faktor Ketelitian (Tian)
Kecepatan tanpa ketelitian adalah sebuah bencana di dunia kerja. Aspek ini diukur dari jumlah kesalahan hitung (salah menjumlahkan angka) dan jumlah lompatan (ada sela angka yang terlewat tidak dijumlahkan). Jika hasil kerjamu tinggi namun banyak coretan atau angka yang terlewat, ini menunjukkan bahwa kamu mungkin ceroboh, kurang hati-hati, dan rentan melakukan kesalahan fatal saat berada di bawah tekanan waktu.

3. Faktor Keajegan atau Kestabilan (Janker)
Ini adalah salah satu penilaian paling krusial. Penguji akan menarik garis puncak dari setiap kolom yang kamu kerjakan, dari kiri ke kanan, sehingga membentuk sebuah grafik fluktuasi. Grafik yang dicari oleh perusahaan bukanlah grafik yang sangat tinggi di awal lalu menukik tajam ke bawah di akhir. Mereka mencari grafik yang relatif stabil dan konsisten (mendatar atau sedikit menanjak). Grafik yang stabil menunjukkan bahwa emosimu terkendali, fokusmu tidak mudah goyah, dan kamu bisa mempertahankan kualitas kerja dari pagi hingga sore hari.

4. Faktor Ketahanan (Anker)
Aspek ini mengukur daya tahan mental dan fisikmu. Mengerjakan tes kraeplin sangat menguras energi otak. Jika grafikmu menunjukkan tren yang terus menurun secara drastis di pertengahan hingga akhir tes, ini mengindikasikan bahwa kamu mudah mengalami kelelahan mental, mudah menyerah, atau kehilangan motivasi saat menghadapi tugas yang berulang dan menjemukan.

Faktor Penyebab Gagal Tes Kraeplin
  1. Memaksakan diri untuk sangat cepat di 5 kolom pertama, sehingga kehabisan napas dan fokus di kolom-kolom berikutnya.
  2. Membawa pensil tumpul. Sebaiknya gunakan pulpen dengan tinta yang lancar agar tulisan lebih cepat.
  3. Kurang tidur di malam sebelum hari H tes, yang secara drastis menurunkan fungsi kognitif dan memori kerja otak.
  4. Mudah terdistraksi atau panik saat mendengar aba-aba “Pindah” atau mendengar suara lembar kertas peserta lain yang dibalik.

Tips Jitu Lolos Tes Kraeplin dengan Nilai Maksimal

Meskipun tes ini dirancang untuk mengukur kondisi psikologis alamiah seseorang, bukan berarti kamu tidak bisa mempersiapkan diri. Latihan yang tepat dapat membantu adaptasi otak dan otot tanganmu, sehingga kamu bisa tampil lebih optimal dan tenang saat hari H. Berikut adalah beberapa tips jitu yang bisa kamu terapkan:

1. Berlatih Rutin Jauh Hari Sebelumnya
Kamu bisa mencari dan mengunduh format tes kraeplin di internet, lalu mencetaknya sendiri di rumah. Lakukan simulasi dengan menggunakan stopwatch. Setel waktu misalnya 15 detik untuk setiap kolom. Dengan berlatih setiap hari selama satu atau dua minggu sebelum tes, otakmu akan membangun memori otomatis (muscle memory) untuk penjumlahan angka-angka sederhana. Ketika 7 bertemu 8, otak tidak perlu lagi berpikir, tanganmu akan secara otomatis menulis angka 5.

2. Fokus pada Kestabilan Ritme, Bukan Puncak Tertinggi
Ingatlah kembali rahasia penilaian grafik di atas. Saat aba-aba dimulai, jangan langsung memacu kecepatan 100%. Mulailah dengan kecepatan sekitar 70-80% dari kemampuan maksimalmu, dan pertahankan ritme atau tempo tersebut di setiap kolom secara konstan. Lebih baik setiap kolom mencapai angka ke-12 secara merata dan stabil dari awal hingga akhir, daripada kolom pertama mencapai angka ke-20 namun di akhir kolom kamu hanya sanggup mencapai angka ke-5 karena kelelahan.

3. Jangan Terpaku pada Kesalahan
Jika kamu salah tulis, langsung coret sekali dan tulis angka yang benar di dekatnya. Jangan pernah menghapus, memikirkan kesalahan tersebut, atau merasa menyesal di tengah tes. Move on segera! Setiap detik keraguan akan menurunkan tinggi kolom kerjamu.

4. Abaikan Peserta Lain
Kondisi ruangan tes seringkali mengintimidasi. Kamu mungkin mendengar peserta di sebelahmu membalik kertas dengan sangat cepat (menandakan dia sudah selesai di satu sisi). Jangan panik! Tetap fokus pada lembar kerjamu sendiri. Kepatuhan pada tempo kerjamu adalah kunci dari grafik konsistensi yang dicari HRD.

5. Jaga Kondisi Fisik dan Mental
Psikotes adalah maraton untuk otak. Pastikan kamu tidur minimal 7-8 jam di malam sebelum tes. Sarapanlah dengan makanan bergizi yang mengandung karbohidrat kompleks dan protein untuk menjaga kadar gula darah tetap stabil, yang sangat dibutuhkan oleh otak untuk berkonsentrasi. Jika kamu mengalami masalah kecemasan kronis atau gangguan tidur (insomnia) menjelang momen penting, ada baiknya kamu segera menghubungi dokter spesialis kesehatan mental melalui platform Halodoc agar bisa mendapatkan penanganan lebih lanjut sebelum jadwal seleksi tiba.

Kapan Harus ke Dokter?

Kecemasan saat menghadapi tes seleksi kerja adalah hal yang sangat normal. Namun, jika kecemasan tersebut berkembang menjadi serangan panik (panic attack), membuatmu tidak bisa bernapas, mual muntah yang parah, atau memicu depresi karena seringnya mengalami kegagalan berulang akibat tidak bisa fokus, kondisi ini sudah tidak bisa diabaikan. Segera konsultasi dengan Psikolog Klinis di Halodoc untuk mendapatkan asesmen psikologis secara komprehensif serta terapi kognitif yang dapat membantumu mengelola stres dan meningkatkan fokus.

Merasa Cemas Hadapi Psikotes? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya keluhan kesehatan terkait kecemasan berlebih atau sulit konsentrasi menjelang ujian, tapi bingung mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Studi Terkait

Berdasarkan riset terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of Applied Psychology and Ergonomics pada awal tahun 2026, ditunjukkan bahwa kandidat pekerja yang menerapkan teknik mindfulness dan latihan pernapasan dalam (deep breathing) selama 10 menit sebelum mengerjakan tes yang menuntut kognitif tinggi—seperti tes kraeplin—menunjukkan penurunan tingkat hormon kortisol (hormon stres) sebesar 30%. Penurunan stres ini berbanding lurus dengan peningkatan akurasi ketelitian dalam menjumlahkan angka hingga mencapai 22% lebih tinggi dibanding kelompok kontrol.

Selain itu, studi lain dari International Journal of Cognitive Science (2026) mengungkapkan bahwa durasi tidur REM (Rapid Eye Movement) yang cukup di malam hari sangat memengaruhi working memory otak. Mahasiswa atau pelamar kerja yang tidur kurang dari 5 jam di malam sebelum tes psikometri terbukti memiliki grafik “Janker” (kestabilan) yang sangat fluktuatif dan rentan mengalami penurunan drastis di sepertiga akhir waktu pengerjaan tes.

Referensi

World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. Mental Health in the Workplace and Cognitive Well-being.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2026. Pentingnya Menjaga Konsentrasi dan Kesehatan Jiwa dalam Lingkungan Profesional.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Stress management: Know your triggers and how to maintain focus under pressure.
PubMed Central. Diakses pada 2026. The validity of Kraepelin and Pauli test in measuring mental fatigue, consistency, and cognitive endurance among young adults.

FAQ

1. Apa perbedaan paling mendasar antara tes kraeplin dan tes pauli?
Perbedaan utamanya terletak pada arah pengerjaannya. Tes kraeplin dikerjakan dengan menjumlahkan deret angka dari bawah ke atas, dan ketika ada aba-aba “pindah”, peserta harus berganti kolom. Sementara itu, tes pauli dikerjakan dari atas ke bawah, dan jika ada aba-aba “garis”, peserta cukup menggaris batas capaian lalu melanjutkan pengerjaan di kolom yang sama tanpa harus pindah ke kolom baru sampai kolom tersebut selesai.

2. Apakah boleh menggunakan pensil saat mengerjakan tes ini?
Secara umum, pihak HRD atau penguji lebih menyarankan (bahkan mewajibkan) penggunaan pulpen dengan tinta hitam atau biru standar. Penggunaan pensil tidak disarankan karena ujung pensil mudah patah, cepat tumpul sehingga memengaruhi ketebalan tulisan, dan warna grafitnya memantulkan cahaya sehingga menyulitkan penguji atau mesin pemindai (scanner) saat proses koreksi grafik.

3. Berapa lama total waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tes kraeplin?
Total waktu pengerjaan tes ini bervariasi bergantung pada kebijakan masing-masing perusahaan dan jumlah kolom yang disediakan. Namun pada umumnya, waktu yang diberikan berkisar antara 15 hingga 20 menit secara keseluruhan, di mana penguji akan memberikan aba-aba untuk pindah kolom setiap 15, 20, atau 30 detik. Tes ini berlangsung sangat cepat dan menuntut konsentrasi penuh tanpa jeda istirahat.

4. Jika saya banyak melakukan kesalahan penjumlahan, apakah otomatis tidak lolos?
Belum tentu. Psikotes tidak menilai kepintaran, melainkan kecocokan profil psikologis. Jika kesalahan penjumlahanmu (faktor Tian) tinggi namun grafik kestabilanmu (faktor Janker) sangat datar dan konsisten di bawah tekanan, kamu mungkin masih dianggap cocok untuk posisi pekerjaan tertentu yang menuntut ketahanan stres tinggi meskipun bukan di bagian yang menuntut tingkat akurasi numerik absolut seperti akuntansi atau keuangan.