Biduran Bisa Sebabkan Anafilaksis, Ini 13 Gejalanya

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
biduran, syok anafilaktik, gatal gatal

Halodoc, Jakarta - Jika kamu belum pernah mendengar istilah anafilaksis, kondisi ini dikategorikan sebagai suatu reaksi alergi yang berbahaya. Mengapa? Karena selain dapat menyebabkan kehilangan kesadaran, anafilaksis juga bisa menyebabkan kematian. Lalu, apakah biduran bisa sebabkan anafilaksis? Apa gejala yang muncul dari kondisi ini?

Baca juga: Perlu Tahu, Ini Alergi yang Sering Dialami Anak

Mengapa Anafilaksis Bisa Terjadi?

Syok anafilaktik merupakan suatu reaksi alergi yang dapat menyebabkan hilangnya kesadaran atau bahkan kematian. Reaksi alergi ini dapat terjadi dan memengaruhi seluruh tubuh. Anafilaksis juga dianggap sebagai kondisi medis darurat. Kondisi ini berpotensi mengancam jiwa pengidapnya kapan dan di mana saja, beberapa detik hingga beberapa menit setelah terpapar alergen.

Alergen merupakan zat apapun yang dapat menjadi penyebab terjadinya reaksi alergi dalam tubuh pengidap. Reaksi anafilaksis terjadi ketika sistem imun tubuh merespons alergen yang dianggap berbahaya secara berlebihan, sehingga mengakibatkan tekanan darah turun tiba-tiba (syok). Saluran udara yang terhambat dapat menyebabkan terganggunya pernapasan.

Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan paparan memicu respons dari sistem kekebalan tubuh, sehingga dapat menyebabkan syok dan bahkan kematian. Syok anafilaktik sendiri terjadi apabila pengidap mempunyai alergi terhadap suatu makanan, serangga, atau obat-obatan.

Biduran Bisa Sebabkan Anafilaksis, Ini Gejalanya

Syok anafilaktik bisa disebabkan oleh biduran. Biduran sendiri merupakan reaksi kulit yang ditandai dengan ruam pada kulit dan terasa gatal.  Biduran ini menjadi gejala umum dari anafilaksis yang ditandai dengan ruam yang bisa muncul dan menyebar ke bagian tubuh lainnya dengan ukuran yang berbeda-beda. Gejala anafilaksis lainnya, meliputi:

  1. Pilek atau bersin.

  2. Mual dan muntah-muntah.

  3. Badan tiba-tiba terasa hangat.

  4. Pengidap tambak gelisah dan bingung.

  5. Pembengkakan pada daerah lidah dan bibir.

  6. Kulit terasa gatal dan adanya ruam pada kulit.

  7. Bengkak pada tenggorokan, dan kesulitan menelan.

  8. Kepala tiba-tiba terasa pusing dan tiba-tiba pingsan.

  9. Sensasi kesemutan pada tangan, mulut, kaki, dan kulit kepala.

  10. Kesulitan dalam bernapas karena saluran udara yang terhambat.

  11. Terasa melayang ingin pingsan, sampai kehilangan kesadaran.

  12. Denyut nadi melemah, keringat dingin, dan muka tampak pucat.

  13. Detak jantung yang cepat dan makin melemah.

Gejala syok anafilaktik lainnya meliputi:

Dikarenakan gejalanya yang bertambah parah dengan sangat cepat, dibutuhkan waktu 30-60 menit untuk melakukan pengobatan. Hal ini dikarenakan gejala yang timbul kadang kala dapat berakibat fatal. Gejala syok anafilaktik memiliki pola, seperti:

  1. Gejala timbul beberapa menit setelah kamu menyentuh atau memakan sesuatu yang merupakan penyebab munculnya suatu alergi.

  2. Sejumlah gejala timbul dalam waktu yang bersamaan seperti ruam, pembengkakan, dan muntah.

  3. Setelah gejala tersebut hilang, gejala yang sama akan datang kembali 8-72 jam kemudian.

Baca juga: 4 Alergi Kulit yang Bisa Terjadi pada Bayi

Penyebab Seseorang Mengidap Anafilaksis

Sejumlah faktor yang dapat memperbesar risiko seseorang mengalami syok anafilaktik adalah memiliki penyakit asma dan alergi. Memiliki riwayat syok anafilaktik sebelumnya juga memperbesar risiko terkena anafilaksis, baik pada pengidap atau anggota keluarga yang lain. Beberapa alergen yang dapat memicu terjadinya reaksi syok anafilaktik, antara lain:

  1. Makanan, seperti hidangan laut, telur, susu, kacang-kacangan, atau buah-buahan.

  2. Sengatan serangga, seperti lebah atau tawon.

  3. Obat-obatan tertentu, seperti obat antiinflamasi non-steroid, antibiotik, dan obat bius.

  4. Menghirup debu lateks.

Cara terbaik untuk menghentikan anafilaktik adalah menghindari pemicu yang dapat membuat syok anafilaktik terjadi, seperti makanan atau hal-hal lain yang membuat timbulnya alergi. Biasanya, dokter akan mengetahui pemicu alergi dengan tes sederhana, seperti tes tusuk kulit atau tes darah.

Baca juga: Biduran, Alergi atau Penyakit?

Jika seseorang mengidap kondisi ini, harus segera dibawa ke unit gawat darurat untuk mendapatkan suntikan epinefrin. Jika kamu punya gejala anafilaksis atau masalah kesehatan lainnya dan ingin ngobrol langsung dengan dokter ahli, Halodoc bisa jadi solusinya! Kamu bisa diskusi langsung dengan dokter ahli melalui Chat atau Voice/Video Call. Yuk, download aplikasinya di Google Play atau App Store!