Berenang di Kolam Renang Tingkatkan Risiko Panu?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Berenang di Kolam Renang Tingkatkan Risiko Panu?

Halodoc, Jakarta - Berenang di kolam renang rasanya memang mengasyikan untuk sebagian orang. Selain sebagai relaksasi, aktivitas ini juga terbilang menyehatkan tubuh. Mual dari menyehatkan sistem kardiovaskular, hingga memperkuat otot tubuh. 

Namun, bagi kamu yang gemar olahraga ini, rasanya perlu berhati-hati. Ada yang bilang, katanya berenang di kolam renang umum bisa meningkatkan risiko panu. 

Panu merupakan infeksi jamur yang mengganggu pigmen kulit. Gangguan ini akan menimbulkan bercak warna yang lebih terang atau gelap pada kulit. Infeksi akibat panu ini bisa muncul secara perlahan. Namun, bercak kulit tersebut bisa menyatu dan membentuk bercak yang lebih besar seiring waktu. 

Hmm, bikin resahkan? Lantas, benarkah berenang bisa meningkatkan risiko terserang panu? 

Baca juga: Komplikasi Panu yang Perlu Diketahui

Butuh Riset Lebih Jauh

Ada riset menarik yang bisa kita simak menyoal berenang yang katanya bisa meningkatkan risiko terserang panu. Studi ini dipublikasikan dalam US National Library of Medicine - National Institutes of Health. Di sini para ahli menelisik risiko panu yang mungkin dialami oleh para pelaut. 

Nah, salah satu cara meneliti hubungan panu dengan berenang atau kehadiran di kolam renang. Bagaimana hasilnya? Ternyata tak ada hubungan statistik yang ditemukan antara panu dengan berenang atau kehadiran di kolam renang. Namun, panu ini banyak didiagnosis pada mereka yang tak peduli pada kebersihan tubuhnya. 

Lalu, benarkah berenang di kolam renang umum tidak bisa meningkatkan risiko panu? Meski studi di atas menjawab tidak, tetapi masih membutuhkan studi lebih jauh untuk mengetahui kedua hubungan ini. 

Perkembangan Jamur karena Berbagai Hal

Biang keladi utama dari panu adalah perkembangan jamur Malassezia pada kulit. Jamur ini sebenarnya bisa ditemukan dalam kulit sehat. Jamur ini merupakan flora yang normal. Namun, jamur ini bakal menyebabkan masalah ketika tumbuh secara abnormal. 

Misalnya, dipicu karena lemahnya sistem kekebalan tubuh atau perubahan hormon. Selain itu, ada pula beberapa faktor lainnya yang bisa meningkatkan risiko terjadinya panu, seperti: 

  • Cuaca panas dan lembap.

  • Kulit berminyak.

  • Perubahan hormonal.

  • Sistem kekebalan tubuh melemah.

  • Mengonsumsi obat-obatan yang menekan sistem imun.

  • Keringat berlebihan.

  • Riwayat panu dalam keluarga.

  • Lingkungan yang beriklim lembap dan hangat.

Baca juga: Panu Bisa Disembuhkan dengan Pola Makan?

Lawan dengan Obat Antijamur

Panu kerap kali membuat seseorang risih karena rasa gatal yang ditimbulkannya. Di samping itu, andaikan menyerang wajah, penyakit kulit ini juga bisa membuat pengidapnya jadi enggak pede. Untungnya, ada beragam obat-obatan yang bisa digunakan untuk mengatasinya. 

  • Krim dan Sampo Antijamur

Keduanya merupakan bentuk obat panu yang umum digunakan. Penggunaan krim dan sampo antijamur ini terbilang cukup efektif untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh jamur Malassezia. Pilihlah krim atau sampo antijamur yang mengandung miconazole, selenium sulfida, atau clotrimazole. Namun, diskusikan terlebih dahulu dengan dokter sebelum menggunakannya untuk mengurangi risiko efek samping. 

  • Obat Antijamur

Jika cara di atas tidak efektif, kamu bisa menggunakan tablet antijamur. Tablet ini bekerja efektif untuk mengatasi panu yang penyebarannya lebih luas. Meski sangat efektif, tetapi tablet antijamur bisa menimbulkan ruam pada kulit. Oleh sebab itu, diskusikan juga terlebih dahulu dengan dokter sebelum menggunakannya. 

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2019. Tinea Versicolor.
US National Library of Medicine National Institutes of Health. Diakses pada 2019. Prevalence of Pityriasis Versicolor in Young Italian Sailors.