Benarkah Stres Bisa Tingkatkan Risiko Nyeri Haid?

Ditinjau oleh  dr. Verury Verona Handayani   12 Juni 2020
Benarkah Stres Bisa Tingkatkan Risiko Nyeri Haid?Benarkah Stres Bisa Tingkatkan Risiko Nyeri Haid?

Halodoc, Jakarta - Nyeri haid tentu bisa menjadi hal yang menyebalkan bagi wanita. Apalagi jika ada banyak aktivitas yang perlu dilakukan. Akhirnya, malah jadi stres karena pekerjaan terhambat, deh. Namun, tahukah kamu bahwa stres ternyata bisa tingkatkan risiko nyeri haid?

Ya, hal ini dipublikasikan dalam data kesehatan MedicineNet, yang menyebut bahwa stres bisa membuat nyeri haid semakin parah. Terutama pada wanita berusia 20-34 tahun, yang berstatus sebagai pekerja. Hal ini karena stres dapat mengganggu berbagai sistem dalam tubuh, termasuk sistem reproduksi. Bagi beberapa wanita, stres juga bisa menyebabkan haid tidak teratur atau berhenti. 

Baca juga: 7 Tanda Nyeri Haid yang Berbahaya

Tak Hanya Perparah Nyeri Haid, Stres juga Kacaukan Siklusnya

Stres dapat menekan fungsi hipotalamus, yang berfungsi untuk mengendalikan kelenjar hipofisis (kelenjar utama tubuh), yang juga mengendalikan kelenjar tiroid dan adrenal serta ovarium. Jika fungsi ovarium terganggu, akan terjadi masalah pada produksi estrogen, ovulasi, dan proses reproduksi lainnya. 

Sebab, estrogen adalah hormon penting yang dapat membantu membangun lapisan rahim, sekaligus mempersiapkan tubuh untuk kehamilan. Jika ovarium tidak lagi berfungsi dengan baik, hal ini tentu akan berpengaruh pada siklus haid. Akibatnya, siklus menstruasi jadi terlambat atau tidak teratur.

Selain itu, stres juga bisa memengaruhi bagian otak yang bertanggung jawab untuk memproduksi hormon. Itulah sebabnya stres bisa memberi efek pada kadar hormon yang dapat menyebabkan perubahan dalam frekuensi dan lamanya periode haid. Sebaliknya, dengan mengurangi tingkat stres, kamu bisa membantu tubuh kembali ke periode haid yang normal, termasuk nyeri haid yang tidak diinginkan.

Baca juga: Hati-hati, Ini Penyakit yang Sebabkan Nyeri Haid

Jadi, temukanlah metode sehat dan tepat untuk mengatasi stres berlebih yang mungkin sedang kamu alami. Hal ini dapat mengurangi nyeri haid dan menjaga siklusnya tetap normal. Kamu bisa mencoba meditasi atau yoga, memiliki pola makan sehat, dan tidur yang cukup. Kalau masih bingung, kamu bisa tanyakan pada dokter di aplikasi Halodoc, yang bisa kamu hubungi kapan dan di mana saja. 

Tips Kelola Stres untuk Mengatasi Nyeri Haid

Agar nyeri haid bisa mereda, kamu bisa mengatasinya dengan mengelola stres dengan baik. Berikut beberapa tips yang bisa dicoba:

  • Minum Air Putih Lebih Banyak

Kram atau nyeri haid tentu tidak nyaman. Untuk mengatasinya, minumlah air putih lebih banyak dari biasanya saat sedang haid. Hal ini dapat membantu meredakan kembung yang dapat memperburuk gejala. Minumlah minimal 8 gelas air putih setiap harinya, atau lebih jika aktivitasmu cukup padat. Agar lebih enak dan menyegarkan, kamu bisa tambahkan irisan lemon.

  • Diet Sehat

Menerapkan diet sehat adalah kunci untuk meredakan gejala nyeri haid. Meski mungkin terasa sulit, karena saat haid wanita biasanya ingin makan sesuatu yang manis, asin, atau berlemak. Padahal, makanan seperti itu justru sebaiknya dihindari saat sedang haid.

Baca juga: 3 Minuman untuk Redakan Nyeri Haid

Konsumsilah makanan-makanan yang mengandung senyawa antiinflamasi, seperti ceri, blueberry, tomat, dan paprika. Konsumsi juga kacang-kacangan, almond, dan sayuran hijau yang kaya kalsium. Berbagai makanan tersebut dapat mengurangi peradangan dalam tubuh yang dapat memperparah nyeri haid. 

  • Minum Air Jahe

Mengonsumsi air jahe hangat dapat meredakan nyeri haid, karena rempah ini memiliki kandungan antioksidan dan memiliki efek relaksasi, sehingga tingkat stres bisa menurun dan pikiran lebih rileks. Cobalah minum rebusan air jahe untuk menghangatkan perut saat mengalami nyeri haid, agar rasa nyerinya bisa mereda.

Referensi:
MedicineNet. Diakses pada 2020. 25 Ways to Relieve Menstrual Cramps.
Everyday Health. Diakses pada 2020. Stress and Your Menstrual Period: A Cycle That You Can Break.
 

Mulai Rp50 Ribu! Bisa Konsultasi dengan Ahli seputar Kesehatan