Bukan Hanya Hipertensi, Kenali 3 Penyebab Perdarahan Subarachnoid

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
perdarahan subarachnoid, pembuluh darah, Perdarahan subarachnoid (SAH)

Halodoc, Jakarta - Perdarahan subarachnoid (SAH) terjadi pada area yang terletak di antara otak dan lapisan pembungkus otak, yang disebut ruang subarachnoid. Di ruang ini, terdapat cairan serebospinal atau cerebospinal fluid (CSF) yang melindungi otak dari cedera. Hal yang perlu diwaspadai dari kondisi perdarahan subarachnoid ini adalah dapat mengakibatkan koma, kelumpuhan atau paralisis, bahkan kematian. Perdarahan ini biasanya terjadi dengan cepat dan sering kali disebabkan oleh trauma kepala.

Penyebab terjadinya perdarah subarachnoid dibagi menjadi dua, yaitu traumatik dan non-traumatik. Perdarahan subarachnoid traumatik terjadi akibat cedera kepala berat, misalnya karena kecelakaan lalu lintas, terjatuh, atau tertimpa benda pada kepala. Cedera berat ini dapat mengakibatkan pembuluh darah selaput meningen pecah dan menyebabkan perdarahan subarachnoid. Perdarahan subarachnoid non-traumatik dapat terjadi tanpa didahului oleh cedera dan muncul secara tiba-tiba.

Baca juga: Ketahui Komplikasi Perdarahan Subarachnoid yang Telah Diobati

Seseorang dapat lebih mudah mengalami perdarahan subarachnoid apabila memiliki faktor penyebab seperti:

  1. Aneurisma

Selain trauma fisik parah pada kepala, penyebab paling umum dari perdarahan subarachnoid adalah aneurisma yang pecah. Aneurisma adalah pembengkakan pembuluh darah yang disebabkan dinding pembuluh yang melemah. Semakin besar bengkaknya, semakin tinggi risiko aneurisma dapat pecah.

  1. Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi)

Memiliki tekanan darah tinggi (hipertensi) memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami aneurisme yang berisiko pecah. Selain itu, cacat bawaan pada beberapa orang juga dapat menyebabkan pembuluh darah melemah dan menipis, sehingga meningkatkan risiko aneurisma.

  1. Malformasi Arteri

Kondisi lainnya yang dapat menyebabkan perdarahan subarachnoid adalah malformasi arteri yang biasa disingkat AVM. Kondisi AVM merupakan sekelompok pembuluh darah (pembuluh arteri dan vena) yang berkembang secara tidak normal, sehingga saling berhubungan satu sama lain. Kedua pembuluh darah ini terhubung oleh fistula, sehingga terkadang juga disebut dengan fistula arteriovenosa.

Baca juga: Tanpa Gejala, Perdarahan Subarachnoid Bisa Sebabkan Stroke

AVM juga merupakan perdarahan subarachnoid yang sering ditemukan. AVM dapat terjadi pada pembuluh darah di sumsum tulang belakang, batang otak, atau otak. Pembuluh darah yang mengalami malformasi dapat membentuk aneurisma.

Selain itu, penyebab lainnya adalah:

  • Kebiasaan merokok.
  • Kecanduan alkohol.
  • Riwayat perdarahan subarachnoid di dalam keluarga.
  • Penyakit ginjal polikistik.
  • Penyakit liver.
  • Tumor otak, baik ganas maupun jinak, yang berdampak pada pembuluh darah.
  • Infeksi pada otak (ensefalitis).
  • Fibromuscular dysplasia, yaitu kondisi langka yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah.
  • Penyakit Moyamoya, yaitu kondisi langka yang menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah di otak.
  • Peradangan pada pembuluh darah (vaskulitis).

Baca juga: Mitos atau Fakta, Perdarahan Subarachnoid Bisa Disembuhkan

Untuk menangani perdarahan subarachnoid, penanganan yang tepat dan cepat sangat diperlukan untuk menyelamatkan nyawa pengidapnya dan mencegah kerusakan otak. Perdarahan akan terakumulasi, sehingga tekanan pada otak meningkat, yang kemudian dapat menyebabkan koma dan kerusakan otak yang lebih parah. Tekanan tersebut harus diatasi dengan obat-obatan atau dengan cara mengeluarkan Cerebrospinal fluid (CSF).

Apabila perdarahan subarachnoid tidak menyebabkan penurunan kesadaran, pengidap harus istirahat total. Melakukan aktivitas seperti membungkuk dapat meningkatkan tekanan pada otak. Obat-obatan juga perlu diberikan, misalnya obat tekanan darah, obat pencegah spasme pembuluh darah seperti nimodipin, dan obat antinyeri untuk nyeri kepala.

Satu-satunya cara untuk mencegah perdarahan subarachnoid adalah dengan mencari kemungkinan masalah pada otak, seperti aneurisma. Deteksi dini aneurisma dengan mengkomunikasikan gejala yang kamu alami pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana saja. Saran dokter dapat diterima dengan praktis dengan cara download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga.