• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Video Game Bantu Perbaiki Mata Malas pada Anak, Benarkah?
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Video Game Bantu Perbaiki Mata Malas pada Anak, Benarkah?

Video Game Bantu Perbaiki Mata Malas pada Anak, Benarkah?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 01 Maret 2021
Video Game Bantu Perbaiki Mata Malas pada Anak, Benarkah?

Halodoc, Jakarta - Mata malas, juga dikenal sebagai ambliopia menjadi penyebab paling sering masalah penglihatan pada anak-anak. Perkembangan mata yang tidak normal mengakibatkan terjadi kesulitan komunikasi antara otak dan mata yang dapat berujung pada melemahnya penglihatan.

Paling sering, gangguan kesehatan ini terjadi pada satu mata, meski terkadang kedua mata bisa juga mengalaminya. Ketika terjadi di satu mata, otak akan lebih menyukai mata yang berfungsi normal, sehingga mata yang lebih lemah lama-kelamaan akan kehilangan kemampuannya.

Berbagai kondisi yang dapat memicu munculnya mata malas, antara lain:

  • Ambliopia bias, yaitu kondisi ketika salah satu mata lebih kuat dari yang lain.
  • Strabismus atau mata juling yang tidak segera mendapatkan penanganan. diobati.
  • Katarak dan gangguan penglihatan lainnya.
  • Ketidakcukupan konvergensi, saat mata tidak bekerja sama selama tugas jarak dekat.

Baca juga: Mitos atau Fakta Kacamata Terapi Bisa Atasi Mata Malas

Bagaimana Video Game Bisa Membantu?

Latihan mata dapat memperkuat mata yang lemah, mendorong terbentuknya komunikasi yang lebih baik antara mata dan otak. Melakukan berbagai aktivitas yang membutuhkan kerja sama mata untuk menyelesaikan tugas dapat membantu mengatasi mata malas.

Nah, salah satu bentuk latihan yang katanya bisa membantu mengurangi mata malas adalah bermain video game. Siapa sangka, aktivitas yang sering dicap negatif oleh banyak orang ini juga memiliki manfaat untuk kesehatan. Memang, berbagai studi tentang ini masih terus dilakukan guna mendapatkan bukti medis yang lebih akurat. Namun, kamu bisa memberikan permainan video berikut ini jika mengalami mata malas: 

  • Tetris

Satu penelitian kecil yang dipublikasikan dalam Current Biology menunjukkan orang dewasa dengan ambliopia bermain Tetris sambil mengenakan kacamata video selama satu jam sehari selama dua minggu. Sebanyak setengah dari peserta memainkan permainan dengan satu mata tertutup. Sisanya memainkan permainan dengan kedua mata secara dichoptically, yang berarti elemen visual yang berbeda ditampilkan ke setiap mata secara bersamaan, seperti mata dengan kontras warna yang lebih tinggi atau lebih rendah.

Hasil pelatihan dichoptic dua mata menunjukkan kemajuan pembelajaran yang signifikan selama pelatihan mata satu, meskipun kedua kelompok sama-sama menunjukkan peningkatan. Studi ini menunjukkan bahwa Tetris bukan hanya menjadi cara yang menyenangkan untuk melakukan terapi visual, tetapi menggunakan penutup mata untuk mata yang lebih lemah belum tentu merupakan pilihan terbaik.

Baca juga: Pencegahan Mata Malas pada Anak

  • Virtual Reality

Penelitian lain yang lebih baru dalam Journal of Ophthalmology menunjukkan bahwa realitas virtual mungkin merupakan pilihan yang menyenangkan dan efektif untuk meningkatkan komunikasi antara mata dan otak.

Permainan ini telah digunakan dengan jenis gim lain yang menggabungkan pembelajaran perseptual dan stimulasi dichoptic. Sejauh ini, penelitian yang dilakukan terbilang cukup menjanjikan karena menunjukkan peningkatan ketajaman penglihatan, melihat kontras warna, dan persepsi kedalaman.

Beberapa latihan memang hanya berguna untuk jenis ambliopia tertentu. Jadi, pastikan kamu telah mengikuti saran dokter untuk kondisi yang kamu alami guna memastikan tidak menimbulkan masalah dan kamu melakukan latihan yang efektif dan tepat untuk mata malas.  

Baca juga: Mata Malas pada Anak Bisa Disembuhkan dengan Cara Ini

Meskipun mata malas mungkin mengkhawatirkan untuk dilihat, tetapi dengan deteksi dini dan rencana yang tepat, kondisi ini sangat bisa diobati. Tanyakan langsung pada dokter spesialis mata jika kamu membutuhkan informasi yang lebih lengkap tentang kondisi ini. Gunakan saja aplikasi Halodoc sehingga kamu bisa tanya jawab atau chat dengan dokter kapan saja. 



Referensi:
Li J, Thompson B, Deng D, Chan LYL, Yu M, Hess RF. 2013. Diakses pada 2021. Dichoptic training enables the adult amblyopic brain to learn. Current Biology 23(8):R308-R309.
Coco-Martin MB, Piñero DP, Leal-Vega L, et al. 2020. Diakses pada 2021. The potential of virtual reality for inducing neuroplasticity in children with amblyopia. Journal of Ophthalmology. 2020:1-9.
Verywell Health. Diakses pada 2021. Lazy Eye Exercises to Correct Amblyopia.