Atelektasis Obstruktif dengan Non Obstruktif, Apa Bedanya?

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
Atelektasis Obstruktif dengan Non Obstruktif, Apa Bedanya?

Halodoc, Jakarta – Pernah mendengar kondisi atelektasis? Atelektasis merupakan kondisi ketika satu lobus atau sebagian paru-paru tidak mampu berfungsi dengan baik. Seseorang yang mengalami kondisi ini mengalami kantung udara pada paru-paru yang mengempis sehingga mengganggu pernapasan. 

Baca juga: Penyebab Terjadinya Atelektasis

Umumnya, kondisi atelektasis muncul sebagai komplikasi pernapasan yang terjadi setelah menjalani operasi. Kondisi ini bisa dialami oleh siapa saja. Tidak ada salahnya untuk selalu menjaga kesehatan sistem pernapasan agar kamu dapat terhindar dari kondisi ini.

Ketahui Perbedaan dari Dua Jenis Penyebab Atelektasis

Kondisi atelektasis dapat terjadi akibat penyumbatan saluran udara (obstruktif) dan tekanan dari luar paru-paru (non-obstruktif). Seseorang yang menjalani operasi sering mengalami atelektasis akibat proses anestesi yang dijalankan. Tidak ada salahnya untuk mengetahui perbedaan dari kedua jenis penyebab atelektasis, yaitu:

  • Atelektasis Obstruktif

Atelektasis jenis ini yang paling umum terjadi dan disebabkan karena saluran antara trakea dan alveoli terhambat sehingga gas karbon dioksida yang seharusnya terbuang malah terserap kembali oleh darah. Ada beberapa penyebab yang membuat seseorang alami atelektasis obstruktif, seperti sumbatan lendir yang menumpuk dan terakumulasi pada saluran pernapasan. Sumbatan lendir juga umum terjadi pada anak-anak yang memiliki kondisi asma. 

Benda asing juga meningkatkan faktor seseorang alami atelektasis obstruktif. Kondisi ini umumnya dialami oleh anak-anak yang masih memiliki rasa penasaran cukup tinggi sehingga lebih tinggi risiko benda asing masuk dalam tubuh hingga ke paru-paru. Faktor penyebab  atelektasis obstruktif lainnya adalah adanya penyakit tertentu yang membuat saluran pernapasan menjadi sempit. Selain itu, atelektasis obstruktif dapat terjadi akibat pertumbuhan tumor pada saluran pernapasan utama seseorang. 

Baca juga: Gejala Atelektasis yang Perlu Diwaspadai

  • Atelektasis Non Obstruktif

Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan seseorang alami atelektasis non obstruktif, seperti cedera yang mengakibatkan trauma dada. Kondisi efusi pleura juga sebabkan atelektasis non obstruktif karena penumpukan cairan antara jaringan pleura dan bagian dalam dinding dada. Pengidap pneumonia juga rentan alami atelektasis non obstruktif. Luka pada jaringan paru juga bisa sebabkan seseorang alami atelektasis non obstruktif. 

Selain kondisi tersebut, ketahui faktor yang meningkatkan seseorang alami atelektasis, seperti orang-orang yang memasuki usia lanjut dan mengalami gangguan dalam menelan makanan atau minuman, memiliki penyakit yang berhubungan dengan paru-paru, lahir secara prematur, menjalani operasi pada bagian perut dan mengalami kelemahan otot pernapasan.

Inilah Gejala Atelektasis

Umumnya, gejala yang disebabkan oleh atelektasis muncul secara perlahan. Ada beberapa kondisi yang memengaruhi munculnya gejala pada pengidap, seperti ukuran paru-paru yang mengalami atelektasis, adanya penyumbatan pada bronkus dan infeksi yang membuat atelektasis semakin parah.

Baca juga: Bayi lahir Prematur Rentan Terkena Atelektasis

Secara umum, ada beberapa gejala yang dialami oleh pengidap atelektasis, seperti kesulitan bernapas, batuk, napas yang lebih cepat dan pendek, mengalami tekanan darah rendah, demam, syok, meningkatkan denyut jantung, mengalami kebiruan pada ujung jari, kuku atau bibir karena berkurangnya pasokan oksigen.

Jangan ragu untuk melakukan pemeriksaan pada rumah sakit terdekat dengan melakukan foto rontgen dada, CT scan, dan bronkoskopi untuk mendiagnosis atelektasis. Kini kamu bisa membuat janji dengan dokter secara online melalui aplikasi Halodoc. Jadi, kamu tidak perlu mengantre lagi, ya!

Sebaiknya lakukan pengobatan untuk mengatasi kondisi ini. Atelektasis yang tidak segera diatasi dapat mengakibatkan komplikasi kesehatan, seperti hipoksemia, pneumonia, kegagalan pernapasan, dan bronkiektasis.

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2019. Atelectasis
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Atelectasis