• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Demam, Pilih Rapid Test Antigen atau Rapid Test Antibodi?

Demam, Pilih Rapid Test Antigen atau Rapid Test Antibodi?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Demam menjadi salah satu gejala dari penyakit COVID-19 yang disebabkan karena virus corona. Sekilas, gejalanya mirip dengan flu, termasuk hidung tersumbat dan sakit kepala. Namun, ketika kamu terserang penyakit COVID-19, kamu juga akan mengalami sederetan gejala lainnya, seperti sesak napas, berkurangnya kemampuan indera penciuman, dan perasa. 

Nah, untuk mendeteksi apakah kamu mengalami COVID-19 atau tidak, diperlukan pemeriksaan lanjutan, seperti PCR dan rapid test. Sayangnya, masih banyak masyarakat awam yang belum mengerti benar apa sebenarnya perbedaan dari kedua metode pemeriksaan ini. Lalu, mana yang sebaiknya dipilih ketika mengalami demam dan ingin mengetahui apakah terindikasi COVID-19 atau tidak?

Beda Rapid Test Antigen dan Rapid Test Antibodi

Sebelum melakukan pemeriksaan lanjutan berupa swab atau rapid test maupun PCR, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan riwayat perjalanan kamu selama 14 hari terakhir. Apakah kamu pernah melakukan perjalanan jauh, dan apakah kamu pernah berinteraksi dengan orang yang positif mengidap COVID-19.

Baca juga: Alami Gejala Corona, Ini Alasan Sebaiknya Lakukan Cek Online

Setelahnya, dokter akan merekomendasikan kamu untuk melakukan pemeriksaan lanjutan, bisa dengan PCR atau rapid test untuk mendapatkan hasil diagnosis yang lebih akurat. Nah, kalau kamu belum mengerti, berikut beda dari rapid test antigen dan rapid test antibodi.

Rapid test merupakan metode skrining untuk mendeteksi COVID-19 yang hasilnya bisa diketahui dalam waktu singkat, biasanya sekitar beberapa menit atau maksimal selama satu jam dalam satu kali pemeriksaan. Metode pemeriksaan ini terbagi menjadi dua, yaitu rapid test antigen dan rapid test antibodi.

Antigen adalah benda atau zat asing yang bisa masuk ke dalam tubuh, termasuk virus, racun, atau kuman. Oleh tubuh, antigen sering dianggap sebagai benda asing yang berbahaya, sehingga akan memicu imunitas tubuh untuk membentuk antibodi yang merupakan reaksi alami tubuh untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu. 

Baca juga: Pasien yang Sembuh Tidak akan Tulari Virus Corona?

Nah, virus corona yang masuk ke dalam tubuh dianggap sebagai antigen oleh sistem kekebalan, yang bisa terdeteksi dengan melakukan pemeriksaan rapid test antigen. Metode ini dilakukan dengan mengambil sampel lendir dari tenggorokan atau hidung melalui proses yang disebut dengan swab. Agar bisa memperoleh hasil yang lebih akurat, rapid test antigen ini sebaiknya dilakukan maksimal lima hari setelah kamu merasakan adanya gejala COVID-19.

Sementara itu, rapid test antibodi merupakan cara deteksi virus COVID-19 yang muncul paling awal sebelum tes antigen atau PCR. Sayangnya, pemeriksaan ini dinilai masih memiliki tingkat akurasi yang rendah untuk mendeteksi adanya virus di dalam tubuh. Inilah mengapa kamu disarankan untuk segera melakukan tes swab antigen atau rapid test antigen jika mengalami demam atau gejala yang mengarah pada covid-19 lainnya. 

Namun, metode tes swab antigen masih memiliki tingkat akurasi yang lebih rendah dibandingkan dengan tes PCR yang akurasinya bisa mencapai 80 hingga 90 persen. Meski begitu, tes PCR setidaknya membutuhkan waktu satu hari untuk kamu bisa mengetahui hasilnya, sedangkan rapid test hanya memakan waktu maksimal satu jam. 

Baca juga: Akses Layanan Rapid Test Drive Thru Bisa Dilakukan Melalui Halodoc

Jangan pernah anggap remeh penyakit COVID-19. Selalu taati protokol kesehatan, dan apabila kamu merasakan adanya gejala, segera buka aplikasi Halodoc, ceritakan keluhanmu pada dokter dan lakukan pemeriksaan COVID-19 secara mandiri atau tes di tempat terdekat. 

Referensi: 
Healthline. Diakses pada 2020. How Accurate Are Covid-19 Diagnostic and Antibody Tests?
US Food & Drug Administration. Diakses pada 2020. Coronavirus Testing Basics.
WHO. Diakses pada 2020. Advice on the Use of Point-of-Care Immunodiagnostic Tests for Covid-19.