Beda Pendapat dengan Anak, Bagaimana Menyikapinya?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Beda Pendapat dengan Anak, Bagaimana Menyikapinya?

Halodoc, Jakarta – Masa kecil bisa dikatakan sebagai masa bahagia bagi orangtua dengan anak. Pada masa ini, orangtua dan anak bagaikan sahabat yang tak akan terpisahkan. Namun, seiring bertambahnya waktu, timbul perbedaan pandangan antara anak dengan orangtua yang membuat celah di antara keduanya.  

Baca Juga: Kondisi Mental Orangtua Dapat Pengaruhi Kesehatan Anak

Mengasuh anak yang beranjak remaja menjadi tantangan bagi setiap orangtua. Saat menginjak masa remaja, anak mungkin mulai menutup dirinya dan sering berdebat dengan orangtua, bahkan hanya karena hal sepele. Terkadang situasi seperti ini membuat para orangtua merasa kehilangan, sebab sang anak seolah punya dunianya sendiri. 

Bagaimana Cara Menyikapinya?

Perubahan perilaku pada anak umumnya dimulai pada usia 9-13 tahun. Orangtua tak perlu terlalu khawatir, karena hal ini merupakan bagian dari proses hidup yang hampir dialami oleh semua keluarga. Perubahan perilaku yang dialami anak merupakan bagian dari proses perkembangan dirinya. Lingkungan sosial baru menjadi tantangan menarik untuk ia eksplor menurut cara pandangnya sendiri. Nah, kondisi itulah yang menyebabkan anak perlahan menarik diri dari pelukan orangtua. 

Dilansir dari Psychology Today, Psikolog Carl E. Pickhardt Ph.D. mengungkapkan bahwa ada perbedaan cara pandang orangtua saat anak masih usia kanak-kanak dan saat beranjak remaja. Saat masih kanak-kanak, hubungan antara orangtua dengan anak mungkin diwarnai dengan kalimat-kalimat manis, seperti “kita saling menyayangi satu sama lain, kita ingin menghabiskan waktu bersama, kita saling menghargai satu sama lain, kita saling peduli, kita saling membantu dan berusaha menyenangkan satu sama lain.” Namun, seiring bertambahnya usia anak, kalimat tersebut mulai memudar bahkan istilah “kita” berubah menjadi kami (orangtua) dan mereka (remaja).

Baca Juga: Inilah 6 Jenis Pola Asuh Anak yang Bisa Diterapkan Orangtua

Di satu sisi, orangtua merasa lebih paham, tetapi sang anak tidak paham. Orangtua merasa perlu bertanggung jawab, anak justru ingin kebebasan. Orangtua menghargai proses, anak ingin langsung mendapatkan hasilnya. Orangtua peduli keamanan, anak malah ingin berpetualang. Orangtua memberi dukungan, anak malah membalasnya dengan kekhawatiran.

Perbedaan-perbedaan itulah yang sering membuat orangtua dan anak mengalami perselisihan. Hubungan orangtua dan anak bisa semakin renggang apabila tidak segera disikapi dengan benar. Maka dari itu, membuat anak tetap saling terhubung meski banyak perbedaan adalah tantangan yang cukup berat bagi orangtua. 

Saat mengasuh anak, orangtua sering kali sulit beranjak dari pengajaran anak menjadi pengajaran remaja. Orangtua cenderung ingin terus mengikat anak dengan sebutan kita dan menganggap remaja sebagai anak kecil yang selalu ingin didekap. Padahal, orangtua harus tahu bahwa anak pasti akan tumbuh dewasa dan menemukan dunianya yang baru. Saat beranjak remaja ia akan dituntut untuk belajar menyikapi persoalan di luar rumah tanpa perlu dibantu oleh orangtua.

Remaja butuh mengenali jati dirinya dan orangtua dapat menjaga kedekatan dengan selalu mengawasi tindak tanduk sang anak. Dengan demikian, orangtua dan anak bisa saling menjaga  nilai-nilai yang telah tertanam sejak kanak-kanak. Jangan khawatir dengan perbedaan, karena perbedaan adalah bagian dari tumbuh kembang anak yang harus orangtua sikapi secara bijak. Cukup ingatkan ia tentang nilai-nilai penting yang telah orangtua berikan agar kelak anak bisa mempraktekannya dengan caranya sendiri.

Baca Juga: Tips Cetak Anak Berprestasi di Era Digital

Ingin mengetahui seputar pengasuhan anak lainnya? Diskusikan saja dengan psikolog Halodoc. Tinggal klik Talk to A Doctor yang ada di aplikasi Halodoc biar lebih praktis menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, segera download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play! 

*artikel ini pernah tayang di SKATA