Cegah Tinea Capitis dengan Kebiasaan Ini

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Tinea Capitis, hewan peliharaan

Halodoc, Jakarta - Ternyata selama ini penyebab penyakit kulit jamur bukanlah cacing, melainkan sejumlah kecil jamur yang hanya dapat dilihat melalui mikroskop yang dikenal dermatofita (tinea). Jamur yang menyebabkan tinea capitis memiliki kemampuan untuk berkembang di lingkungan yang hangat dan lembab. Orang yang mengalami perubahan hormon dalam tubuh membuat sistem kekebalan tubuh lemak dan rentan terhadap jamur kulit dibandingkan dengan kondisi normalnya.

Ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan untuk mencegah atau menurunkan risiko terjadinya tinea kapitis, yaitu:

  • Mengedukasi diri sendiri dan orang lain. Kenali risiko tertularnya tinea capitis dari orang lain ataupun hewan peliharaan yang terinfeksi. Beritahu anak dan keluarga kamu jika mengalami tinea capitis, hal-hal yang harus diwaspadai, dan cara mencegah tertularnya infeksi.

  • Keramas secara rutin. Pastikan bahwa jadwal keramas sudah rutin dilakukan, terutama setelah potong rambut.

  • Jaga kebersihan. Pastikan jika anak dan keluarga kamu sering mencuci tangan untuk mencegah penyebaran infeksi. Jaga kebersihan area seperti sekolah, tempat penitipan anak, sarana olahraga, dan sebagainya.

  • Jauhi hewan yang terinfeksi. Infeksi biasanya tampak seperti pitak pada kulit di lokasi tidak terdapat bulu. Namun, pada beberapa kasus, tidak ditemukan tanda atau gejala.

  • Hindari berbagi barang pribadi. Beritahu anak dan keluarga kamu untuk tidak mengizinkan orang lain menggunakan pakaian, handuk, sisir, atau barang pribadi lainnya, atau meminjam dari orang lain.

Baca juga: Faktor yang Menjadi Pemicu Tinea Capitis

Gejala tinea capitis bisa bervariasi pada setiap pengidapnya. Beberapa yang sering terlihat yaitu terdapat bentuk seboroik pada kulit kepala yang ditandai kulit bersisik dan kerontokan rambut yang tidak terlalu terlihat. Gejala lainnya adalah adanya pola pustula (bernanah) berkerak dalam satu lokasi atau menyebar. Selain itu, terdapat titik hitam, yang merupakan tanda kerontokan rambut dari kulit kepala yang bersisik.

Selain itu, tinea capitis juga bisa disertai gejala pembengkakan kelenjar getah bening pada bagian belakang leher dan demam yang ringan. Sementara gejala yang muncul dalam kondisi lebih parah yaitu keberadaan kerion (koreng) dengan pola kulit bersisik, melingkar, serta munculnya favus atau kerak kulit berwarna kuning dengan rambut yang kusut.

Baca juga: Mengenal Jamur Penyebab Tinea Corporis

Beberapa faktor risiko juga perlu kamu waspadai agar bisa terhindar dari gangguan ini, yaitu:

  • Usia. Tinea capitis paling sering ditemukan pada balita dan anak usia sekolah.

  • Paparan pada anak-anak lain. Wabah tinea capitis cukup umum ditemukan di sekolah atau tempat penitipan anak, yaitu ketika infeksi bisa menyebar dengan mudah akibat kontak fisik.

  • Paparan terhadap hewan peliharaan. Hewan peliharaan, seperti anjing dan kucing, bisa terinfeksi tanpa menunjukkan tanda atau gejala. Anak-anak bisa tertular saat menyentuh atau mengelus hewan yang terinfeksi.

Baca juga: Faktor yang Dapat Meningkatkan Risiko Terkena Tinea Corporis

Itulah beberapa hal yang dapat kamu lakukan untuk mencegah tinea capitis. Jika kamu mencurigai adanya gejala, meski sudah berusaha mencegahnya, segera komunikasikan pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana saja. Saran dokter dapat diterima dengan praktis dengan cara download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga.