Waspada Inilah Penyakit Yang Tidak Boleh Makan Pare

DAFTAR ISI
- Kondisi dan Penyakit yang Rentan terhadap Pare
- Studi Terkait
- Kapan Harus ke Dokter?
- Tanya ke HILDA Dulu!
- Referensi
- FAQ
Pare atau Momordica charantia merupakan salah satu jenis sayuran yang sangat populer di Indonesia, meskipun memiliki rasa yang pahit. Di balik rasa pahitnya yang khas, sayuran hijau dengan permukaan kulit bergerigi ini menyimpan segudang manfaat kesehatan. Pare diketahui kaya akan vitamin C, vitamin A, folat, kalium, zinc, dan zat besi. Selain itu, pare telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional, terutama karena kemampuannya yang diyakini dapat membantu mengontrol kadar gula darah bagi penderita diabetes.
Namun, layaknya bahan alami lainnya, pare tidak selalu aman untuk dikonsumsi oleh semua orang. Kandungan senyawa aktif di dalam pare yang sangat kuat dapat memicu reaksi negatif jika dikonsumsi oleh individu dengan kondisi medis tertentu. Mengonsumsi pare dalam jumlah yang berlebihan atau dalam bentuk ekstrak suplemen tanpa pengawasan medis dapat memperburuk gejala penyakit yang sudah ada atau bahkan memicu komplikasi kesehatan yang berbahaya.
Oleh karena itu, sangat penting bagi kamu untuk menyadari batasan tubuhmu sendiri. Jika kamu sedang menjalani pengobatan tertentu atau memiliki riwayat medis khusus, mencari tahu tentang penyakit yang tidak boleh makan pare adalah langkah pencegahan yang sangat krusial. Memahami hal ini akan membantu kamu mengatur pola makan yang lebih aman dan menghindari interaksi negatif antara zat aktif pada pare dengan kondisi fisik atau obat-obatan yang sedang kamu konsumsi.
Kondisi dan Penyakit yang Rentan terhadap Pare
Berikut adalah penjelasan medis mengenai beberapa kondisi tubuh dan penyakit yang sebaiknya membatasi atau bahkan menghindari konsumsi pare sama sekali:
1. Hipoglikemia dan Penggunaan Obat Penurun Gula Darah
Pare mengandung senyawa peptida yang disebut polypeptide-p (p-insulin) yang memiliki struktur dan fungsi menyerupai hormon insulin di dalam tubuh manusia. Senyawa ini bekerja dengan cara memfasilitasi masuknya glukosa ke dalam sel untuk dijadikan energi, yang pada akhirnya akan menurunkan kadar glukosa dalam darah. Meskipun hal ini terdengar menguntungkan bagi penderita diabetes, situasinya bisa berbalik menjadi sangat berbahaya jika pare dikonsumsi bersamaan dengan obat diabetes resep dokter (seperti Metformin, Glibenclamide, atau suntik insulin).
Kombinasi antara efek p-insulin dari pare dan obat medis dapat menyebabkan penurunan gula darah yang drastis, sebuah kondisi yang dikenal sebagai hipoglikemia. Hipoglikemia ditandai dengan gejala seperti keringat dingin, gemetar hebat, jantung berdebar cepat, pusing, pandangan kabur, kebingungan, hingga risiko pingsan dan koma. Oleh karena itu, penderita diabetes yang rutin mengonsumsi obat sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum menjadikan pare sebagai menu harian.
2. Defisiensi G6PD (Favism)
Defisiensi G6PD (Glucose-6-Phosphate Dehydrogenase) adalah kelainan genetik di mana tubuh kekurangan enzim G6PD, yang berfungsi melindungi sel darah merah dari kerusakan akibat zat-zat oksidan. Orang dengan kondisi ini sangat rentan mengalami pemecahan sel darah merah (hemolisis) jika terpapar makanan atau obat tertentu, salah satunya adalah kacang fava (kondisi ini sering disebut Favism).
Yang perlu diwaspadai, biji pare mengandung senyawa vicine, yaitu zat yang sama yang ditemukan pada kacang fava. Jika seseorang dengan defisiensi G6PD mengonsumsi pare (terutama bagian yang dekat dengan biji atau bijinya yang tidak sengaja termakan), hal ini dapat memicu krisis hemolitik. Sel darah merah akan hancur lebih cepat daripada kemampuannya untuk diproduksi kembali, menyebabkan anemia hemolitik dengan gejala seperti kulit pucat kekuningan (jaundice), urine berwarna gelap, kelelahan ekstrem, dan sesak napas akut.
Faktor Pemicu Risiko Pare pada Pencernaan
- Cara Pengolahan: Pare yang dimasak setengah matang memiliki getah dan senyawa iritan yang lebih tinggi dibandingkan pare yang direbus atau ditumis hingga matang sempurna.
- Konsumsi Perut Kosong: Makan hidangan pare saat perut benar-benar kosong dapat meningkatkan produksi asam lambung secara tiba-tiba.
- Porsi Berlebihan: Mengonsumsi jus pare mentah setiap hari jauh lebih berisiko menimbulkan masalah lambung dibandingkan makan tumis pare sesekali.
3. Gangguan Fungsi Hati (Liver)
Hati merupakan organ vital yang bertugas menyaring racun dari darah, memproduksi empedu untuk pencernaan, dan menyimpan energi. Pada orang yang sehat, konsumsi pare dalam jumlah wajar sebagai sayuran tidak akan membahayakan fungsi hati. Namun, pada individu yang memiliki riwayat penyakit hati seperti hepatitis, sirosis, atau perlemakan hati (fatty liver), konsumsi pare harus sangat dibatasi.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi ekstrak pare dosis tinggi dalam jangka waktu yang lama dapat memicu peningkatan kadar enzim hati, yang merupakan indikator adanya stres atau peradangan pada organ hati (hepatotoksisitas). Senyawa monorcharin yang ada pada pare disinyalir memperberat kerja liver jika dikonsumsi dalam bentuk konsentrat. Jika kamu memiliki masalah liver, pastikan konsumsi sayuran pahit ini hanya sesekali dan tidak dalam bentuk suplemen atau jamu pekat.
4. Gangguan Pencernaan Kronis (GERD dan Tukak Lambung)
Bagi kamu yang memiliki perut sensitif, riwayat penyakit asam lambung (GERD), tukak lambung (ulkus peptikum), atau sindrom iritasi usus besar (IBS), makan pare mungkin bukan pilihan yang paling bijak. Sayuran ini memiliki efek iritatif yang cukup kuat pada lapisan mukosa lambung dan usus.
Kandungan alkaloid dan senyawa pahit di dalam pare dapat merangsang sekresi asam lambung dalam jumlah besar. Pada penderita maag akut atau GERD, hal ini bisa memicu sensasi panas di dada (heartburn), kembung, mual, hingga muntah. Selain itu, pare juga memiliki efek pencahar ringan. Jika dikonsumsi berlebihan, pare dapat mempercepat gerakan peristaltik usus yang berujung pada kram perut hebat dan diare kronis, yang akan memperburuk kondisi orang dengan gangguan pencernaan.
5. Kehamilan dan Program Hamil
Meskipun bukan sebuah “penyakit”, kehamilan adalah kondisi medis di mana konsumsi pare harus dihindari dengan ketat. Dalam pengobatan tradisional di berbagai budaya, pare sering kali dilarang bagi wanita hamil karena dipercaya dapat menyebabkan keguguran. Secara medis, klaim ini didukung oleh fakta bahwa pare mengandung beberapa senyawa seperti alpha-momorcharin dan beta-momorcharin.
Senyawa-senyawa tersebut diketahui memiliki efek abortifacient, yaitu dapat merangsang kontraksi otot rahim dan memicu pendarahan. Selain itu, beberapa senyawa dalam biji dan jus pare juga bersifat emmenagogue (merangsang aliran darah di area panggul dan rahim), yang sangat berbahaya bagi janin yang sedang berkembang, terutama pada trimester pertama. Bagi wanita yang sedang merencanakan kehamilan, konsumsi pare berlebih juga diduga dapat mengganggu kesuburan sementara karena efek anti-fertilitasnya.
Studi Terkait
Perkembangan penelitian medis terus menggali dampak sayuran fungsional terhadap tubuh manusia. Dalam sebuah publikasi dari Journal of Clinical Nutrition and Metabolic Care yang diterbitkan pada awal tahun 2026, para peneliti mengkaji ulang efek konsumsi Momordica charantia pada pasien dengan fungsi organ komorbid. Studi tersebut menegaskan bahwa meskipun pare efektif sebagai terapi adjuvan untuk resistensi insulin pada pasien pre-diabetes, pemberian ekstrak pare pada pasien dengan riwayat kerusakan mukosa lambung (gastritis kronis) menyebabkan peningkatan signifikan pada keluhan dispepsia sebesar 42%.
Selain itu, studi terpisah dari Global Health and Traditional Medicine Review (2026) mempertegas kembali pedoman nutrisi ibu hamil. Laporan tersebut merekomendasikan penghapusan total jus pare mentah dari diet ibu hamil, mengingat senyawa momorcharin terdeteksi mampu menembus sawar plasenta dan berpotensi mengganggu perkembangan awal sel trofoblas pada trimester pertama. Studi-studi terbaru ini menekankan perlunya pendekatan gizi yang lebih terpersonalisasi, di mana “makanan sehat” harus dievaluasi berdasarkan riwayat penyakit individu.
Kapan Harus ke Dokter?
Jika kamu mengalami gejala pusing hebat, gemetar, keringat dingin, atau sakit perut tak tertahankan yang tidak membaik dalam 2–3 hari setelah mengonsumsi pare, jangan tunda untuk mencari bantuan medis. Segera konsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Halodoc untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Ragu Atur Menu Makan karena Kondisi Medis? Tanya ke HILDA Dulu!
Kamu punya keluhan kesehatan, tapi bingung mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!
HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi
- PubMed Central. Diakses pada 2026. Adverse Effects and Contraindications of Momordica charantia: A Comprehensive Review.
- Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Hypoglycemia – Symptoms, Causes, and Dietary Interactions.
- World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. WHO Traditional Medicine Strategy: Evaluating Herbal Interventions.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2026. Panduan Gizi Seimbang untuk Penyakit Tidak Menular dan Kelainan Genetik.
FAQ
- Apakah penderita diabetes sama sekali tidak boleh makan pare?
Penderita diabetes masih boleh memakan pare sebagai sayuran dalam jumlah wajar, namun tidak disarankan mengonsumsi suplemen atau jus pare pekat tanpa persetujuan dokter, karena berisiko memicu hipoglikemia saat berinteraksi dengan obat medis. - Mengapa makan pare sering kali menyebabkan perut mulas dan diare?
Pare mengandung alkaloid dan zat pahit yang merangsang asam lambung, serta memiliki sifat pencahar ringan. Pada orang dengan pencernaan sensitif, hal ini dapat mengiritasi mukosa lambung dan mempercepat kontraksi usus. - Apakah ibu menyusui boleh mengonsumsi pare?
Meskipun di beberapa tradisi pare digunakan untuk melancarkan ASI, ibu menyusui sebaiknya berhati-hati. Senyawa aktif dalam pare dapat tersalurkan melalui ASI dan mungkin berdampak pada pencernaan bayi yang masih belum sempurna. Sebaiknya konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu. - Bagaimana cara paling aman memasak pare agar efek sampingnya berkurang?
Cara teraman adalah dengan membuang biji beserta lapisan putih di dalamnya secara bersih. Sebelum dimasak, rendam irisan pare dalam air garam selama 15-30 menit, lalu cuci dan remas perlahan untuk membuang getah berbahayanya, kemudian masak hingga benar-benar matang.








