• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Waspada Shopaholic, Gangguan Mental atau Sekadar Hobi?
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Waspada Shopaholic, Gangguan Mental atau Sekadar Hobi?

Waspada Shopaholic, Gangguan Mental atau Sekadar Hobi?

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 19 Oktober 2022

“Shopaholic bisa dianggap sebagai gangguan belanja kompulsif karena pengidapnya tidak bisa menahan dorongan yang kuat untuk berbelanja. Gangguan tersebut bisa berkaitan dengan kondisi mental lainnya, ataupun merupakan cara untuk mengatasi perasaan yang sebenarnya dialami.”

Waspada Shopaholic, Gangguan Mental atau Sekadar Hobi?Waspada Shopaholic, Gangguan Mental atau Sekadar Hobi?

Halodoc, Jakarta – Belanja merupakan kegiatan menyenangkan yang disukai banyak orang, terutama wanita. Suka berbelanja sebenarnya tidak masalah, malah hal itu bisa menjadi cara untuk melepaskan stres. Namun, hati-hati bila kamu memiliki kecanduan berbelanja atau shopaholic, karena hal itu dianggap sebagai gangguan mental yang merusak.

Berbeda dengan kebanyakan orang pada umumnya yang hobi berbelanja, seorang shopaholic bisa tetap berbelanja meskipun mereka sebenarnya tidak membutuhkan barang tersebut. Dan hal itu bukan karena mereka memiliki banyak uang. Sebaliknya, mereka akan terus membeli barang-barang bahkan meskipun hutang kartu kredit mereka sudah melambung tinggi. 

Simak lebih lanjut mengenai gangguan mental shopaholic di sini.

Bukan Sekadar Hobi, Mengarah ke Gangguan Mental

Shopaholic atau oniomania bisa dianggap sebagai bagian dari gangguan kontrol impuls atau gangguan obsesif-kompulsif. Hal itu karena orang yang memiliki kecanduan tersebut memiliki kontrol impuls yang buruk dengan berbelanja. 

Mereka sering merasakan adanya dorongan yang kuat untuk berbelanja dan tidak bisa mengendalikannya. Shopaholic sering disebut juga gangguan belanja kompulsif atau compulsive buying disorder (CBD).

Seperti kecanduan lainnya, pembeli kompulsif ini akan mengalami euforia sesaat ketika berbelanja. Endorfin dilepaskan dalam tubuh mereka dan ada adrenalin. Itulah mengapa belanja terasa begitu mengasyikan bagi mereka. 

Namun, berbeda dari kecanduan bermain game atau berjudi yang digolongkan sebagai gangguan karena perilaku adiktif. Menurut Dr Astrid Müller, dari Hannover Medical School, Jerman, berpendapat bahwa shopaholic semestinya dianggap sebagai kondisi kesehatan mental yang terpisah. 

Menurut para ahli, compulsive buying disorder dikaitkan dengan komorbiditas psikiatri yang signifikan. Maksudnya, gangguan ini kadang-kadang terjadi pada seseorang yang mengidap kondisi mental tertentu. Misalnya, bila seseorang memiliki kecemasan, depresi, atau gangguan bipolar, atau kondisi komorbiditas lainnya yang ada, CBD muncul bersamaan dengan hal itu.

Karena bisa membuat perasaan menjadi lebih baik, seorang shopaholic juga sering kali berbelanja untuk melawan perasaan depresi, marah, atau kesepian. Kecanduan berbelanja juga bisa disebabkan oleh harga diri yang rendah. Misalnya, seorang wanita yang tidak percaya diri dengan penampilannya, mungkin akan secara kompulsif membeli pakaian atau perhiasan yang modis untuk merasa lebih cantik.

Namun, segera setelah berbelanja, ada perasaan bersalah, malu atau kecewa yang meliputi diri mereka. Meski begitu, orang yang memiliki kecanduan belanja ingin merasakan lagi kenaikan adrenalin atau perasaan senang yang timbul saat berbelanja. Siklus itu terus berputar, sehingga secara dramatis bisa membawa mereka dalam jurang tekanan mental, keuangan, emosional, pernikahan dan keluarga yang signifikan.

Dalam sebuah penelitian kecil berjudul Compulsive buying: Descriptive characteristics and psychiatric comorbidity, Gary A. Christenson, MD, seorang psikiater di Minneapolis, Amerika Serikat, dan rekan-rekannya menemukan bahwa gangguan belanja kompulsif terjadi secara episodik, dari setiap beberapa hari hingga sekali seminggu, dan dorongan tersebut biasanya berlangsung selama satu jam. 

Hampir semua pengidap melaporkan mengalami pengurangan stres atau kepuasan setelah berbelanja, tapi diikuti oleh perasaan bersalah, marah, sedih atau masa bodoh. Dan lebih dari separuh pembeli kompulsif melaporkan bahwa mereka bahkan mengembalikan lagi barang-barang yang mereka beli, atau berusaha untuk membuang barang tersebut dengan berbagai cara.

Cara Mengobati Gangguan Mental Shopaholic

Bila kamu memiliki kecanduan belanja atau shopaholic, ada baiknya cari bantuan profesional untuk mengatasinya. Namun, salah satu masalah utama dalam mengobati oniomania adalah berbeda dari kecanduan makan, alkohol atau rokok. Ketiga kecanduan tersebut bisa dihentikan secara perlahan, tapi kecanduan berbelanja mungkin tidak semudah itu. 

Itulah mengapa intervensi psikologis dari ahli kesehatan mental biasanya diperlukan. Melalui terapi perilaku, pengidap bisa mencari tahu apa akar penyebab di balik kebutuhan konstan untuk berbelanja. Terapi ini juga mempelajari cara menghentikan gangguan kompulsif tersebut secara efektif, dan tidak mengganti kebiasaan tersebut dengan kebiasaan kompulsif lainnya.

Nah, kamu bisa berobat ke ahlinya dengan dengan buat janji medis di rumah sakit pilihan melalui aplikasi Halodoc. Yuk, download Halodoc sekarang juga di Apps Store dan Google Play.

Referensi:
Psychology Today. Diakses pada 2022. The Shopaholic.
Times of India. Diakses pada 2022. More than a hobby: Shopping addiction can be a disorder.
Yahoo Life. Diakses pada 2022. Being a shopaholic ‘should be considered a mental illness’