Vaksin Corona Johnson & Johnson Dapat Izin Darurat dari WHO

Halodoc, Jakarta - Pandemi COVID-19 belum berakhir hingga saat ini. Bukan hanya di Indonesia, kondisi ini juga dialami oleh beberapa negara lainnya. Salah satu penanganan dan pencegahan yang bisa dilakukan untuk menurunkan kondisi pandemi COVID-19 dengan melakukan vaksinasi COVID-19.
Baca juga: Perlu Tahu, Ini Fakta Lengkap Mengenai Vaksin COVID-19
Ada beberapa perusahaan yang telah mendapatkan ijin penggunaan darurat dari WHO, seperti Pfizer/BioNTech dan AstraZeneca. Kini, WHO kembali memberikan izin penggunaan darurat pada perusahaan Johnson & Johnson pada Jumat (12/3) lalu. Berbeda dengan vaksin COVID-19 yang lain, Johnson & Johnson hanya membutuhkan satu kali dosis suntikan.
Untuk itu, tidak ada salahnya simak ulasan mengenai vaksin COVID-19 yang diproduksi oleh perusahaan Johnson & Johnson, di sini!
Vaksin Corona Johnson & Johnson
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kini telah memberikan izin penggunaan darurat untuk vaksin corona produksi perusahaan Johnson & Johnson. Perusahaan Johnson & Johnson merupakan perusahaan ketiga, setelah sebelumnya Pfizer/BioNTech dan AstraZeneca juga mendapatkan izin penggunaan darurat dari WHO.
Kedua vaksin corona sebelumnya membutuhkan dua kali penyuntikan untuk membuat antibodi dalam tubuh dapat terbentuk secara optimal. Namun, vaksin corona dari Johnson & Johnson nyatanya hanya membutuhkan satu kali penyuntikan saja.
Melansir dari wesbite resmi Johnson & Johnson, mereka telah melakukan berbagai penelitian dan pengujian vaksin corona untuk mengoptimalkan sistem kekebalan tubuh dengan menggunakan satu dosis vaksin.
Baca juga: Vaksin Corona Tetap Dibutuhkan Meski Sudah Pernah Terinfeksi
Kelompok yang Boleh Mendapatkan Vaksin Corona Johnson & Johnson
Saat ini vaksin corona Johnson & Johnson hanya dapat diterima oleh kelompok usia 18 tahun ke atas. Proses vaksinasi dapat dilakukan melalui suntikan pada otot lengan atas.
Lalu, apakah semua orang bisa mendapatkan vaksin ini? Nyatanya, jika kamu memiliki riwayat dengan kondisi alergi sebaiknya hindari menerima vaksin Johnson & Johnson. Selain itu, ada beberapa kondisi yang perlu disampaikan oleh petugas vaksinasi sebelum kamu menerima vaksin Johnson & Johnson, seperti:
- Riwayat alergi;
- Mengalami demam;
- Memiliki gangguan perdarahan;
- Menggunakan obat pengencer darah;
- Mengalami gangguan kekebalan tubuh;
- Mengonsumsi obat-obatan tertentu;
- Hamil atau dalam rencana menjalankan kehamilan;
- Sedang menyusui;
- Sudah menerima vaksin COVID-19 jenis lain.
Kamu bisa mendapatkan informasi lebih lengkap seputar vaksin corona Johnson & Johnson dengan bertanya langsung pada dokter melalui Halodoc. Yuk, download Halodoc sekarang juga melalui App Store atau Google Play sekarang juga!
Efek Samping Ringan dari Vaksin Johnson & Johnson
Vaksin corona Johnson & Johnson dinilai cukup efektif untuk mencegah penyebaran dan penularan virus corona. Selain itu, pemberian vaksin COVID-19 juga bisa menghindari kamu dari gejala buruk yang diakibatkan oleh virus corona. Bahkan, pemberian vaksin COVID-19 dinilai menurunkan risiko gangguan kesehatan yang lebih serius akibat virus corona.
Bukan hanya diri kamu sendiri, pemberian vaksin corona juga dapat membuat orang di sekitar kamu terlindungi dari virus ini. Jadi, jangan ragu untuk menerima vaksin COVID-10 untuk memutus pandemi COVID-19.
Hampir sama dengan jenis vaksinasi penyakit lain, vaksinasi COVID-19 juga bisa menimbulkan efek samping ringan. Termasuk jika kamu menerima vaksin corona dari Johnson & Johnson. Melansir dari U.S. Food and Drugs Administration, ada beberapa efek samping ringan yang terjadi akibat pemberian vaksin Johnson & Johnson.
- Lokasi penyuntikan: Akan terasa sedikit nyeri, kemerahan, dan bengkak pada lokasi penyuntikan.
- Keseluruhan efek samping: Kelelahan, sakit kepala, nyeri otot, mual, dan demam.
Baca juga: Vaksin Corona Tidak Cukup Sekali Suntik, Ini Alasannya
Ada kemungkinan yang sangat kecil bahwa vaksin Johnson & Johnson menyebabkan reaksi alergi. Segera kunjungi rumah sakit di mana kamu mendapatkan vaksin ini, jika mengalami beberapa gejala, seperti kesulitan bernapas, pembengkakan pada wajah dan area tenggorokan, detak jantung lebih cepat, muncul ruam di seluruh tubuh, hingga pusing.



