Benarkah Minum Antibiotik saat Hamil Sebabkan Cerebral Palsy?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Benarkah Minum Antibiotik saat Hamil Sebabkan Cerebral Palsy?

Halodoc, Jakarta - Wanita hamil biasanya akan diwanti-wanti oleh dokter untuk menghindari antibiotik, terutama pada trimester pertama. Sebab, beberapa jenis antibiotik berpotensi untuk menyebabkan kelainan bawaan pada bayi yang baru lahir. Salah satu kelainan bawaan yang konon diakibatkan oleh bahaya antibiotik adalah cerebral palsy. Namun, benarkah antibiotik saat hamil dapat menjadi penyebab cerebral palsy?

Minum antibiotik saat hamil memang perlu sangat berhati-hati dan berdasarkan anjuran dokter. Namun, belum ada penelitian yang membuktikan hubungan antara konsumsi antibiotik saat hamil dengan cerebral palsy. Infeksi yang dialami ibu hamil mungkin bisa meningkatkan risiko cerebral palsy pada bayi, tetapi belum bisa dipastikan bahwa pengobatannya (konsumsi antibiotik) dapat menjadi penyebab.

Baca juga: Hal yang Terjadi pada Tubuh Jika Terkena Cerebral Palsy

Cerebral palsy atau yang juga dikenal dengan sebutan ‘lumpuh otak’ terjadi karena adanya gangguan perkembangan otak pada anak. Kondisi ini umumnya terbentuk pada masa kehamilan, tetapi juga dapat terjadi saat proses persalinan, atau beberapa tahun pertama setelah anak lahir. Penyebab pasti cerebral palsy hingga saat ini belum diketahui pasti. Namun, kondisi ini diduga terjadi karena beberapa faktor berikut:

  • Perubahan pada gen.

  • Infeksi saat hamil yang menular pada janin. Seperti cacar air, rubella, sifilis, infeksi toksoplasma, dan infeksi cytomegalovirus.

  • Terganggunya suplai darah ke otak janin (stroke janin).

  • Perbedaan golongan darah rhesus antara ibu dan bayi.

  • Bayi kembar dua atau lebih. 

  • Berat badan bayi yang rendah saat lahir, yaitu kurang dari 2,5 kilogram.

  • Kurangnya suplai oksigen pada otak bayi (asfiksia) selama proses persalinan.

  • Kelahiran prematur, yaitu lahir pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu.

  • Kelahiran sungsang, yaitu lahir dengan kaki terlebih dulu keluar.

  • Radang pada otak atau selaput otak bayi.

  • Penyakit kuning yang meracuni otak (kernikterus).

  • Cedera parah di kepala, misalnya akibat terjatuh atau kecelakaan.

Baca juga: Akankah Cerebral Palsy Membatasi Kecerdasan?

Aturan Minum Antibiotik Saat Hamil

Meski efek-efeknya terdengar menakutkan, antibiotik terkadang diperlukan oleh ibu hamil dalam melawan infeksi bakteri. Sebab, beragam perubahan alami saat sedang hamil dapat membuat tubuh wanita lebih rentan terhadap infeksi bakteri. 

Sebenarnya, tidak semua jenis antibiotik itu berbahaya bagi ibu hamil. Melalui konsultasi dan pemeriksaan, dokter dapat memilih jenis antibiotik yang aman untuk ibu dan bayi. Nah, diskusi dengan dokter juga bisa dilakukan di aplikasi Halodoc, lho. Lewat fitur Chat atau Voice/Video Call, kamu bisa obrolkan langsung seputar penggunaan antibiotik saat hamil dengan dokter kandungan.

Kemudian, ketika dokter merekomendasikan obat dan antibiotik, kamu bisa langsung pesan obatnya juga melalui aplikasi Halodoc. Kapan dan di mana saja, obatmu akan langsung diantar ke rumah dalam waktu satu jam. Jadi, pastikan kamu sudah download aplikasinya di ponselmu, ya.

Baca juga: Lumpuh Otak Alias Cerebral Palsy Bisa Dikenali Sejak dalam Kandungan?

Tidak perlu takut menggunakan antibiotik saat hamil, asal mengikuti resep dan rekomendasi dari dokter, serta beberapa aturan berikut:

  • Sebisa mungkin, hindari penggunaan antibiotik pada trimester pertama kehamilan, yaitu masa-masa pembentukan organ pada janin.

  • Gunakanlah antibiotik yang sudah memiliki riwayat efek penggunaan aman.

  • Konsumsi obat dengan dosis efektif yang paling rendah.

  • Jangan mengonsumsi antibiotik bersamaan dengan obat bebas atau jenis lain tanpa rekomendasi dokter karena berisiko mengurangi efektivitas atau bahkan meningkatkan efek obat.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Is it safe to take antibiotics during pregnancy?
WebMD. Diakses pada 2019. Medicines during pregnancy.