• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Waspada Kusta Akibat Infeksi Bakteri di Saraf

Waspada Kusta Akibat Infeksi Bakteri di Saraf

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia

Halodoc, Jakarta – Pernahkah kamu mendengar tentang penyakit kusta atau yang dikenal juga dengan lepra? Kusta menjadi salah satu penyakit yang disebabkan adanya infeksi bakteri yang menyerang bagian kulit, saraf, hingga saluran pernapasan. Gejala awalnya adalah mati rasa pada beberapa bagian tubuh yang disertai munculnya luka atau lesi pada tubuh.

Baca juga: Tidak Bisa Sembuh, Kusta Jadi Penyakit Mematikan?

Kusta perlu penanganan yang tepat dan cepat. Berbagai komplikasi dapat terjadi akibat kondisi yang tidak diatasi dengan baik, seperti kerusakan pada bagian wajah, cacat permanen pada beberapa bagian tubuh, gagal ginjal, hingga glaukoma. Sebaiknya waspada terhadap kondisi ini dengan melakukan berbagai pencegahan penularan. Ini ulasannya.

Waspada, Ini Gejala Kusta

Penyakit kusta disebabkan oleh paparan bakteri yang berkembang lambat, dikenal dengan Mycobacterium Leprae. Penyakit kusta memiliki waktu inkubasi yang sangat lambat. Penyakit ini membutuhkan waktu 3-5 tahun setelah seseorang terpapar bakteri untuk mengenali gejala kusta. Beberapa pengidap membutuhkan waktu 20 tahun sampai akhirnya muncul gejala kusta. Ada beberapa gejala yang mungkin dialami pengidap kusta, seperti :

  1. Mati rasa yang terjadi pada beberapa bagian kulit. Kondisi ini menyebabkan kulit tidak dapat merasakan suhu, tekanan, sentuhan, hingga rasa sakit.

  2. Pengidap kusta juga memiliki lesi yang berwarna keputihan dan lama kelamaan akan terlihat menebal. 

  3. Kerontokan rambut pada alis dan juga bulu mata.

  4. Mata akan terasa lebih kering dan jarang berkedip.

  5. Pengidap kusta juga lebih sering mimisan atau mengalami hidung tersumbat.

Lalu, bagaimana jika bakteri penyebab kusta menyerang bagian saraf? Melansir Web MD, pengidap kusta bisa mengalami pelemahan otot, umumnya terjadi pada bagian otot kaki dan tangan. Selain itu, pengidap kusta memiliki luka pada beberapa bagian tubuh namun pengidap kusta tidak merasakan apa pun terhadap luka yang muncul.

Hal ini bisa memicu hilangnya jari tangan maupun jari kaki. Selain itu, pembesaran saraf yang biasanya terjadi pada area siku dan lutut. Sebaiknya segera lakukan pemeriksaan sejak dini pada rumah sakit terdekat ketika mengalami beberapa gejala tersebut. Atau kamu bisa bertanya lebih lanjut tentang penyakit kusta dengan dokter melalui aplikasi Halodoc.

Baca juga: Deteksi Kusta Sejak Dini Bisa Cegah Kecacatan

Ketahui Pengobatan Kusta

Melansir dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penyakit kusta menjadi salah satu penyakit yang menular. Hingga saat ini, penyebaran penyakit kusta belum diketahui secara pasti. Namun, kontak langsung antara pengidap dan seseorang yang sehat dipercaya menjadi salah satu cara penularan penyakit kusta.

Belum ditemukan cara pencegahan kusta melalui vaksin. Namun, kenali gejala dan lakukan pemeriksaan sejak dini dapat membuat kondisi ini lebih mudah untuk diatasi dan mencegah penularan lebih luas lagi. Melansir Centers for Disease Control and Prevention, penyakit kusta bisa diatasi dengan pengonsumsian obat antibiotik. Obat antibiotik membantu untuk membunuh bakteri yang menjadi penyebab penyakit kusta. 

Tentunya, gejala dan risiko komplikasi semakin menurun jika kamu mengikuti anjuran dokter dalam menjalankan pengobatan. Melansir dari National Organization for Rare Disorders, apabila kusta sudah menyerang bagian saraf, maka penggunaan sepatu khusus atau sarung tangan khusus membantu bagi pengidap yang kehilangan sensasi atas beberapa bagian tubuh. 

Baca juga: Tidak Hanya Kulit, Mata Juga Dapat Terserang Kusta

Tindakan operasi juga dapat dilakukan untuk mengatasi penyakit kusta yang menyebabkan kerusakan pada bagian mata atau kelainan pada tangan maupun kaki. Tindakan ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup pengidap kusta.

Referensi:
National Organization for Rare Disorders. Diakses pada 2020. Leprosy
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2020. Hansen’s Disease (Leprosy)
World Health Organization. Diakses pada 2020. Leprosy
Web MD. Diakses pada 2020. Leprosy