• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Bayi Susah BAB, Waspada Alami 4 Gangguan Kesehatan Ini

Bayi Susah BAB, Waspada Alami 4 Gangguan Kesehatan Ini

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta – Tak hanya orang dewasa, bayi juga bisa mengalami konstipasi atau susah BAB. Melansir dari Hopkins Medicine, konstipasi terjadi ketika feses mengeras atau mengering akibat usus besar menyerap terlalu banyak air. Normalnya, makanan yang dikonsumsi Si Kecil bergerak melalui usus besar. Lalu, usus besar menyerap air untuk membentuk feses. Gerakan otot (kontraksi) kemudian  mendorong feses ke arah anus untuk dikeluarkan. 

Ketika Si Kecil mengalami sembelit, gerakan otot usus besar biasanya terlalu lambat, sehingga feses pun bergerak sangat lambat. Akibatnya, feses yang keras dan kering bisa terasa sakit saat didorong keluar dan bayi menjadi lebih rewel. Selain kurangnya asupan serat, sembelit bisa menjadi gejala gangguan kesehatan tertentu. Berikut ini masalah kesehatan yang ditandai dengan susah BAB, yaitu:

Baca juga: 10 Penyebab Bayi Sembelit

  1. Cerebral Palsy

Cerebral palsy mengacu pada sekelompok gangguan yang memengaruhi pergerakan dan koordinasi otot. Pada banyak kasus, penglihatan, pendengaran, dan sensasi juga terpengaruh. Kondisi ini ternyata juga memengaruhi pergerakan usus bayi. Akibatnya, bayi yang mengidap cerebral palsy mengalami kesulitan buang air besar.

  1. Hipotiroidisme

Hipotiroidisme bawaan atau kretinisme adalah kurangnya hormon tiroid yang parah pada bayi baru lahir. Kondisi ini mengganggu fungsi neurologis, menghambat pertumbuhan, dan menyebabkan kelainan fisik. Kurangnya hormon tiroid mengganggu pengiriman sinyal ke organ pencernaan, sehingga bayi yang mengidap kretinisme dapat mengalami sembelit. 

  1. Hirschsprung Disease

Hirschsprung disease adalah kondisi yang mempengaruhi usus besar, sehingga menyebabkan masalah dengan buang air besar. Kondisi ini hadir saat lahir (bawaan) sebagai hasil dari sel-sel saraf yang hilang di otot-otot usus bayi. Bayi baru lahir yang mengidap hirschsprung disease biasanya tidak dapat buang air besar beberapa hari setelah kelahiran. Pada kasus-kasus ringan, kondisi ini mungkin tidak terdeteksi hingga masa kanak-kanak. 

  1. Flu Perut

Flu perut atau gastroenteritis terjadi ketika lambung dan usus mengalami infeksi. Flu ini berbeda dengan flu pada umumnya. Jika flu biasa menimbulkan sakit tenggorokan, batuk dan pilek, virus atau bakteri penyebab flu perut menimbulkan masalah pencernaan seperti diare atau sembelit. 

Baca juga: Bayi Susah BAB, Ini Cara Menangani yang Tepat

Penanganan Sembelit pada Bayi

Apabila Si Kecil belum bisa mengonsumsi makanan tertentu, maka pengobatan utama sembelit adalah memberikan ASI eksklusif. Untuk bayi yang lebih besar, berikut ini tips untuk mencegah dan mengobati sembelit, yaitu:

  • Perbanyak serat. Tambahkan lebih banyak serat ke dalam makanan jika Si Kecil sudah memulai makanan padat. Pilih sereal gandum yang mengandung lebih banyak serat. Jika ibu mulai memperkenalkan buah dan sayuran, berikan buah dan sayur yang kaya serat seperti plum dan kacang polong.
  • Gerakan kaki Si Kecil. Gerakan kaki Si Kecil bolak-balik seolah-olah mereka sedang mengendarai sepeda. Balikan bayi ke posisi tengkurap dan berikan mainan untuk mendorong mereka agar menggeliat dan menggapai. Aktivitas ini mendorong pergerakan usus.
  • Berikan pijatan pada bayi. Pijat bayi secara lembut tepat di bawah pusar dengan gerakan memutar selama sekitar satu menit.

Baca juga: Ini Menu MPASI untuk Mencegah Sembelit pada Bayi

Sebelum melakukan penanganan di atas, sebaiknya bicara dengan dokter terlebih dahulu untuk mengetahui perawatan yang tepat. Lewat aplikasi Halodoc, ibu dapat bertanya-tanya dengan dokter kapan saja dan di mana saja. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga!

Referensi:
Children's National Hospital. Diakses pada 2020. Pediatric Constipation.
Hopkins Medicine. Diakses pada 2020. Constipation in Children.
Healthline. Diakses pada 2020. Constipation in Breastfed Babies: Symptoms, Causes, and Treatment.