08 August 2018

Awas, Ini Cedera yang Biasa Terjadi saat Bermain Bulutangkis

cedera bermain bulutangkis,bulutangkis,olahraga

Halodoc, Jakarta - Bermain bulutangkis memang menyenangkan dan menyehatkan. Namun, jika tak hati-hati bisa saja kamu mengalami cedera saat melakukannya. Jangan salah lho, atlet profesional yang sangat mumpuni pun kerap dilanda cedera ketika bertanding.

Contohnya, pasangan ganda campuran kebanggaan Indonesia yang meraih gelar Olimpiade Rio 2016, Tantowi Ahmad - Lilyana Natsir, pernah kok dirundung cedera. Cedera lutut itu tepatnya dialami Lilyana setelah meraih gelar bergengsi tersebut. Nah, lalu apa saja sih cedera yang sering terjadi dalam olahraga bulutangkis? Berikut cedera bermain bulutangkis menurut para ahli.

Baca juga: Hati-hati 5 Gerakan Ini Bisa Sebabkan Cedera Saat Olahraga

 

1. Cedera Bahu

 

Cedera bermain bulutangkis juga bisa menyerang bagian bahu. Contohnya, pasangan ganda putra kebanggaan Indonesia, yang kini menempati peringkat pertama dunia, Marcus Fernaldi Gideon dan Kevin Sanjaya Sukamuljo, pernah gagal di ajang BCA Indonesia Open Super Series Premier 2017. Kegagalan itu dipengaruhi karena kondisi Kevin yang tak prima akibat cedera bahu yang dialaminya. Untuk menyembuhkan cedera yang didapatinya saat menjalani latihan rutin, Kevin mesti melakukan perawatan dan mengonsumsi obat.

Kata ahli, cedera bahu dalam olahraga badminton sering kali disebabkan oleh tekanan yang terus berulang pada bagian bahu, terutama ketika melakukan smash kencang. Di bahu sendiri terdapat bagian yang bernama rotator cuff muscles (otot rotator manset), otot kecil yang terletak di sendi bahu. Nah, otot inilah yang kerap dilanda cedera karena banyaknya tekanan akibat memukul shuttlecock. Biasanya, cedera di bagian ini akan dimulai dengan peradangan yang disebabkan iritasi kecil, tapi terjadi terus-menerus. Kata ahli, cedera itu bisa semakin serius bila enggak ditangani dengan tepat.

Baca juga: Pentingnya Pemanasan dan Pendinginan dalam Olahraga

 

2. Keseleo/Sprain

 

Cedera yang satu ini amat umum di dunia olahraga. Mulai dari cabang olahraga sepak bola, basket, tenis, lari, hingga bulu tangkis tak luput dari bayang-bayang cedera sprain. Nah, bila pemain mengalami cedera ini, gejalanya akan gejalanya berupa bengkak dan nyeri pada pergelangan kaki. Selain itu, cedera ini juga bisa menimbulkan memar, membuat gerak kaki jadi terbatas, dan ketidakstabilan pada pergelangan kaki.

Melansir Mayo Clinic, cedera sprain yang tak ditangani dengan tepat bisa saja menimbulkan berbagai komplikasi. Misalnya, menyebabkan nyeri kronis pada pergelangan kaki, artritis sendi pergelangan kaki, dan ketidakstabilan kronis pada sendi pergelangan kaki. Oleh sebab itu, atlet profesional mesti dievaluasi oleh seorang ahli medis profesional untuk menentukan langkah penanganan yang tepat, mulai dari perawatan dan rehabilitasi.

 

3. Cedera Lutut

 

Lutut juga merupakan bagian tubuh yang kerap dilanda cedera dalam olahraga ini. Selain Lilyana Natsir, pasangan ganda putri Indonesia Ni Ketut Mahadewi dan Rosyita Eka Putri pernah gagal melakukan pertandingan kontra wakil Malaysia pada semifinal SEA Games 2017. Pasalnya, pasangan Indonesia itu mesti mundur karena Rosyita mengalami cedera pada lutut kaki kirinya.

Menurut rilis dari PBSI, cedera yang dialami Rosyita ketika laga baru dimulai itu cukup buruk. Cedera itu disebabkan karena wanita itu salah melakukan pendaratan ketika memukul shuttlecock. Kata ahli, cedera ini umum terjadi ketika pemain melompat dan posisi mendaratnya tidak pas, atau kurang sempurna.

Baca juga: 5 Cedera yang Sering Dialami Para Runner

Berkaitan dengan Usia

Menurut penelitian dari Department of Orthopaedic Surgery, University Hospitals of Aarhus, Denmark, selain otot kebanyakan cedera bermain bulutangkis terjadi pada bagian sendi dan ligamen. Menariknya, kategori cedera ini juga berkaitan dengan usia pemain.

Menurut ahli dalam studi itu, untuk cedera pada sendi dan ligamen umumnya sering dialami oleh pemain di bawah usia 30 tahun. Dalam kebanyakan kasus cedera ini disebabkan ketika pemain terjatuh atau tersandung ketika berusaha mengambil atau mengembalikan shuttlecock pada lawan. Sedangkan cedera otot, lain ceritanya. Cedera otot ini kebanyakan menyerang pemain yang berusia di atas 30 tahun.

Punya keluhan kesehatan akibat berolahraga? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter untuk mencari solusinya melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!