Canggung dengan Orangtua, Kepada Siapa Bertanya tentang Seks?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Canggung dengan Orangtua, Kepada Siapa Bertanya tentang Seks?

Halodoc, Jakarta - Memasuki usia remaja, kelak mereka jadi serba ingin tahu banyak hal. Terlebih ketika mereka sudah mulai memasuki usia pubertas, maka ciri fisik mereka akan berubah dan mereka pun akan penasaran dengan yang terjadi pada diri mereka. Tidak hanya itu, keingintahuan mereka akan fungsi seksual pun muncul. Namun sayangnya, remaja kerap menyisakan berbagai macam pertanyaan yang tidak terjawab dengan tuntas. Oleh karena itu, pendidikan seks untuk remaja sangat diperlukan.

Kebanyakan dari remaja bahkan tidak ingin menanyakannya pada orangtua mereka, meski kebanyakan orangtua kini lebih terbuka akan hal tersebut. Ini dibuktikan oleh penelitain yang dilakukan TECHsex Youth Sexuality and Health Online di Amerika Serikat pada 2017. Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa nyatanya dari 1500 responden usia 13-24 tahun, hanya 7 persen saja yang menganggap keluarga sebagai tempat belajar terkait seks, seksualitas, dan kesehatan reproduksi yang paling efektif. 

Baca juga: Usia yang Tepat untuk Mulai Pendidikan Seks pada Anak

Jika Tidak Bertanya pada Orangtua, Bagaimana Remaja Memahami Seks? 

Masih dari penelitian yang sama, nyatanya sebanyak 30 persen di antara mereka memilih untuk bertanya pada dokter dan 21 persen lain menggunakan Google atau mesin pencari lain. Mereka yang memilih internet dikarenakan mereka menawarkan kerahasiaan, jawaban yang cepat, dan tidak perlu bertanya langsung pada orang dewasa. 

Kabar baiknya, kini kamu juga bisa chat dengan dokter di Halodoc untuk menanyakan seputar seks, seksualitas, atau menjaga kesehatan reproduksi. Hanya dengan genggaman, dokter akan memberikan saran kesehatan yang tepat untuk kamu. 

Lantas, Mengapa Remaja Enggan Bertanya pada Orangtua Mengenai Seks? 

Terdapat beberapa alasan mengapa remaja enggan menanyakan hal terkait terkait seks, seksualitas, dan kesehatan reproduksi. Alasan tersebut antara lain:

  • Takut bertanya.

  • Takut mendapat masalah karena dianggap tabu.

  • Tidak yakin orangtua mau menjawab dengan jujur.

  • Tidak yakin orangtua membolehkan mereka bertanya tentang seks.

  • Malu.

Mungkin orangtua bisa saja kecewa karena ia tidak dijadikan rujukan utama soal seks. Namun, alasan remaja menghindari hal ini cukup beralasan. Bisa aja remaja hanya ingin tahu, tetapi orangtua sudah berpikir yang tidak-tidak. Bisa juga mereka memang telah mencoba aktivitas seksual. Oleh karena itu, menanyakan hal ini di internet menjadi pilihan utama yang mereka anggap aman. 

Baca juga: Film Dua Garis Biru Bukti Remaja Belum Siap Jadi Orangtua

Jika Internet Dianggap Aman, ke Mana Harus Bertanya Seputar Seks?

Mengingat internet melalui mesin pencari hanya memberikan jawaban, remaja memiliki sejumlah pilihan online lain jika membutuhkan jawaban yang sifatnya segera atau konsultasi. Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk bertanya seputar seks, antara lain: 

  • Kolom Komentar Instagram. Adanya kolom komentar dan fitur direct message akan memungkinkan remaja bertanya kepada admin dari akun tersebut. Bisa juga, remaja melihat pertanyaan yang masuk dan respons yang diberikan oleh admin melalui kolom komentar. Memang terdapat banyak sekali akun yang membahas dan memberikan informasi mengenai kesehatan reproduksi dan seksual untuk remaja, sehingga mereka bisa dengan aman dan mendapatkan informasi yang jelas di sana. 

  • Situs Kesehatan. Beberapa situs kesehatan juga membuka kesempatan bagi siapapun untuk bertanya langsung pada dokter. Misalnya Halodoc yang memungkinkan penggunanya untuk chat dengan dokter. 

  • Kolom Komentar Portal Khusus Remaja. Karena pamor majalah remaja sudah turun, kini banyak bermunculan situs khusus remaja. Beberapa di antaranya adalah versi digital dari majalah yang sebelumnya ada. Biasanya di situs tersebut juga terdapat kanal supaya anak remaja bisa bertanya seputar kesehatan reproduksi dan seks. 

Baca juga: Ini Caranya Berikan Edukasi Seksual Pada Anak

Apapun pilihan yang diambil para remaja, ini bisa jadi kesempatan baik untuk membekali mereka tentang kesehatan reproduksi dan seksual. Asalkan orangtua juga harus membekali para remaja tentang cara berselancar dengan aman di dunia maya, supaya mereka tidak mendapatkan informasi yang keliru. 

*artikel ini pernah tayang di SKATA