Menstruasi

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Apa Itu Menstruasi

Menstruasi atau haid atau kadang juga disebut sebagai datang bulan adalah perdarahan uterus secara periodik dan siklus yang normal terjadi pada wanita yang telah puber. Proses ini pun terjadi dengan disertai pelepasan endometrium. Umumnya, durasi siklus menstruasi adalah 28 hari, dengan lama menstruasi adalah 4 hingga 6 hari. Jumlah darah yang keluar pun rata-rata sebanyak 20-60 mililiter.

 

Fase Apa Saja yang Terjadi Selama Menstruasi?

Meski terjadi secara rutin, mungkin masih banyak wanita yang belum mengetahui secara rinci mengenai proses menstruasi terjadi. Proses menstruasi dibagi ke dalam empat fase, antara lain:

  • Fase Menstruasi. Pada fase ini, lapisan dinding dalam rahim yang mengandung darah, sel-sel dinding rahim, dan lendir atau dikenal dengan endometrium akan luruh dan keluar melalui vagina. Fase ini akan dimulai sejak hari pertama siklus menstruasi dimulai dan dapat berlangsung dari selama 4 hingga 6 hari. Pada tahapan ini, biasanya wanita akan merasakan gejala seperti nyeri di perut bawah dan punggung karena rahim berkontraksi untuk membantu meluruhkan endometrium.

  • Fase Folikular. Tahapan ini berlangsung sejak hari pertama menstruasi sampai memasuki fase ovulasi. Pada tahapan ini, ovarium akan memproduksi folikel yang berisi sel telur. Pertumbuhan folikel ovarium kemudian akan menyebabkan endometrium menebal. Fase ini biasanya terjadi pada hari ke-10 dari 28 hari dalam sebuah siklus menstruasi. Lama waktu yang dihabiskan pada tahapan ini akan menentukan berapa lama siklus menstruasi seorang wanita berlangsung nantinya.

  • Fase Ovulasi. Pada fase ovulasi, sel telur kemudian akan dilepaskan untuk dibuahi. Sel telur yang telah matang kemudian akan bergerak ke tuba fallopi dan menempel di dinding rahim. Sel telur ini umumnya hanya bertahan selama 24 jam. Apabila tidak dibuahi, sel telur akan mati. Namun, jika sel telur bertemu dengan sperma dan sudah dibuahi, akan terjadi kehamilan. Fase ovulasi sendiri akan menandai masa subur wanita dan biasanya terjadi sekitar dua minggu sebelum siklus menstruasi berikutnya dimulai.

  • Fase Luteal. Setelah fase ovulasi, folikel yang telah pecah akan mengeluarkan sel telur akan membentuk korpus luteum, yang kemudian akan memicu peningkatan hormon progesteron untuk mempertebal lapisan dinding rahim. Ini juga dikenal dengan fase pramenstruasi. Pada tahap ini, biasanya akan terjadi beberapa gejala yang terjadi, mulai dari payudara membesar, muncul jerawat, badan terasa lemas, menjadi mudah marah atau emosional.

Proses menstruasi ini akan terus berputar, hingga seorang wanita mengalami menopause.

Baca juga: Pemahaman Tentang Menstruasi yang Masih Keliru 

 

Gejala-Gejala Apa Saja yang Terjadi Selama Menstruasi?

Terdapat beberapa tanda yang umum terjadi, antara lain:

  • Perut terasa tidak nyaman, mual, dan panas.

  • Terasa sedikit nyeri saat buang air kecil.

  • Tubuh terasa lemas.

  • Sakit kepala atau pusing.

  • Keputihan.

  • Radang pada vagina.

  • Gatal-gatal pada kulit.

  • Mood mudah berubah.

  • Nyeri dan bengkak pada payudara.

  • Jerawat bermunculan.

Baca juga: Siklus Menstruasi Tak Teratur? Awasi 5 Penyakit Ini 

 

Cara untuk Mengtasi Gejala yang Mengganggu Selama Proses Menstruasi

Karena menstruasi umumnya menyebabkan gejala yang cukup mengganggu, maka seorang wanita perlu melakukan beberapa hal untuk mengurangi gejalanya. Beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain:

  • Kompres bagian bawah abdomen dengan botol berisi air panas atau bantal pemanas untuk meredakan nyeri yang terjadi.

  • Minum banyak air putih, dan pastikan hindari menghindari terlebih dahulu konsumsi garam dan minuman yang berkafein untuk mencegah pembengkakan dan retensi air.

  • Lakukan olahraga secara teratur.

  • Makan makanan yang bergizi seimbang dan pastinya kaya akan zat besi dan kalsium.

  • Konsumsi vitamin E sebanyak 400 miligram, karena ini bisa mencegah peradangan dan meningkatkan respon kekebalan tubuh.

  • Lakukan aktivitas yang dapat meredakan stres.

Baca juga: Ini Bahaya Tidak Membersihkan Menstruasi dengan Bersih

 

Kapan Harus ke Dokter?

Terdapat beberapa gejala yang perlu kamu tanggapi serius selama menstruasi. Pasalnya, gejala ini bisa saja merupakan gejala awal dari penyakit yang lebih parah. Beberapa tanda menstruasi yang tidak normal, antara lain:

  • Siklus yang berlangusng lebih lama, yaitu hungga 31 hingga 35 hari tiap bulannya.

  • Darah yang keluar bukan seperti darah pada menstruasi pada umumnya.

  • Menstruasi yang terjadi selama tujuh hari atau bahkan lebih.

  • Jumlah darah yang keluar sangat banyak bahkan membuatmu harus mengganti pembalut setiap satu atau dua jam.

  • Nyeri sebelum atau saat haid yang berlebihan hingga membuat aktivitasmu terganggu.

  • Terdapat gumpalan darah dalam jumlah besar.

  • Tidak mengalami haid selama tiga bulan.

  • Kram berlebihan saat haid.

Jika gejala di atas kamu alami, segera hubungi dokter untuk mengetahui penanganan selanjutnya. Penanganan yang tepat dapat meminimalisir akibat, sehingga pengobatan bisa lebih cepat dilakukan.

 

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Menstrual cycle: What's normal, what's not.
Web MD. Diakses pada 2019. Menstrual Period.
Kids Health. Diakses pada 2019. All About Periods (for Teens).

 

Pertanyaan Seputar Menstruasi

Dok mau nanya kok udah 4 bulan nggak haid-haid ya padahal nggak hamil?

Ditanyakan oleh: fitri_muharmaan

Dijawab oleh: Dr. Rizal Fadli

Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan tidak haid ketika sedang tidak hamil antara lain:

1. Kondisi Medis yang Menyebabkan ketidakseimbangan Hormon

Sindrom ovarium polikistik (PCOS) menyebabkan kadar hormon reproduksi selalu tinggi kadarnya. Kondisi ini akan mengganggu siklus haid.
• Gangguan tiroid, seperti kelenjar tiroid yang terlalu aktif (hipertiroid) atau yang kurang aktif (hipotiroid) dapat menyebabkan gangguan haid, termasuk amenore.
• Tumor jinak kelenjar pituitari di otak dapat mengganggu pengaturan hormon reproduksi.
• Menopause dini. Menopause umumnya terjadi pada usia 50-an. Namun, pada sebagian wanita terjadi sebelum usia 40-an.
• Tumor pada ovarium (indung telur).

2. Gangguan Struktural pada Organ Kandungan

• Skar/bekas luka pada rahim akibat penyakit Asherman, bekas kuret, operasi caesar atau pengangkatan myoma.
• Vagina abnormal, yaitu terjadinya penyumbatan pada vagina sehingga darah haid tidak bisa keluar.

3. Faktor Gaya Hidup

• Berat badan yang terlalu kurus atau terlalu gemuk akan mengganggu keseimbangan hormon reproduksi.
• Olahraga yang berlebihan, seperti pada balerina dan atlet juga dapat mengganggu keseimbangan hormon reproduksi.
• Stres psikologis dapat memengaruhi kinerja otak yang mengatur hormon reproduksi. Umumnya, ketika stres sudah menurun, haid akan kembali normal.

 

Dok katanya kalo haid gak boleh minum teh hjiau ya?

Ditanyakan oleh: meirin_hu

Dijawab oleh: Dr. Fadhli Rizal Makarim

Anggapan ini tentu tidak benar. Haid berkaitan dengan meluruhnya dinding rahim karena tidak adanya sel telur yang dibuahi. Teh hijau dengan kandungan antioksidan yang tinggi tidak berpengaruh atau berhubungan dengan kejadian haid atau menstruasi.

 

Kalau lagi mens apakah boleh keramas?

Ditanyakan oleh: marcelinasamsuar

Dijawab oleh: Dr. Fadhli Rizal Makarim

Tentu boleh, menstruasi dan keramas tidak ada hubungan yang saling terkait dari segi kesehatan. Menstruasi merupakan sebuah siklus bulanan yang dialami wanita. Kondisi ini terjadi karena sel telur yang dibuahi harusnya dapat menempel pada dinding rahim yang telah menebal. Namun, karena tidak ada pembuahan yang terjadi dinding rahim yang telah menebal akhirnya meluruh dan menimbulkan darah menstruasi. Dari organ yang terlibat di sini menunjukkan tidak ada keterkaitan dari segi kesehatan antara keramas dan menstruasi.