Ad Placeholder Image

Wajib Tahu, Ini Efek Positif dan Negatif dari Konsumsi MSG

6 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   17 Juni 2026

Konsumsi MSG atau monosodium glutamat selama tidak berlebihan, justru membawa efek positif.

Wajib Tahu, Ini Efek Positif dan Negatif dari Konsumsi MSGWajib Tahu, Ini Efek Positif dan Negatif dari Konsumsi MSG

DAFTAR ISI


Hampir setiap masyarakat Indonesia pasti sudah sangat akrab dengan bumbu penyedap rasa yang satu ini. Ya, “micin” atau MSG adalah salah satu bahan tambahan pangan yang paling sering digunakan, baik di masakan rumahan, pedagang kaki lima, hingga restoran berbintang. Namun, tahukah kamu apa sebenarnya kepanjangan MSG dan apa dampaknya bagi tubuh?

Kepanjangan MSG adalah Monosodium Glutamate (Monosodium Glutamat). Meski sangat populer dan sering dikonsumsi setiap hari, MSG sering kali menjadi perdebatan di bidang kesehatan. Banyak orang yang menganggap bahwa konsumsi MSG dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari penurunan kecerdasan, pusing, hingga penyakit kronis lainnya. Namun, apakah klaim tersebut benar secara medis?

Memahami kepanjangan MSG serta cara kerjanya di dalam tubuh sangat penting agar kamu tidak terjebak dalam mitos yang beredar. Badan pengawas makanan di berbagai belahan dunia sebenarnya telah memberikan pedoman yang jelas mengenai keamanan bahan penyedap ini, asalkan dikonsumsi dalam batas yang wajar.

Nah, mau tahu fakta medis yang sebenarnya tentang MSG, efeknya bagi tubuh, serta bagaimana cara menggunakannya dengan bijak? Berikut ulasan lengkapnya!

Apa Itu MSG Sebenarnya?

Seperti yang telah disebutkan, kepanjangan MSG adalah Monosodium Glutamate. Secara kimiawi, MSG adalah garam natrium (sodium) dari asam glutamat. Asam glutamat sendiri merupakan salah satu jenis asam amino non-esensial, yang berarti tubuh manusia sebenarnya bisa memproduksinya sendiri dan tidak sepenuhnya bergantung pada asupan makanan.

Asam glutamat dapat ditemukan secara alami dalam berbagai bahan makanan sehari-hari, seperti tomat, keju parmesan, jamur, rumput laut, dan ekstrak daging sapi. Glutamat inilah yang memberikan sensasi rasa gurih yang mendalam, atau yang dalam bahasa Jepang dikenal dengan istilah umami. Umami telah diakui sebagai rasa dasar kelima selain manis, asam, asin, dan pahit.

Pembuatan MSG komersial modern biasanya dilakukan melalui proses fermentasi karbohidrat (seperti tetes tebu, singkong, atau jagung) yang melibatkan bakteri, mirip dengan proses pembuatan yoghurt atau cuka. Hasil akhirnya adalah kristal putih halus yang mudah larut dalam air dan mampu meningkatkan cita rasa makanan secara drastis tanpa mengubah rasa aslinya.

Penting untuk dicatat bahwa secara biologis, tubuh manusia tidak dapat membedakan antara glutamat yang berasal dari tomat segar dengan glutamat yang berasal dari bubuk MSG. Keduanya diproses dengan cara yang sama persis oleh sistem pencernaan dan metabolisme kita.

Sejarah dan Fakta “Chinese Restaurant Syndrome”

Reputasi buruk MSG bermula pada tahun 1968 ketika seorang dokter menulis surat ke jurnal medis New England Journal of Medicine. Ia mengeluhkan berbagai gejala seperti mati rasa di bagian belakang leher, kelemahan, dan jantung berdebar setelah makan di restoran masakan Tiongkok di Amerika Serikat. Fenomena ini kemudian dijuluki sebagai Chinese Restaurant Syndrome (Sindrom Restoran Tiongkok).

Akibat publikasi tersebut, muncul kepanikan publik secara global yang mengaitkan kepanjangan MSG sebagai biang keladi berbagai masalah kesehatan. Namun, seiring berjalannya waktu dan berkembangnya teknologi medis, berbagai penelitian double-blind placebo-controlled (standar emas dalam penelitian medis) dilakukan untuk menguji kebenaran sindrom ini.

Hasilnya? Para ilmuwan tidak dapat menemukan bukti yang konsisten dan meyakinkan bahwa MSG dalam jumlah normal yang digunakan dalam makanan menyebabkan gejala-gejala tersebut pada populasi umum. Beberapa orang mungkin memang memiliki sensitivitas khusus terhadap MSG, namun jumlahnya sangat sedikit. Gejala yang muncul pun umumnya ringan dan dapat hilang dengan sendirinya tanpa penanganan medis khusus.

Namun, jika kamu sering merasa pusing yang tidak biasa, tengkuk tegang, atau sakit kepala berkepanjangan setelah mengonsumsi makanan tertentu, sangat disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter. Hal ini penting untuk memastikan apakah gejala tersebut murni karena intoleransi makanan, alergi, atau ada kondisi medis lain seperti hipertensi yang tidak terdiagnosis.

Efek Samping Jika Dikonsumsi Berlebihan

Meskipun Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat dan BPOM RI mengklasifikasikan MSG sebagai bahan tambahan pangan yang “Secara Umum Diakui Aman” (GRAS), bukan berarti kamu bisa mengonsumsinya tanpa batasan. Segala sesuatu yang berlebihan pasti membawa dampak negatif bagi tubuh.

1. Asupan Natrium (Sodium) Berlebih

MSG mengandung sekitar 12 persen natrium (sodium), yang mana jumlah ini sebenarnya lebih rendah dibandingkan garam meja biasa (sekitar 39 persen natrium). Namun, jika MSG digunakan bersamaan dengan garam dan bumbu instan lainnya dalam satu porsi masakan, total asupan natrium bisa melonjak drastis. Konsumsi natrium berlebihan adalah faktor risiko utama terjadinya tekanan darah tinggi (hipertensi), yang dapat berujung pada penyakit jantung dan stroke.

2. Sensitivitas MSG Kompleks

Pada kelompok minoritas yang memiliki sensitivitas tinggi atau yang biasa disebut memiliki “MSG symptom complex”, mengonsumsi MSG dalam dosis besar (biasanya lebih dari 3 gram tanpa makanan pendamping) dapat memicu respons tubuh. Gejala yang bisa muncul meliputi keringat berlebih, rasa panas di wajah, mual, sakit dada ringan, dan tubuh terasa lemas.

3. Potensi Memicu Nafsu Makan Berlebih

Rasa gurih (umami) dari MSG dapat merangsang reseptor rasa di lidah dan mengirimkan sinyal ke otak yang meningkatkan selera makan. Hal ini berpotensi membuat seseorang makan lebih banyak dari porsi yang seharusnya (overeating), yang jika menjadi kebiasaan dapat berkontribusi pada penambahan berat badan dan obesitas.

Tips Mengonsumsi MSG Secara Aman
  1. Gunakan sedikit saja; setengah sendok teh MSG biasanya sudah cukup untuk membumbui makanan yang disajikan untuk 4-6 orang.
  2. Jika sudah menggunakan MSG, kurangi takaran garam dapur (garam meja) pada masakanmu.
  3. Perhatikan label makanan kemasan. MSG sering disamarkan dengan nama lain seperti hydrolyzed vegetable protein, autolyzed yeast, atau yeast extract.

Alternatif Pengganti MSG Alami

Jika kamu ingin mengurangi penggunaan MSG sintetis di rumah, ada banyak bahan alami yang kaya akan asam glutamat dan mampu memberikan rasa umami yang tak kalah lezatnya. Berikut adalah beberapa pilihannya:

1. Kaldu Tulang (Bone Broth)

Merebus tulang sapi, ayam, atau ikan dengan api kecil selama beberapa jam dapat melepaskan asam amino, kolagen, dan mineral ke dalam air rebusan. Kaldu alami ini sangat gurih dan menyehatkan tanpa perlu tambahan penyedap buatan.

2. Jamur dan Tomat

Jamur, terutama jenis shiitake, mengandung glutamat alami dalam jumlah tinggi. Begitu pula dengan tomat, terutama tomat yang dikeringkan (sun-dried tomatoes) atau pasta tomat. Menambahkan kedua bahan ini ke dalam sup atau tumisan akan langsung meningkatkan cita rasa gurih secara instan.

3. Nutritional Yeast (Ragi Nutrisi)

Bahan ini sangat populer di kalangan vegetarian dan vegan. Nutritional yeast memiliki rasa gurih yang menyerupai keju dan kacang-kacangan. Selain bebas natrium berlebih, bahan ini juga sering difortifikasi dengan vitamin B kompleks.

Berbicara soal nutrisi tambahan, selain menjaga kualitas bahan masakan sehari-hari, sistem imun tubuh juga butuh dukungan ekstra. Memastikan tubuh mendapat gizi seimbang adalah prioritas utama. Untuk melengkapi kebutuhan nutrisi harian yang mungkin terlewat dari makanan, kamu bisa rutin mengonsumsi suplemen dan vitamin berkualitas yang terdaftar secara resmi.

Studi Terkait Konsumsi MSG

WHO (World Health Organization) dan JECFA (Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives) telah melakukan evaluasi berulang kali terhadap keamanan MSG. Studi ekstensif menyimpulkan bahwa tidak ada ambang batas maksimal harian yang ditetapkan untuk asupan MSG (Acceptable Daily Intake – Not Specified). Hal ini menandakan bahwa toksisitas MSG sangat rendah.

Selain itu, jurnal dari American Society for Clinical Nutrition pernah menerbitkan ulasan komprehensif yang mematahkan mitos bahwa MSG dapat menyebabkan kerusakan otak atau memicu asma secara langsung pada populasi umum. Studi tersebut menegaskan bahwa glutamat dari makanan tidak dapat dengan mudah melewati penghalang darah-otak (blood-brain barrier), sehingga tidak menyebabkan keracunan saraf (eksitotoksisitas) seperti yang dikhawatirkan banyak orang di masa lalu.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Food and Drug Administration (FDA) USA. Diakses pada 2024. Questions and Answers on Monosodium glutamate (MSG).
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. What is MSG? Is it bad for you?
World Health Organization (WHO) & JECFA. Diakses pada 2024. Evaluation of certain food additives and contaminants.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. The Truth About MSG.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI. Diakses pada 2024. Kajian Keamanan Bahan Tambahan Pangan Penguat Rasa.

FAQ

1. Apa sebenarnya kepanjangan MSG itu?

Kepanjangan MSG adalah Monosodium Glutamate atau Monosodium Glutamat. Ini adalah garam natrium dari asam glutamat, yakni jenis asam amino yang secara alami ditemukan di dalam tubuh kita serta di berbagai bahan makanan seperti tomat, keju, dan kaldu daging.

2. Apakah MSG aman dikonsumsi setiap hari?

Ya, MSG aman dikonsumsi asalkan dalam batas wajar. Badan pengawas makanan dunia seperti FDA dan WHO telah menyatakan MSG sebagai bahan yang aman. Namun, penggunaannya harus dibatasi agar total asupan natrium harian (gabungan dari garam dan MSG) tidak memicu risiko tekanan darah tinggi.

3. Mengapa saya sering merasa pusing setelah makan micin (MSG)?

Sebagian kecil orang mungkin memiliki sensitivitas terhadap konsumsi MSG dalam jumlah besar yang disebut MSG symptom complex. Gejalanya bisa berupa pusing ringan, berkeringat, atau rasa kencang di sekitar leher dan wajah. Namun, gejala ini umumnya bersifat sementara dan hilang dengan sendirinya.

4. Apakah MSG sama dengan garam dapur?

Tidak. Meskipun keduanya mengandung natrium (sodium), komposisinya berbeda. Garam dapur adalah Natrium Klorida (NaCl) dengan kandungan natrium sekitar 39%. Sementara MSG adalah paduan natrium dan asam glutamat, dengan kandungan natrium yang lebih rendah, yakni sekitar 12%. Penggunaan MSG justru bisa menjadi strategi untuk mengurangi asupan garam secara keseluruhan tanpa mengorbankan rasa gurih pada masakan.