Begini Diagnosis Anemia Hemolitik yang Tepat

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Begini Diagnosis Anemia Hemolitik yang Tepat

Halodoc, Jakarta - Tak asing bukan dengan penyakit anemia? Bagaimana dengan anemia hemolitik? Jangan salah lho, anemia ini terdiri dari berbagai macam. Salah satunya anemia hemolitik. 

Pada tubuh yang sehat, sel darah merah memiliki waktu hidup selama sekitar 120 hari sebelum akhirnya hancur dan digantikan oleh sel darah merah baru. Nah, seseorang yang mengidap penyakit ini, sel darah merahnya akan hancur sebelum waktunya. 

Pada keadaan awal, sumsum tulang belakang akan berusaha mengatasi kekurangan darah merah dengan menghasilkan sel darah merah dengan lebih cepat. 

Namun, bila kondisi hancurnya sel darah merah terjadi terus-menerus, maka usaha ekstra dari sumsum tulang untuk menghasilkan sel darah merah akan gagal, sehingga terjadilah anemia. Anemia hemolitik bisa umumnya kondisi yang ringan, tetapi bisa saja menjadi berat, bahkan mengancam nyawa. 

Pertanyaannya, bagaimana sih cara mendiagnosis anemia hemolitik? 

Baca juga: Anemia Aplastik Vs Anemia Hemolitik, Mana yang Lebih Bahaya?

Pemeriksaan Darah Lengkap sampai Antibodi

Seperti penyakit-penyakit pada umumnya, dokter akan melakukan wawancara medis seputar riwayat kesehatan dan gejala untuk mendiagnosis anemia hemolitik.

Dalam proses pengecekan kondisi fisik,  dokter memulai melakukan pengecekan dari kulit. Di sini dokter akan melihat tanda-tanda perubahan kulit, seperti pucat atau menguning. Selanjutnya, dokter juga akan memeriksa bagian perut (penekanan di bagian ini) untuk melihat ada-tidaknya pembesaran pada hati atau limfa. 

Nah, andaikan dokter mencurigai pasien mengidap anemia hemolitik, maka dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan, seperti: 

  1. Pemeriksaan darah lengkap. Lewat pemeriksaan ini dokter bisa melihat ada-tidaknya anemia, atau infeksi yang menyebabkannya. Bisa juga melihat kemungkinan gangguan darah yang berisiko menyebabkan anemia hemolitik. Melalui pemeriksaan ini juga akan diketahui peningkatan produksi sel darah merah yang dapat menjadi indikasi adanya anemia hemolitik. 

  2. Pemeriksaan bilirubin. Tes ini mengukur tingkat hemoglobin sel darah merah yang telah dipecah dan diproses hati.

  3. Tes fungsi hati. Tes ini mengukur kadar protein, enzim hati, dan bilirubin dalam darah kamu.

  4. Serum Laktat Dehidrogenase (LDH) dan serum haptoglobin. Kenaikan kadar LDH dan perubahan kadar serum haptoglobin dapat membantu dokter mendiagnosis kondisi dan jenis anemia hemolitik.

  5. Tes retikulosit. Tes ini mengukur berapa banyak sel darah merah yang belum matang, yang seiring waktu berubah menjadi sel darah merah, yang diproduksi oleh tubuh. 

  6. Tes coombs. Untuk menelisik kemungkinan antibodi yang menyerang sel darah merah. 

Baca juga: Bayi Baru Lahir Rentan Alami Anemia Hemolitik

Bukan Cuma Lemas dan Pucat

Ketika seseorang mengidap anemia hemolitik yang ringan, biasanya mereka tak akan merasakan gejala apa pun. Namun, pada fase selanjutnya, keluhan sejalan dengan jumlah kekurangan sel darah merah di dalam tubuh. Hal yang perlu digarisbawahi, gejala anemia hemolitik tak hanya berupa lemas dan pucat, seperti gejala anemia pada umumnya.

Nah, berikut ini gejala-gejala anemia hemolitik yang mungkin dialami oleh pengidapnya:

  • Tekanan darah rendah. 

  • Pusing. 

  • Mudah merasa lelah. 

  • Demam. 

  • Pembesaran hati. 

  • Warna urine yang menjadi lebih gelap. 

  • Detak jantung cepat. 

  • Sesak napas. 

  • Nyeri perut. 

  • Luka pada kaki.

  • Pembesaran limfa. 

  • Nyeri dada. 

  • Perubahan warna kulit. 

Awas, jangan main-main dengan penyakit anemia hemolitik. Bila dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, anemia hemolitik ini bisa memicu komplikasi berbahaya. Sebut saja gangguan irama jantung, kelainan otot jantung, hingga gagal jantung. Tuh, seram kan? 

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah anemia? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung kepada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol kapan dan di mana saja dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2019. Hemolytic Anemia: What It Is and How to Treat It.
MedlinePlus. Diakses pada 2019. Hemolytic anemia.