Advertisement

Waspadai, Myasthenia Gravis Dapat Sebabkan Kelumpuhan Wajah

4 menit
Ditinjau oleh  dr. Rizal Fadli   08 Juni 2023

“Myasthenia gravis dapat menyebabkan kelumpuhan wajah yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk berkomunikasi dan mengekspresikan emosi, serta kemampuan mengunyah dan menelan makanan dengan baik.”

Waspadai, Myasthenia Gravis Dapat Sebabkan Kelumpuhan WajahWaspadai, Myasthenia Gravis Dapat Sebabkan Kelumpuhan Wajah

Halodoc, Jakarta – Myasthenia gravis adalah suatu kondisi di mana terjadi gangguan komunikasi antara saraf dan otot. Kondisi ini menyebabkan kelemahan pada beberapa otot tubuh, terutama di area wajah yang mengendalikan pergerakan bola mata, ekspresi wajah, proses mengunyah, menelan, dan berbicara.

Kelemahan otot yang terjadi karena kondisi ini biasanya memburuk setelah melakukan aktivitas fisik dan dapat membaik ketika otot-otot tubuh istirahat. 

Gejalanya biasanya muncul pada malam hari ketika tubuh mulai merasa lelah. Pada kasus yang parah, kondisi ini dapat menyebabkan kelumpuhan pada wajah.

Apa Penyebab Myasthenia Gravis?

Penyebab pasti dari kondisi ini belum diketahui dengan pasti. Namun, kondisi ini berkaitan dengan gangguan pada sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan produksi antibodi yang menyerang reseptor asetilkolin pada otot. Reseptor asetilkolin berperan penting dalam transmisi sinyal saraf-otot, yang memungkinkan otot untuk berkontraksi. 

Pada myasthenia gravis, antibodi yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh menghambat atau menghancurkan reseptor asetilkolin. Akibatnya komunikasi antara saraf dan otot menjadi terganggu sehingga, otot menjadi melemah dan tidak dapat berfungsi dengan baik.

Apa Saja Faktor Risiko Myasthenia Gravis? 

Meskipun penyebab pasti masih belum ada, faktor-faktor berikut dapat berperan dalam perkembangan kondisi ini:

  • Faktor genetik. Beberapa individu memiliki riwayat keluarga dengan kondisi ini, menunjukkan adanya faktor genetik yang mempengaruhi kemungkinan terkena penyakit ini.
  • Faktor lingkungan. Beberapa faktor lingkungan seperti infeksi virus atau bakteri tertentu berkaitan dengan onset atau eksaserbasi myasthenia gravis.
  • Gangguan autoimun. Kondisi ini termasuk dalam kategori penyakit autoimun, ketika sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang jaringan tubuh sendiri. Dalam kasus ini, sistem kekebalan tubuh menyerang reseptor asetilkolin pada otot.

Baca lebih lanjut mengenai siapa saja kelompok yang rentan terkena kondisi ini pada: Inilah Kelompok yang Berisiko Mengalami Myasthenia Gravis

Mengenal Gejala Myasthenia Gravis

Kondisi ini rentan terjadi pada wanita berusia di bawah 40 tahun dan pria di atas 60 tahun. Gejalanya cenderung hilang dan timbul secara bergantian, tergantung pada aktivitas pengidapnya.

Namun semakin lama, penyakit ini berpotensi mencapai puncaknya beberapa tahun setelah gejala awal muncul. Lantas, ini gejala umum dari kondisi ini, yaitu:

  • Salah satu atau kedua kelopak mata pengidap turun dan susah dibuka.
  • Gangguan penglihatan, berupa pandangan ganda atau kabur.
  • Ekspresi wajah terbatas, misalnya sulit tersenyum.
  • Perubahan kualitas suara, menjadi sengau atau lebih pelan.
  • Sulit menelan (disfagia), membuat pengidap mudah tersedak.
  • Susah bernapas, terutama saat beraktivitas atau berbaring.
  • Otot tangan, kaki, dan leher melemah sehingga mengganggu aktivitas.

Gejala tersebut muncul karena adanya gangguan penghantaran sinyal saraf menuju otot. Gangguan ini dapat terjadi akibat kondisi autoimun yang memengaruhi hantaran sinyal saraf dan kelenjar timus.

Apakah Myasthenia Gravis Penyakit Keturunan?

Myasthenia gravis tidak selalu merupakan penyakit keturunan, tetapi ada faktor genetik yang dapat mempengaruhi kemungkinan seseorang mengembangkan kondisi ini.

Dalam beberapa kasus, terdapat riwayat keluarga dengan kondisi tersebut, yang menunjukkan adanya faktor genetik yang dapat meningkatkan risiko terkena penyakit ini.

Meskipun ada faktor genetik yang terlibat, penyebab pasti dari kondisi ini belum sepenuhnya dipahami. Selain faktor genetik, terdapat juga faktor lingkungan dan autoimun yang berperan dalam perkembangan penyakit ini.

Penting untuk diingat bahwa tidak semua orang dengan riwayat keluarga yang memiliki myasthenia gravis akan mengembangkan penyakit ini, dan sebaliknya, seseorang tanpa riwayat keluarga bisa saja terkena kondisi ini.

Apa Saja Pilihan Pengobatan Myasthenia Gravis?

Pengobatan kondisi ini tidak bisa sembuh total. Namun, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengendalikan gejala yang muncul. Pengobatan menyesuaikan usia pengidap, tingkat keparahan kondisi, dan penyakit lain yang pengidapnya miliki. 

Langkah pengobatan kondisi ini terdiri dari tiga kategori, yakni: 

1. Penggunaan Obat

Jenis obat-obatnya meliputi penghambat kolinesterase, imunosupresan, dan kortikosteroid. Tiap obat berpotensi menimbulkan efek samping, sehingga bicarakan terlebih dulu dengan dokter sebelum mengonsumsinya. 

2. Terapi 

Jenis terapi yang bisa menjadi pilihan meliputi plasmaferesis dan terapi imunoglobulin. Terapi ini hanya dilakukan dalam jangka pendek. 

Baca lebih lanjut mengenai pengobatan myasthenia gravis pada: Ini 6 Pilihan Pengobatan untuk Mengatasi Myasthenia Gravis

3. Operasi

Pada kasus tertentu, pengidap kondisi ini memerlukan operasi pengangkatan kelenjar timus bernama timektomi. Timus berperan penting dalam perkembangan dan fungsi sistem kekebalan tubuh. 

Pada beberapa kasus myasthenia gravis, timus dapat menjadi sumber produksi antibodi yang menyerang reseptor asetilkolin, yang menyebabkan gejala kondisi ini. 

Itulah fakta myasthenia gravis yang perlu kamu ketahui dan waspadai. Kalau kamu mengalami gejalanya, segera periksakan kondisi kesehatan ke dokter spesialis saraf. Penanganan sedari awal tentunya dapat meminimalkan risiko komplikasi fatal. 

Referensi: 
Mayo Clinic. Diakses pada 2023. Myasthenia gravis.
National Institute of Neurological Disorders and Stroke. Diakses pada 2023. Myasthenia Gravis.
VeryWell Health. Diakses pada 2023. Facial Paralysis: Causes, Symptoms, and Treatment
Cleveland Clinic. Diakses pada 2023. Myasthenia Gravis (MG).