Bolehkah Ibu Hamil Minum Antibiotik?

Bolehkah Ibu Hamil Minum Antibiotik?
KEHAMILAN 05 April 2018

Halodoc, Jakarta -  Tentunya banyak hal yang perlu diperhatikan ketika hamil. Agar Si Kecil lahir dengan sempurna dan ibu tetap sehat paska melahirkan. Dari banyaknya hal yang perlu diamati, penggunaan obat termasuk hal yang patut diwaspadai. Kamu pasti tahu, sangat penting untuk mengetahui efek obat apa pun yang akan kamu minum dan bisa memengaruhi kesehatan bayi. Nah, penggunaan antibiotik untuk ibu hamil merupakan salah satu yang paling sering membuat ibu cemas.

Pasalnya, obat ini enggak jarang memiliki efek yang bisa menimbulkan masalah pada janin. Melansir Fit Pregnancy, sebuah studi yang dilakukan oleh European Lung Foundation menemukan, penggunaan antibiotik selama trimester ketiga kehamilan bisa meningkatkan risiko bayi mengembangkan mengi (suara seperti siulan nyaring yang terdengar saat menarik ataupun mengembuskan napas).

Yang perlu diketahui, mengi hanyalah satu dari banyaknya masalah medis yang bisa ditimbulkan karena penggunaan antiobiotik yang keliru. Lalu, apa ibu hamil benar-benar enggak boleh mengonsumsi antibiotik?

Dilema karena Infeksi

Melansir Parents, menurut para ahli, dari 13.000 ibu hamil sebanyak 30 persen dari mereka setidaknya menjalani satu kali pengobatan antibiotik antara tiga bulan sebelum konsepsi (pembuahan) dan akhir kehamilan mereka. Nah, studi dari National Birth Defects Prevention punya kesimpulan lain terhadap penggunaan antibiotik untuk ibu hamil.

Kata ahli di sana, penggunaan antibiotik memiliki potensi untuk menyebabkan kelainan kongenital pada bayi yang baru lahir. Kelainan kongenital sendiri merupakan abnormalitas yang terjadi pada janin selama masa perkembangan janin sebelum kelahiran. Kelainannya bisa berupa kelainan pada  struktur atau fungsi anggota badan janin.

(Baca juga: Manfaat Mendegarkan Musik Untuk Ibu Hamil)

Dari banyaknya kasus kesehatan, biasanya infeksi yang paling sering jadi biang keladi harus digunakannya antibiotik untuk mengatasi masalah medis tersebut. Misalnya, infeksi saluran kemih. Untuk infeksi bakteri seperti ini, antibiotik adalah satu-satunya obat yang akan membantu ibu jadi lebih baik. Jadi, ibu harus meminumnya meskipun ada risiko bagi kesehatan bayi. Lho, kok begitu? Kata ahli genetika reproduksi dari AS, dalam beberapa kasus bila tidak mengobati penyakit seperti di atas, justru lebih berisiko meningkatkan masalah kesehatan pada bayi yang lebih serius.

Untungnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) di AS, punya Pharmaceutical Pregnancy Categories, sederhananya pedoman untuk mengetahui keamanan obat sebelum melahirkan. Kategorinya di dasarkan pada kelompok obat A, B, C, D, dan X. Obat dengan katerogi A termasuk aman untuk digunakan pada ibu hamil, sedangkan obat-obatan dalam kategori X telah terbukti berbahaya bagi janin, sehingga tidak boleh dikonsumsi.

Kata ahli di sana, cacat lahir yang terkait dengan antibiotik yang didefinisikan kategori X meliputi anensefali (malformasi fatal tengkorak dan otak), penyumbatan saluran hidung, diagragma hernia, cacat mata, hingga cacat jantung.

Perlunya Saran Dokter

Jadi, apa antibiotik untuk ibu hamil pasti menyebabkan masalah kesehatan pada janin? Tunggu dulu, jangan menarik kesimpulan secepat itu. Kata ahli, ini masih “hitam-putih”, dan pastinya ada opsi aman yang tersedia bila ibu harus mengonsumsi antibiotik. Misalnya, bila ibu hamil mengidap infeksi virus, biasanya dokter akan menggunakan alternatif lain selain antibiotik.

Alasannya, antibiotik enggak ampuh untuk menyingkirkan infeksi yang disebabkan virus. Selain itu, terlalu sering menggunakan antibiotik justru menyebabkan bakteri jadi resistan terhadap obat.

Menurut para ahli, dokter akan selalu berhati-hati bila hendak meresepkan antibiotik untuk ibu hamil. Sebab, setiap antibiotik punya efek yang berbeda satu sama lain. Dengan kata lain, banyak obat (tak hanya antibiotik) yang benar-benar aman untuk dikonsumsi selama kehamilan, tapi ada juga yang bisa menyebabkan kelainan lahir yang serius.  

 Nah, agar kesehatan ibu dan janin tidak terganggu karena keliru mengonsumsi obat, pastikan untuk berdiskusi dengan dokter sebelum mengonsumsinya. Ibu bisa menghubungi dokter melalui aplikasi Halodoc untuk berdiskusi mengenai masalah tersebut. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.


Rekomendasi Artikel

IBU & ANAK

17 September 2018

Agar perkembangan bicara anak lancar, sebaiknya ibu perlu mengetahui dampak gadget bagi dirinya....

Selengkapnya

KECANTIKAN

17 September 2018

Menemukan sebuah jerawat yang baru, muncul di wajah pada pagi hari adalah hal yang menyebalkan bagi siapa saja...

Selengkapnya

KECANTIKAN

17 September 2018

Pernah dengar campak jerman? Penyakit yang memiliki gejala yang mirip dengan cacar air ini disebabkan oleh vir...

Selengkapnya