• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Stres Berat Jadi Penyebab Gangguan Panik?
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Stres Berat Jadi Penyebab Gangguan Panik?

Benarkah Stres Berat Jadi Penyebab Gangguan Panik?

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 20 September 2022

“Penyebab gangguan panik bisa banyak hal, salah satunya adalah stres berat. Kecemasan dan serangan panik jangka panjang juga dapat menyebabkan otak melepaskan hormon stres secara teratur.”

Benarkah Stres Berat Jadi Penyebab Gangguan Panik?Benarkah Stres Berat Jadi Penyebab Gangguan Panik?

Halodoc, Jakarta – Gangguan panik adalah gangguan kecemasan di mana orang yang mengalaminya secara teratur mengalami serangan panik atau ketakutan yang tiba-tiba. Rasa cemas adalah perasaan normal, dan semua orang bisa mengalaminya. 

Hanya saja ketika menjadi gangguan, itu berarti kecemasan yang dialami lebih dari biasanya. Gejala ini pun bisa datang setiap saat dan menimbulkan kepanikan yang intens. Penyebab gangguan panik bisa banyak hal dan salah satunya adalah stres berat. Lantas, bagaimana stres berat bisa menjadi pemicu gangguan panik, selengkapnya bisa dibaca di sini!

Stres Berat Bisa Menyebabkan Gangguan Panik

Serangan panik memiliki beberapa gejala termasuk kecemasan ekstrem dan sensasi fisik. Seperti misalnya peningkatan denyut jantung, sesak napas, gemetar dan ketegangan otot. 

Pemicu serangan panik dapat mencakup pernapasan berlebihan, stres berat dalam waktu lama, aktivitas yang menyebabkan reaksi fisik yang intens (misalnya olahraga, minum kopi berlebihan), dan perubahan fisik yang terjadi setelah sakit atau perubahan lingkungan yang tiba-tiba.

Nah, stres berat, seperti kematian orang yang dicintai, perceraian, atau kehilangan pekerjaan juga dapat memicu serangan panik. Pada dasarnya, baik stres berat maupun gangguan panik, mereka bisa saling memengaruhi dan memicu satu sama lain.

Kecemasan dan serangan panik jangka panjang dapat menyebabkan otak melepaskan hormon stres secara teratur. Hal ini dapat meningkatkan frekuensi gejala seperti sakit kepala, pusing, dan depresi.

Ketika kamu merasa cemas dan stres, otak dapat membanjiri sistem saraf dengan hormon dan bahan kimia seperti adrenalin dan kortisol yang dirancang untuk membantu kamu merespons ancaman. 

Seringkali kecemasan bisa memicu stres, padahal kekhawatiran adalah bagian normal dari kehidupan. Gugup menghadapi wawancara kerja, memiliki kondisi penyakit tertentu yang menyebabkan kecemasan, bertemu orang baru, semuanya cukup normal.

Akan tetapi, ketika kepala terus-menerus dipenuhi dengan kekhawatiran atau skenario terburuk, ini dapat mengganggu kehidupan sehari-hari. Bukan tak mungkin dari kecemasan ini berakibat pada stres, dan dari stres bisa menjadi gangguan panik. 

Ada baiknya kamu mengidentifikasi perasaanmu sebelum akhirnya berkembang menjadi gangguan panik. Berikut ini adalah beberapa kondisi kecemasan yang sudah berada di tahap berlebihan:

  • Merasa gelisah terus menerus. 
  • Merasa lelah dan tidak memiliki energi.
  • Sulit untuk berkonsentrasi atau terganggu setiap saat.
  • Kesulitan tidur. 
  • Merasa cemas atau mengalami serangan panik.
  • Mengalami sakit dan nyeri karena ketegangan otot.
  • Mengalami gejala fisik, seperti sakit kepala atau sakit perut.
  • Beralih ke perilaku tidak sehat, seperti makan berlebihan, minum alkohol, atau menggunakan narkoba untuk mengatasi kecemasan tersebut.

Meskipun wajar untuk mengkhawatirkan berbagai hal dari waktu ke waktu, namun membiarkan kekhawatiran menguasai pikiran dapat memiliki efek yang signifikan pada tubuh. 

Mengubah Pola Pikir untuk Menghindarinya

Pada akhirnya,  stres berat dapat berkontribusi terhadap masalah kesehatan yang serius, seperti masalah pencernaan, penyakit jantung dan penekanan sistem kekebalan tubuh. Jika kamu menyadari kalau kekhawatiran dan pikiran negatif kerap menguasai diri, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menenangkan diri, seperti:

1. Perlahan Mengubah Pola Pikir

Jangan biarkan kekhawatiran memonopoli perasaan dan emosimu. Jika pikiran buruk muncul, segera tepiskan, dan berkomitmenlah untuk selalu menepiskan pikiran negatif setiap kali itu muncul. 

2. Fokus pada Apa yang Dapat Dikendalikan 

Ada banyak hal dalam kehidupan yang tidak bisa dikendalikan. Ini harus kamu pahami dan jangan dipaksakan. Cobalah untuk berfokus pada hal-hal yang bisa kamu kendalikan dan nikmatilah hidupmu. 

3. Tantang Pikiran 

Coba ingat-ingat seberapa sering kekhawatiranmu menjadi kenyataan? Setelah kamu menyadari bahwasanya hal-hal tersebut jarang menjadi kenyataan, cobalah untuk menantang pikiran dengan memperbanyak pikiran-pikiran positif. 

4. Bicaralah dengan Orang Lain

Ketika kamu sudah tidak bisa lagi mengontrol kecemasan, kepanikan, ataupun stres, ada baiknya untuk mendiskusikan dengan orang terdekat, ketimbang menyimpannya sendiri. 

Kamu pun kini juga bisa berkonsultasi dengan profesional medis melalui aplikasi Halodoc. Belum punya aplikasinya? Download Halodoc sekarang juga!

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2022. Effects of Anxiety on the Body.
National Health Service. Diakses pada 2022. Panic Disorder.
Help Guide. Diakses pada 2022. Panic Attacks and Panic Disorder.
Better Health Channel. Diakses pada 2022. Panic attack.
Mayo Clinic Care Network. Diakses pada 2022. What Happens When You Worry Too Much?
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Anxiety Disorder.