Ad Placeholder Image

Waspada, Kenali Bahan Pengawet Makanan yang Berbahaya

4 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 17 Juni 2026

“Bahan pengawet adalah salah satu komponen penting untuk membuat suatu produk bertahan lebih lama untuk konsumsi. Namun, ada beberapa jenis pengawet yang berbahaya untuk dikonsumsi.”

Waspada, Kenali Bahan Pengawet Makanan yang BerbahayaWaspada, Kenali Bahan Pengawet Makanan yang Berbahaya

DAFTAR ISI


Dalam industri pangan modern, penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) seperti pengawet seolah menjadi hal yang sulit dihindari. Pengawet bertujuan untuk memperpanjang masa simpan produk, mencegah pertumbuhan mikroorganisme, dan menjaga kualitas nutrisi agar tidak cepat rusak. Namun, tidak semua bahan pengawet aman untuk dikonsumsi, terutama jika digunakan secara berlebihan atau menggunakan bahan non-pangan.

Bahaya pengawet makanan sintetis sering kali tidak terlihat secara instan. Dampaknya cenderung bersifat akumulatif, di mana zat kimia yang masuk ke dalam tubuh sedikit demi sedikit dapat memicu gangguan kesehatan di masa depan. Di Indonesia, masih ditemukan penyalahgunaan bahan kimia berbahaya seperti formalin dan boraks yang seharusnya digunakan untuk keperluan industri, bukan untuk dikonsumsi manusia.

Penting bagi kamu untuk menjadi konsumen yang cerdas dengan memperhatikan label kemasan dan memahami efek samping dari zat kimia tertentu. Jika kamu sering merasa pusing, mual, atau mengalami gangguan pencernaan setelah mengonsumsi makanan kemasan tertentu, ada baiknya segera melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.

Nah, mau tahu apa saja bahaya pengawet makanan dan bagaimana cara memproteksi diri? Berikut ulasannya!

Mengenal Bahaya Pengawet Makanan bagi Tubuh

Pengawet makanan dibagi menjadi dua kategori besar: alami dan sintetis. Pengawet alami seperti garam, gula, dan cuka umumnya aman jika dikonsumsi dalam batas wajar. Masalah muncul ketika pengawet sintetis atau bahan kimia berbahaya masuk ke dalam rantai makanan harian kamu.

Paparan bahan pengawet kimia yang berlebihan dapat mengganggu fungsi organ vital, terutama hati dan ginjal yang bekerja keras untuk menyaring racun dari dalam tubuh. Selain itu, beberapa jenis pengawet sintetis diketahui dapat memicu reaksi alergi yang parah, gangguan saraf, hingga risiko karsinogenik (pemicu kanker).

Jenis Pengawet Makanan yang Harus Diwaspadai

Beberapa bahan pengawet telah dilarang oleh Badan POM namun terkadang masih disalahgunakan oleh oknum tidak bertanggung jawab. Berikut adalah beberapa yang paling berbahaya:

1. Formalin (Formaldehida)

Formalin adalah larutan tidak berwarna yang biasanya digunakan sebagai pengawet mayat atau disinfektan industri. Jika masuk ke dalam tubuh melalui makanan, formalin dapat menyebabkan iritasi lambung parah, muntah darah, diare, dan dalam jangka panjang memicu kanker paru serta gangguan hati.

2. Boraks (Natrium Tetraborat)

Sering ditemukan pada bakso, mie basah, atau kerupuk untuk memberikan tekstur kenyal. Boraks bersifat toksik bagi semua sel tubuh. Konsumsi boraks secara terus-menerus dapat menyebabkan demam, kerusakan ginjal, hingga koma.

3. Natrium Benzoat dalam Dosis Tinggi

Meskipun diizinkan dalam batas tertentu, natrium benzoat jika bereaksi dengan vitamin C dapat membentuk benzena, zat kimia yang bersifat karsinogenik. Ini sering ditemukan pada minuman ringan berkarbonasi.

Cara Mendeteksi Makanan Berpengawet Berbahaya
  1. Cermati tekstur: Makanan seperti bakso atau mie yang sangat kenyal dan tidak hancur meski ditekan keras patut dicurigai mengandung boraks.
  2. Daya tahan tidak wajar: Jika makanan segar tetap awet lebih dari 2-3 hari di suhu ruang tanpa membusuk, ada kemungkinan mengandung formalin.
  3. Bau kimia: Makanan yang mengandung formalin terkadang mengeluarkan aroma obat yang tajam atau menyengat.

Dampak Jangka Panjang Konsumsi Pengawet Sintetis

Konsumsi rutin makanan yang mengandung pengawet sintetis berkaitan erat dengan berbagai masalah kesehatan kronis. Salah satu yang paling sering diteliti adalah pengaruhnya terhadap hiperaktivitas pada anak-anak (ADHD). Beberapa pewarna dan pengawet makanan tertentu dapat mempengaruhi sistem saraf pusat anak yang sedang berkembang.

Selain itu, gangguan metabolisme juga menjadi risiko nyata. Zat kimia asing (xenobiotik) dalam pengawet dapat mengganggu keseimbangan hormon dan mikrobiota usus, yang pada akhirnya menurunkan sistem kekebalan tubuh. Untuk menjaga daya tahan tubuh dari paparan radikal bebas dan zat kimia, kamu bisa beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah, termasuk suplemen antioksidan yang dibutuhkan tubuh.

Tips Memilih Makanan Tanpa Pengawet Berbahaya

Mengurangi paparan pengawet dapat dimulai dari perubahan kebiasaan belanja dan memasak di rumah:

1. Pilih Whole Foods

Utamakan bahan makanan utuh seperti buah, sayur, daging segar, dan biji-bijian yang belum diproses. Semakin pendek rantai distribusi makanan, semakin sedikit pengawet yang dibutuhkan.

2. Baca Label Komposisi (Ingredients List)

Biasakan membaca label di belakang kemasan. Hindari produk yang memiliki daftar bahan kimia panjang yang sulit diucapkan. Cari keterangan “Tanpa Pengawet Sintetis”.

3. Gunakan Pengawet Alami di Rumah

Jika kamu ingin menyimpan makanan lebih lama secara mandiri, gunakan metode alami seperti pembekuan (freezing), pengeringan, atau penggunaan bahan alami seperti kunyit dan garam.

Studi Mengenai Bahaya Pengawet Makanan

Journal of Environmental and Public Health menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa paparan kronis terhadap bahan tambahan pangan sintetis berkontribusi pada peningkatan stres oksidatif dalam sel manusia.

Studi ini menyoroti bahwa akumulasi zat pengawet dalam jangka panjang dapat merusak struktur DNA dan meningkatkan risiko penyakit degeneratif. Peneliti menyarankan pengurangan konsumsi makanan olahan (ultra-processed foods) untuk meminimalisir risiko kesehatan tersebut.

Jika kamu atau keluarga mengalami gejala keracunan makanan atau keluhan kesehatan setelah mengonsumsi produk tertentu, jangan menunda untuk mencari bantuan medis profesional. Pencegahan dini selalu lebih baik daripada mengobati dampak yang sudah parah.

Kamu bisa mendapatkan kebutuhan vitamin atau obat-obatan pendukung di atas dengan praktis dan cepat di Toko Kesehatan Halodoc. Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan yang sedang dialami melalui aplikasi Halodoc kapan saja dibutuhkan.

Referensi:
World Health Organization. Diakses pada 2026. Food Safety: Food Additives.
BPOM RI. Diakses pada 2026. Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan tentang Bahan Tambahan Pangan Pengawet.
Harvard Health Publishing. Diakses pada 2026. Common Food Additives and Your Health.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Nutrition and Healthy Eating: Artificial Preservatives.

FAQ

1. Apakah semua pengawet makanan itu berbahaya?

Tidak. Pengawet alami seperti garam dan cuka, serta pengawet sintetis yang telah disetujui BPOM dalam batas aman, umumnya tidak berbahaya. Bahaya muncul pada penggunaan bahan non-pangan atau dosis yang berlebihan.

2. Apa tanda-tanda tubuh terlalu banyak mengonsumsi pengawet?

Gejala umum meliputi sering sakit kepala, gangguan pencernaan kronis, reaksi alergi kulit, hingga rasa lemas yang tidak diketahui penyebabnya akibat beban kerja hati yang berat.

3. Bagaimana cara menghilangkan pengawet pada bahan makanan?

Mencuci sayuran dan buah dengan air mengalir atau merendamnya sebentar dapat mengurangi sisa pestisida dan beberapa pengawet luar, namun pengawet yang sudah tercampur di dalam makanan olahan tidak bisa dihilangkan.

4. Apakah makanan beku selalu mengandung pengawet?

Tidak selalu. Proses pembekuan sendiri merupakan salah satu metode pengawetan alami. Banyak sayuran atau daging beku yang tidak menggunakan tambahan zat kimia karena suhu rendah sudah cukup untuk menghambat kuman.


## Punya Keluhan Kesehatan akibat Pola Makan? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya keluhan kesehatan, tapi bingung mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya [HILDA](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn)!

HILDA adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.