15 March 2019

Bisakah Pembedahan Saluran Cerna Sebabkan Peritonitis

penyebab peritonitis, infeksi bakteri atau jamur, Peritonitis merupakan

Halodoc, Jakarta - Peritonitis merupakan peradangan pada peritoneum, dan biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri atau jamur. Peritoneum adalah membran dalam seperti sutra yang menutupi dan menyangga organ di dalam perut. Peradangan pada peritoneum ini biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri atau jamur.

Berdasarkan asal infeksinya, peritonitis dibagi menjadi dua, yaitu peritonitis primer dan sekunder. Peritonitis primer disebabkan oleh infeksi yang memang berawal pada peritoneum. Kondisi ini dapat dipicu oleh gagal hati dengan asites, atau akibat tindakan CAPD pada gagal ginjal kronis.

Sedangkan peritonitis sekunder terjadi akibat penyebaran infeksi dari saluran pencernaan. Kedua jenis peritonitis tersebut sangat berbahaya dan mengancam nyawa. Bahkan pada pengidap sirosis, kematian akibat peritonitis dapat mencapai 40 persen.

Baca juga: Inilah 6 Penyebab dan Faktor Terjadinya Peritonitis

Apabila seseorang mengalami kondisi berikut, kemungkinan akan menyebabkan peritonitis:

  • Luka perut atau cedera.
  • Usus buntu yang pecah.
  • Ulkus atau luka lambung.
  • Usus berlubang.
  • Diverticulitis, ketika kantung terbentuk pada dinding usus besar dan menjadi meradang.
  • Pankreatitis, merupakan peradangan pada pankreas.
  • Sirosis hati atau jenis lain dari penyakit hati.
  • Infeksi kandung empedu, usus, atau aliran darah.
  • Penyakit radang panggung, yang merupakan infeksi organ reproduksi wanita.
  • Penyakit Crohn, merupakan jenis penyakit inflamasi usus.
  • Prosedur medis invasif, termasuk pengobatan untuk gagal ginjal, operasi, atau penggunaan selang untuk makan.

Baca juga: Bahaya Apendisits yang Tidak Ditangani dengan Tepat

Apabila tidak segera diobati, infeksi dapat memasuki aliran darah kamu, menyebabkan syok dan kerusakan organ-organ lain. Hal ini bisa berakibat fatal. Potensi komplikasi peritonitis primer yang perlu kamu tahu meliputi:

  • Ensefalopati, yaitu hilangnya fungsi otak dan terjadi saat hati tidak dapat lagi membuang zat beracun dari darah kamu.
  • Sindrom hepatorenal, yaitu gagal ginjal yang progresif akibat kegagalan hati.
  • Sepsis, merupakan reaksi parah yang terjadi saat aliran darah menjadi kewalahan oleh bakteri.

Komplikasi peritonitis sekunder meliputi:

  • Abses intra-abdominal, merupakan kumpulan nanah.
  • Usus gangren, merupakan jaringan usus yang mati.
  • Adhesi intraperitoneal, merupakan pita dari jaringan fibrosa menempel dengan organ perut dan dapat menyebabkan penyumbatan usus.
  • Syok septik, ditandai dengan tekanan darah yang sangat rendah.

Bagaimana cara mencegah peritonitis? Pada orang-orang tertentu dengan sirosis dan asites, dokter mungkin akan meresepkan antibiotik untuk mencegah peritonitis. Walaupun peritonitis dapat menjadi komplikasi dari dialisis peritoneal, itu kurang umum. Pasalnya, teknologi yang ditingkatkan dan teknik perawatan diri yang diajarkan selama pelatihan awal.

Baca juga: Ini Penyebab Sakit Perut Bawah Sebelah Kiri pada Wanita

Apabila kamu mengalami dialisis peritoneal, kamu bisa menurunkan risiko peritonitis dengan mengikuti tips berikut:

  • Cuci tangan hingga bersih, termasuk benda-benda di antara jari-jari dan di bawah kuku kamu, sebelum menyentuh kateter.
  • Kenakan masker mulut atau hidung.
  • Amati teknik pertukaran steril yang benar.
  • Oleskan krim antibiotik ke area keluar kateter setiap hari.

Sebelum gejala gangguan peritonitis yang kamu alami semakin parah, ada baiknya kamu mengkomunikasikannya pada dokter melalui aplikasi Halodoc untuk mendapatkan saran penanganan yang tepat. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana saja. Saran dokter dapat diterima dengan praktis dengan cara download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store.