11 March 2019

Darah Membeku, Apa Bahayanya bagi Kesehatan?

pembekuan darah, gumpalan darah, jantung gagal

Halodoc, Jakarta - Pembekuan darah merupakan peristiwa penting dalam proses penyembuhan tubuh. Namun, di sisi lain juga dapat menciptakan masalah serius jika pembekuannya terjadi di dalam vena dan arteri yang mengalirkan darah ke dan dari jantung. Pembekuan darah dikenal juga dengan istilah koagulasi, fungsi utama dari pembekuan darah adalah mencegah darah mengalir secara bebas dari luka yang terbuka.

Untuk membekukan darah, trombosit dan plasma menarik satu sama lain dan melepaskan zat kimia yang akan menghentikan perdarahan eksternal. Setelah pembuluh darah yang pecah sembuh, tubuh akan menyerap dan menguraikan darah yang menggumpal.

Kemampuan tubuh untuk menguraikan gumpalan darah sangat penting, tetapi dalam beberapa kasus dapat terjadi kegagalan. Salah satu komplikasi pembekuan darah yang paling umum, disebabkan oleh kondisi yang disebut trombosit vena dalam.  Kondisi ini dikarakteristikan dengan terbentuknya gumpalan darah dalam vena, yang biasanya terletak di kaki.

Baca juga: Ini Bahaya Pembekuan Darah Bagi Kesehatan

Arteri mengalirkan darah kaya oksigen dari jantung ke berbagai organ. Setelah oksigen dikonsumsi, darah dialirkan kembali ke jantung melalui vena. Namun ketika gumpalan darah terbentuk dalam vena, darah mulai menumpuk di belakang gumpalan dan tidak dapat mengalir kembali ke jantung.

Hal tersebut justru dapat menyebabkan jantung gagal menerima cukup nutrisi. Apalagi gumpalan terlepas, maka dapat mengarah ke jantung dan menyebabkan beragam masalah. Sedangkan jika gumpalan menemukan jalan ke arteri yang mengalirkan darah ke otak, dapat menyebabkan stroke.

Ketika gumpalan darah terbentuk untuk menutup pembuluh darah yang terkoyak akibat lesi pada kulit, hal itu dianggap normal dan jarang menimbulkan komplikasi. Namun, ketika gumpalan darah terbentuk di dalam vena dan arteri, masalah medis dapat muncul. Ini dapat disebabkan oleh kerusakan pada lapisan dalam vena, aliran yang tidak normal dan lamban atau jika darah lebih kental dari biasanya dan lebih rentan terhadap pembekuan.

Terkadang pembekuan darah bisa terjadi tanpa adanya cedera, atau darah gagal mencair setelah cedera pulih. Hal ini bahkan dapat mengancam nyawa. Koagulasi dapat terjadi pada pembuluh darah mana saja. Gumpalan darah dapat bergerak melalui darah dan berhenti di paru-paru, jantung, otak atau daerah lainnya. Pada kasus ini, pembekuan darah dapat menghambat asupan darah ke organ-organ vital, menyebabkan komplikasi yang mematikan.

Baca juga: Ini Akibatnya Kalau Ada Pembekuan Darah di Pembuluh Paru-paru

Sementara itu, pembekuan darah selama kehamilan dapat terbentuk pada pembuluh darah pelvis atau kaki, menyebabkan komplikasi kehamilan serius seperti persalinan prematur, keguguran, dan kematian ibu. Maka itu, koagulasi adalah kondisi yang tidak boleh disepelekan.

Supaya darah bisa menggumpal dengan baik, sel tubuh kamu memerlukan platelet dan protein yang disebut faktor pembeku. Gangguan pembekuan darah terjadi saat kamu tidak memiliki cukup protein pembeku, atau keduanya tidak bekerja dengan baik.

Pada Kebanyakan kasus gangguan koagulasi merupakan kondisi genetik yang diwariskan dari orangtua ke anak. Namun, beberapa gangguan pembekuan darah juga dapat disebabkan oleh kondisi medis tertentu seperti penyakit hati, defisiensi vitamin K, dan efek samping obat-obatan tertentu, misalnya antikoagulan (memang bekerja menghambat proses pembekuan darah).

Baca juga: Penyebab Darah Mengental yang Perlu Diketahui

Gangguan pendarahan bisa dikendalikan dengan pengencer darah, tergantung pada gangguan yang kamu alami. Kamu perlu berdiskusi pada dokter melalui aplikasi Halodoc, supaya dokter dapat memberikan rencana perawatan untuk membantu kamu mengatasi kondisi kamu. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana saja. Saran dokter dapat diterima dengan praktis dengan cara download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga.