• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Waspadai Keracunan Timbal pada Anak

Waspadai Keracunan Timbal pada Anak

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Berbicara kasus keracunan pada anak, umumnya pikiran langsung tertuju pada keracunan makanan. Namun, bagaimana dengan keracunan timbal? Masih asing dengan kasus ini? 

Bagi ibu yang memiliki anak kecil, rasanya mesti awas dengan keracunan timbal. Keracunan ini merupakan kondisi ketika seseorang mengalami pengendapan timbal di dalam tubuh. Lantas, apa sih timbal itu? Timbal merupakan logam berat beracun yang terdapat di lingkungan.

Jangan main-main dengan logam ini, sedikit saja timbal masuk ke dalam tubuh anak atau janin, maka bisa menyebabkan kerusakan serius. Hal yang mesti diingat, tubuh anak-anak yang masih dalam tahap pertumbuhan bisa menyerap logam ini dengan mudah. Alhasil, lebih berisiko untuk efek yang berbahaya. 

Nah, berikut beberapa hal yang mesti ibu ketahui mengenai keracunan timbal pada anak. 

Baca juga: Mulai Green Living Agar Terhindar dari Keracunan Timbal

Dari Anemia hingga Gangguan Otak

Timbal bisa masuk ke dalam tubuh anak lewat beragam cara. Anak bisa terpapar timbal melalui udara (terhirup lewat udara), makanan atau minuman yang dikonsumsi, ataupun kontak kulit. Awas, logam berat seperti timbal menciptakan radikal reaktif yang merusak struktur sel, termasuk DNA dan membran sel.

Tak cuma itu saja, keracunan timbal juga bisa mengganggu enzim yang membantu dalam sintesis vitamin D, dan enzim yang menjaga keutuhan membran sel. Nah, terganggunya keutuhan membran dan sel darah merah rusak menjadi lebih rapuh, sehingga menyebabkan terjadinya anemia. 

Keracunan timbal juga bisa memicu masalah pada otak. Misalnya, menyebabkan hilangnya selubung saraf, pengurangan jumlah saraf, mengganggu transmisi, dan pertumbuhan saraf. 

Di samping itu, keracunan timbal bagi otak juga bisa mengganggu pelepasan neurotransmiter, yaitu bahan kimia yang digunakan oleh saraf untuk mengirim sinyal ke sel lain. Nah, gangguan inilah yang nantinya bisa menyebabkan gangguan komunikasi antar sel. Timbal biasanya mengganggu neurotransmitter glutamat yang penting untuk banyak fungsi seperti belajar, contohnya. 

Nah, oleh sebab itu, ibu mesti awas dengan logam beracun ini. Pasalnya, timbal mudah ditemukan di sekitar kita. Misalnya, dalam mainan anak-anak, tanah, makanan kaleng, keramik, hingga debu pada peralatan rumah tangga. 

Baca juga: Pengendapan Timbal dalam Tubuh Sebabkan Efek Samping Ini

Gejala yang Bervariasi

Ketika seseorang mengalami keracunan timbal, maka dirinya bisa mengalami beragam gejala. Namun, gejala ini bergantung dengan  jenis timbal, kadar timbal, dan faktor lain dalam individu yang belum diketahui. Lalu, seperti apa sih gejala keracunan timbal? 

Sebut saja gangguan perilaku, kesulitan dalam berkonsentrasi, gangguan gerak, sakit kepala, anemia, dan nyeri kolik perut. Akan tetapi, keracunan kadar timbal yang tinggi lain lagi gejalanya. Bisa menyebabkan ensefalopati (kondisi ditandai dengan pembengkakan otak), peningkatan tekanan di dalam tengkorak, delirium (gangguan mental yang ditandai oleh halusinasi), koma, kejang, dan sakit kepala.

Tanda dan gejala paparan timbal dalam waktu yang lama termasuk kehilangan memori jangka pendek, depresi, mual, sakit perut, kehilangan koordinasi, mati rasa, kesemutan di kaki dan tangan, kelelahan, masalah tidur, sakit kepala, pingsan, dan bicara cadel. 

Keracunan timbal pada bumil lain lagi ceritanya. Bumil dengan kadar timbal darah tinggi berisiko melahirkan bayi prematur atau bayi dengan berat lahir rendah (BBLR).  Bayi dan anak-anak sangat sensitif terhadap tingkat timbal yang dapat mengakibatkan masalah perilaku, sulit  belajar, dan menurunkan IQ.

Lalu, bagaimana dengan gejala keracunan timbal yang umumnya dialami oleh anak-anak? 

  • Muntah.

  • Nyeri perut dan kram.

  • Mudah lesu akibat anemia.

  • Nafsu makan menurun.

  • Berat badan berkurang.

  • Kejang.

  • Gangguan perkembangan.

  • Gangguan saraf.

  • Gangguan atau kerusakan otak.

  • Merasa gelisah.

  • Hilangnya kemampuan mendengar.

  • Konstipasi. 

Tuh, sungguh mengkhawatirkan bukan gejalanya? 

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung kepada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa kapan dan di mana saja mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Diseases and Conditions. Lead Poisoning.
Web MD. Diakses pada 2019. What Is Lead Poisoning?