Benarkah Korban Kecelakaan Berisiko Alami Hematoma Subdural?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Benarkah Korban Kecelakaan Berisiko Alami Hematoma Subdural?

Halodoc, Jakarta - Cedera yang terjadi pada kepala sering terjadi ketika berolahraga. Namun, bisa saja terjadi karena terjatuh atau terbentur ketika mengalami kecelakaan. Kamu tidak boleh mengabaikan trauma kepala, karena berdampak serius dan membahayakan nyawa. Salah satunya adalah terjadinya hematoma subdural atau perdarahan pada otak. 

Hematoma subdural terjadi ketika perdarahan muncul di antara dua lapisan yang ada di otak, yaitu lapisan dura atau meninges dan lapisan arachnoid. Hematoma, begitu akumulasi darah ini disebut, dan apabila jumlahnya besar dan terjadi secara tiba-tiba mengakibatkan rusaknya jaringan pada otak dan mengancam nyawa apabila tidak segera dilakukan penanganan. 

Benarkah Korban Kecelakaan Berisiko Alami Hematoma Subdural?

Ya, perdarahan subdural bagian dalam sering terjadi karena cedera pada kepala. Cedera ini bisa terjadi karena olahraga, terjatuh, hingga kecelakaan. Benturan atau hantaman yang mengenai kepala dengan intensitas yang kuat bisa membuat otak mengalami getaran dan membentur dinding tengkorak, sehingga terjadi perdarahan di dalam.

Baca juga: Bikin Memar, Ini Cara cegah Hematoma

Kamu perlu tahu, lansia dan bayi rentan mengalami perdarahan subdural kronis karena cedera kepala ringan tetapi terjadi secara berulang, seperti akibat sering terjatuh. Jika dibandingkan dengan hematoma akut, hematoma yang bersifat kronis lebih mudah ditangani. Meski begitu, masih ada risiko yang memicu terjadinya komplikasi dan membahayakan nyawa. 

Kenali Tanda dan Gejalanya

Gejala dari hematoma subdural bisa langsung muncul atau berjeda beberapa minggu setelah cedera terjadi. Inilah yang menjadi penyebab mengapa tidak sedikit orang yang merasa baik dan sehat setelah mengalami cedera serius. Meski begitu, tekanan yang tinggi pada otak tidak boleh dibiarkan, karena bisa menyebabkan sakit kepala yang luar biasa, mual dan muntah, melantur ketika bicara, kejang, perubahan perilaku, amnesia, disorientasi, hingga koma. 

Sebagian besar kasus hematoma subdural kronis memiliki gejala yang mirip dengan stroke, demensia, tumor, atau sederetan masalah lain yang ada di otak. Inilah mengapa kamu tidak boleh menunda untuk memeriksakan kondisi kesehatan ke dokter setelah mengalami cedera atau benturan pada kepala meski tidak merasakan adanya gejala. Pakai saja aplikasi Halodoc supaya kamu lebih mudah membuat janji dengan dokter ahli di rumah sakit terdekat. 

Baca juga: Sakit Kepala Susah Hilang, Waspada Hematoma Subdural

Bagaimana Jika Hematoma Subdural Tidak Segera Ditangani?

Hati-hati, karena komplikasi akibat hematoma subdural bisa terjadi saat itu juga atau sesaat setelah cedera ditangani. Komplikasi yang terjadi seperti kejang, herniasi otak  yang mengarah pada koma hingga kematian, dan lemah otot yang sifatnya bisa permanen. Namun, tingkat komplikasi yang terjadi bergantung pada seberapa parah cedera otak yang kamu alami. 

Baca juga: 10 Jenis Hematoma, Kumpulan Darah Abnormal di Luar Pembuluh Darah

Tingkatannya mengalami peningkatan apabila kamu sudah memiliki riwayat kesehatan tertentu yang berpengaruh pada ringan atau akutnya perdarahan otak nantinya. Meski begitu, orang-orang yang sering mengonsumsi obat pengencer lebih berisiko mengalami komplikasi karena perdarahan otak bagian dalam. Pada mereka yang berusia lebih dari 65 tahun, cedera kepala sekecil apa pun mengakibatkan hematoma subdural kronis. 

Referensi: 
WebMD. Diakses pada 2019. Subdural Hematoma.
Health Harvard Edu. Diakses pada 2019. Subdural Hematoma.
Emedicine Medscape. Diakses pada 2019. Subdural Hematoma.