Cyberbullying Bisa Sebabkan Depresi Hingga Bunuh Diri

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Cyberbullying Bisa Sebabkan Depresi Hingga Bunuh Diri

Halodoc, Jakarta - Coba tebak, apa kesamaan dari public figure seperti Arumi Bachsin, Yulia Rachman, Angelina Sondakh, Tessy, dan Ria Ricis? Jangan kaget, ternyata semua sama-sama pernah mencoba untuk mengakhiri hidupnya alias bunuh diri

Beberapa hari lalu, media sosial sempat dikejutkan dengan pengakuan Youtuber Ria Ricis. Dalam video yang diunggahnya berjudul “Saya Pamit untuk Mulai”, Ria Ricis memberikan pengakuan yang cukup mengejutkan. Ternyata wanita berusia 24 tahun itu, sempat berniat untuk menghabisi nyawa sendiri. 

Dengan tangan yang bergemetar, ia mengarahkan pisau ke tubuhnya. Entah karena apa, untungnya wanita itu kembali sadar dari pikirannya yang kalut. Ia pun melemparkan pisau tersebut sekencang-kencangnya. 

Baca juga: Ada Aksi Bunuh Diri, Kenapa Orang Pilih Merekam?

Efek CyberBullying Tidak Main-Main

Percobaan bunuh diri yang hendak dilakukan Youtuber dengan subscriber 16 juta itu, merupakan imbas dari cyberbullying yang dihadapinya.  Pada 27 Juli 2019, Ria Ricis mengunggah video berjudul “Saya Pamit” ke akun Youtube-nya. Video pamit itu mengundang pro-kontra. Ria Ricis di-bully dan dihujat oleh banyak orang. Nah, kondisi inilah yang membuat dirinya depresi. 

Menurut ahli dari The Foster Care Institute, kasus perundungan telah berubah pada abad ke-21 dengan munculnya teknologi dan media sosial. Cyberbullying atau perundungan di dunia maya merupakan tindak intimidasi, mempermalukan, penghinaan, atau pelecehan yang disengaja melalui internet. Sebagian besar kasusnya dialami oleh anak-anak dan remaja. 

Hal yang perlu ditegaskan, dampak dari cyberbullying serupa dengan rundungan (penindasan) langsung. Bahkan, efeknya bisa lebih berat bila aksi ini dilakukan terus-menerus oleh banyak orang dari berbagai latar belakang. 

Menurut studi dalam Journal of Medical Internet Research, korban cyberbullying seperti yang dialami Ria Ricis, lebih rentan untuk menyakiti dirinya sendiri, bahkan melakukan aksi bunuh diri.

Baca juga: Pengangguran Bisa Picu Depresi Hingga Bunuh Diri

Di samping itu, untuk menyelesaikan masalah cyberbullying juga terbilang sulit. Alasannya simpel, pelaku cyberbullying sulit diketahui, sebab identitasnya bisa disamarkan dan mudah untuk melarikan diri. Berbeda dengan tindakan bully secara langsung. 

Sulit Berkonsentrasi hingga Bunuh Diri

Lantas, seperti apa sih tanda-tanda bila seorang anak atau remaja mengalami cyberbullying? Awalnya, korban cyberbullying akan mengalami gangguan emosional dan fisik yang cukup parah. Contohnya, timbulnya masalah emosional, sulit berkonsentrasi, dan sulit bergaul dengan teman sebayanya. 

Enggak cuma itu saja tanda-tandanya, berikut ini beberapa tanda ketika anak mengalami  cyberbullying dalam Public Safety Canada - Government of Canada:

  • Gugup atau menunjukkan tanda-tanda kecemasan atau kesal saat menerima pesan teks, email, dan lain-lain;

  • Lebih tertutup tentang aktivitas online mereka;

  • Tiba-tiba menghapus profil akun jejaring sosialnya;

  • Memblokir satu atau lebih nomor telepon di ponsel atau laptop;

  • Banyaknya pesan teks, email, atau telepon yang muncul di smartphone atau perangkat lainnya;

  • Tampak lebih sedih, frustrasi, tidak sabar, atau jadi pemarah; 

  • Menarik diri dari keluarga dan orang lain;

  • Berusaha mencari alasan untuk tidak masuk sekolah; dan

  • Menghabiskan lebih sedikit waktu/tidak lagi menggunakan komputer atau smartphone. 

Hal yang perlu orangtua garisbawahi, bila gangguan emosional ini tak ditangani dengan cepat, maka bukan tak mungkin memicu keinginan bunuh diri. 

Baca juga: Bagaimana Cara Cegah Bunuh Diri yang Terinspirasi dari '13 Reasons Why'?

Nah, bila anak mengalami tanda-tanda di atas, segeralah tanyakan kepada dokter ahli atau psikolog untuk mendapatkan saran yang tepat melalui aplikasi Halodoc.

Tidak Selalu Luka Psikologi

Depresi memang disangkutpautkan dengan bunuh diri atau bahkan diduga menjadi biang keladi dari kasus bunuh diri. Akan tetapi, faktanya kasus kematian ini tak selalu berkaitan dengan luka psikologi.

Peristiwa ini juga cenderung lebih pada rasa putus asa. Bunuh diri bukanlah sebuah sesuatu yang direncanakan, karena putus asa dapat dirasakan kapan saja. Nah, putus asa ini sendiri tak selalu disebabkan karena seseorang mengalami gangguan mental.

Menurut ahli dalam American Psychological Association, orang yang cenderung melakukan hal ini bisa dilihat dari masalah makan dan tidur juga adanya pikiran untuk sakit atau mati. Oleh sebab itu, para psikolog sepakat bahwa bila ada seseorang yang mengeluarkan pernyataan ambigu, seperti ingin membunuh dirinya sendiri, sebaiknya kita perlu memberikan perhatian pada mereka.

Mungkin yang dikatakan Phil donahue, penulis sekaligus produser film asal Amerika Serikat benar adanya. Ia bilang “Suicide is a permanent solution to a temporary problem”. Namun, satu hal yang pasti, bunuh diri bukanlah satu-satu cara untuk keluar dari masalah atau beban hidup yang kita hadapi. Setuju? 

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung kepada dokter atau psikolog melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
American Psychological Association (Diakses pada 2019). Suicide
Public Safety Canada - Government of Canada (Diakses pada 2019). Is your child being cyberbullied?
Web MD (diakses pada 2019). Emotional Troubles for 'Cyberbullies' and Victims