Belum Punya Anak, Periksa Kesuburan dengan Cara Ini

Belum Punya Anak, Periksa Kesuburan dengan Cara Ini
KEHAMILAN 25 April 2018

Halodoc, Jakarta – Pasangan yang belum mendapatkan momongan meski sudah lama menikah diduga memiliki masalah dengan kesuburan. Kaum hawa lah yang sering kali dipersalahkan bila pasangan belum juga mempunyai anak. Padahal, masalah kesuburan ini bisa terjadi baik pada wanita maupun pria. Oleh karena itu, pemeriksaan kesuburan idealnya dilakukan oleh kedua belah pihak.

Apa yang Dimaksud Mandul?

Di Indonesia, tingkat kesadaran suami istri yang belum punya anak untuk melakukan tes kesuburan masih termasuk rendah. Dari penelitian yang dilakukan pada sebuah rumah sakit di Indonesia, ditemukan bahwa 56 persen pasangan memilih untuk tidak memeriksakan kesuburan mereka karena takut menghadapi hasil terburuk pemeriksaan, seperti dinyatakan mandul. Padahal, pemeriksaan kesuburan sangat penting agar masalah keturunan bisa mendapatkan solusinya. Sebelum melakukan tes kesuburan, ada baiknya kamu mengetahui kapankah seseorang dinyatakan mandul?

Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menyatakan kemandulan atau infertilitas adalah gangguan pada sistem reproduksi yang menyebabkan kegagalan untuk mencapai kehamilan setelah melakukan hubungan intim tanpa alat kontrasepsi selama 12 bulan berturut-turut. Kesulitan memiliki anak bagi pasangan yang belum punya anak sama sekali disebut infertilitas primer, sedangkan pasangan yang gagal untuk memiliki anak berikutnya disebut infertilitas sekunder. Pada sebagian besar kasus kemandulan, masalah kesuburan disebabkan karena terhambatnya ovulasi pada saluran indung telur, masalah saluran tuba falopi yang terhambat, atau karena masalah dengan sperma. Sedangkan, ada juga pasangan yang tidak berhasil memiliki anak meski semua hasil tes kesuburan normal.

Kapan Harus Memeriksakan Kesuburan?

Bagi pasangan yang baru menikah selama 4 bulan, tidak perlu was-was dulu apabila belum memiliki anak. Karena pada umumnya, 75 persen pasangan yang menikah akan hamil dalam jangka waktu kurang dari 6 bulan, sedangkan 25 persen akan hamil dalam jangka waktu 6-9 bulan setelah menikah. Namun, bila kamu sudah menikah selama 12 bulan dan aktif melakukan hubungan suami istri tanpa menggunakan alat kontrasepsi dan tanda-tanda kehamilan masih juga belum terlihat, kamu dianjurkan untuk melakukan tes kesuburan.

Tahapan Pemeriksaan Kesuburan

Tes kesuburan umumnya diawali dengan pemeriksaan fisik, kemudian dilanjutkan dengan tes-tes khusus pada bagian reproduksi.

Tes Kesuburan Pria

Berikut adalah beberapa tes yang akan dijalani pria untuk mengetahui kesehatan reproduksinya: (Baca juga: Serba-serbi Kesuburan Pada Pria yang Harus Diketahui)

  • Analisis Sperma. Pria akan diminta untuk memberikan sampel air maninya untuk dilakukan pemeriksaan. Air mani ini bisa didapatkan dengan cara masturbasi atau saat melakukan hubungan intim dengan pasangan. Kemudian, analisis sperma akan dilakukan.
  • USG. Pemeriksaan USG bertujuan untuk mendeteksi kemungkinan adanya gangguan pada organ reproduksi pria.
  • Pemeriksaan Hormon. Pemeriksaan ini penting untuk menentukan tingkat testosteron dan hormon pria lainnya.
  • Biopsi Testis. Pada kasus tertentu, perlu dilakukan pemeriksaan dengan mengambil sampel dari jaringan testis. Tes ini bertujuan untuk memeriksa adanya kemungkinan masalah pada proses produksi sperma.
  • Pemeriksaan Chlamydia. Melalui contoh urine, dokter akan memeriksa apakah terdapat Chlamydia, penyakit yang bisa menyebabkan kemandulan.
  • Pemeriksaan Genetik. Kelainan genetik juga bisa menyebabkan kemandulan. Oleh karena itu, tes ini penting dilakukan.

Tes Kesuburan Wanita

Untuk wanita, tes kesuburan akan dimulai dengan pemeriksaan fisik, catatan riwayat kesehatan, dan pemeriksaan ginekologi. Pemeriksaan fisik dilakukan dengan cara diraba untuk mengetahui bentuk anatomi organ-organ reproduksi wanita, seperti payudara, kelenjar tiroid pada leher, serta Miss V. Berikut sejumlah tes yang mungkin akan dilakukan: (Baca juga: Ini Tanda Wanita Sedang Dalam Masa Subur)

  • Tes Ovulasi. Tes yang dilakukan dengan pengambilan darah ini bertujuan untuk mengukur tingkat hormon untuk menentukan apakah kamu berovulasi dan menghasilkan sel telur secara teratur.
  • Pemeriksaan Cadangan Sel Telur pada Ovarium. Tes ini biasanya diawali dengan pemeriksaan hormon di awal siklus menstruasi. Melalui tes ini, bisa diketahui kualitas dan jumlah sel telur yang tersedia untuk ovulasi.
  • Tes Hormon. Kemungkinan kamu juga akan diminta untuk melakukan tes hormon, seperti hormon tiroid dan kelenjar pituitari yang juga turut memengaruhi proses reproduksi.
  • Hysteroscopy. Dokter kandungan mungkin akan menganjurkanmu untuk melakukan tes ini bila kamu memiliki keluhan soal kesuburan. Tes ini dilakukan dengan cara memasukkan alat khusus melalui leher rahim untuk memantau kondisi rahim dan memeriksa apakah ada kelainan.

Jika kamu memiliki keluhan seputar kesuburan, tanyakan saja langsung kepada dokter melalui aplikasi Halodoc. Para dokter yang ahli dan profesional siap untuk membantumu dan memberikan saran kesehatan melalui Video/Voice Call dan Chat. Ayo, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.


Rekomendasi Artikel

SEKS

17 July 2018

Perasaan cinta memang bisa menciptakan ‘pertempuran’ hormon di dalam tubuh, terutama otak. Namun, benarkah pe...

Selengkapnya

KEHAMILAN

17 July 2018

Umumnya pada kehamilan 36 minggu kepala bayi sudah berada di bawah, bukannya berada dalam posisi sungsang. Lal...

Selengkapnya

IBU & ANAK

17 July 2018

1000 kehidupan ini dimulai dari fase kehamilan (270) hari hingga Si Kecil berusia dua tahun (730) hari. Lalu, ...

Selengkapnya