09 January 2018

Belum Dewasa, Anak-Anak Juga Bisa Kena Migrain

Belum Dewasa, Anak-Anak Juga Bisa Kena Migrain

Halodoc, Jakarta – Bukan hanya orang dewasa namun sekitar 10 persen anak-anak usia sekolah memiliki kemungkinan untuk terkena migrain. Migrain yang merupakan gangguan neurologis ini ditandai dengan nyeri pada kepala dan gejala yang muncul adalah muntah, mual, pusing, sensitivitas terhadap cahaya, sentuhan, suara dan bau.

Pada kondisi yang parah, migrain juga bisa menyebabkan sakit perubahan hingga perubahan suasana hati.

Umumnya, anak-anak pertama kali terkena migrain ketika memasuki usia 12 tahun. Namun, ada kemungkinan juga anak-anak mengidap migrain di usia balita.

Dilansir dari Bidanku, sebelum pubertas anak laki-laki lebih sering mengidap migrain dibandingkan anak perempuan. Sedangkan pada usia 17 tahun, sekitar 8 persen anak laki-laki dan 23 persen anak perempuan mengalami migrain.

Seperti juga gangguan kesehatan lainnya, migrain pada anak-anak tentu bisa membatasi geraknya untuk beraktivitas. Baik di sekolah maupun ketika bermain bersama teman-temannya. Belum lagi jika migrain juga dibarengi dengan gangguan kesehatan lainnya.

Jenis Migrain

Pada anak-anak dikenal jenis migrain harian kronis (CM). Gangguan migrain ini mengganggu aktivitas buah hati karena serangnya bisa datang 15 kali atau lebih dalam satu bulan. Sekit kepala yang dirasakan pun bisa mencapai empat jam lamanya.

Gejala Migrain

Untuk mengetahui migrain pada anak, orangtua perlu memerhatikan gejala yang ditunjukannya. Bisa jadi anak tidak mengungkapkan “rasa sakitnya” karena belum mengenal gejala migrain yang biasa dialami orang dewasa. Umumnya, migrain pada anak juga dibarengi dengan gangguan tidur, sulit konsentrasi, pusing, depresi, hingga kelelahan.

Jadi coba amati perilaku pada anak seperti apakah ia jadi sering menguap, apakah anak sering “ngidam” makanan tertentu, apakah ia jadi lebih emosional, atau sering terlihat lesu. Perhatikan juga apakah ia lebih sensitif terhadap cahaya, sentuhan, bau, atau suara. Bila anak juga mengalami perubahan kebiasaan tidur misalnya jadi sering mengigau dan jalan dalam tidurnya, bisa jadi ia mengalami migrain.

Penyebab Migrain pada Anak

Migrain pada anak bisa saja terjadi karena beberapa faktor. Pola makan tidak teratur, beban pikiran karena tugas sekolah, perubahan cuaca, dan masih banyak lagi lainnya. Untuk mengetahui secara spesifik apakah anah mengidap migraine, pemeriksaan menyeluruh pun bisa dilakukan. Dokter biasanya melakukan pemeriksaan dengan melihat riwayat kesehatannya, serta melakukan tes diagnostik, seperti halnya tes darah, EEG, dan neuroimagin.

Anak-anak yang mengidap migraine bisa jadi dipengaruhi oleh gen. Pasalnya ada kemungkinan 40 persen anak yang memiliki salah satu orangtua yang mengidap migraine juga akan terkena migraine. Sedangkan, jika kedua orang tua mengidap migraine maka risiko terkena migraine juga naik menjadi 90 persen.

Cara Mengatasi Migrain

Agar anak-anak terhindar dari migraine, orang tua bisa mengambil tindakan pengobatan. Tentu saja, pemberian obat-obatan ini harus sesuai dengan dengan anjuran dokter. Ini bisa dilakukan baik sebagai bentuk pengobatan akut, maupun sebagai bentuk pencegahan.

Ingat juga untuk selalu jaga kondisi kesehatan anak dimana pun berada. Sedia selalu aplikasi Halodoc untuk bicara dengan dokter. Dengan Halodoc, dokter bisa dihubungi melalui Video/Voice Call dan Chat. Selain itu, ibu juga bisa melakukan pemeriksaan laboratorium sesuai dengan saran dokter jika diperlukan. Jika butuh obat, vitamin, atau suplemen, ibu juga bisa membelinya di Halodoc. Pesanan akan diantar dalam satu jam ke tempat tujuan. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play.