27 July 2018

Denyut Nadi Enggak Normal? Hati-hati Aritmia

Denyut nadi tak normal, aritmia,denyut nadi tidak normal

Halodoc, Jakarta – Denyut nadi setiap orang akan berbeda-beda. Sebab, ada banyak faktor yang bisa memengaruhi frekuensi denyut nadi setiap orang. Diantaranya adalah usia, aktivitas fisik, tingkat kebugaran, suhu udara, emosi, posisi dan ukuran tubuh, serta konsumsi obat-obatan tertentu. Namun, denyut nadi orang dewasa umumnya adalah 60-100 kali per menit.

Baca juga: 5 Jenis Penyakit yang Berhubungan dengan Jantung

Denyut nadi bukan sekadar menggambarkan frekuensi arteri yang mengembang dan berkontraksi, melainkan juga bisa menggambarkan kondisi kesehatan seseorang. Ini karena denyut nadi tak normal bisa menjadi tanda adanya gangguan pada irama jantung, yaitu aritmia.

Apa Itu Aritmia?

Aritmia adalah ketidakteraturan irama jantung, yaitu kondisi saat irama jantung berdetak terlalu cepat ataupun terlalu lambat. Kondisi ini terjadi akibat impuls elektrik yang berfungsi mengatur detak jantung tidak bekerja dengan baik. Berikut adalah beberapa jenis aritmia yang perlu diwaspadai:

  • Bradikardia. Ini adalah kondisi di mana jantung pengidapnya berdetak lebih lambat dari kondisi normal, yaitu di bawah 60 kali per menit.
  • Blok jantung (AV block).  Kondisi ini terjadi ketika sinyal listrik tidak berjalan normal di jantung. Jantung masih bisa memompa darah, namun detaknya lebih lambat dan kurang efisien dibanding jantung yang normal.
  • Takikardia supraventrikular. Kondisi ini disebabkan oleh ketidaknormalan rangkaian hantaran elektrik pada jantung (umumnya sudah terjadi ketika lahir).
  • Fibrilasi atrium. Ini adalah kondisi di mana detak jantung berdetak sangat cepat, bahkan pada saat sedang beristirahat. Kondisi ini terjadi akibat kacaunya impuls elektrik pada atrium (serambi) jantung.
  • Fibrasi ventrikel. Ini adalah jenis aritmia yang bisa menyebabkan pengidapnya kehilangan kesadaran atau kematian mendadak akibat detak jantung yang tidak teratur dan terlalu cepat.

Apa Saja Tanda dan Gejala Aritmia?

Aritmia bisa terjadi tanpa disertai tanda dan gejala. Namun secara umum, tanda dan gejala aritmia berupa jantung berdetak lebih cepat (takikardia) atau lebih lambat dari biasanya (bradikardia), kelelahan, pusing, sesak napas, nyeri dada, hingga kehilangan kesadaran (pingsan).

Jika kamu merasakan gejala tersebut, sebaiknya segeralah berbicara dengan dokter. Sebab, aritmia yang tidak segera ditangani bisa menyebabkan komplikasi berupa: gagal jantung, strok, bahkan bisa berujung kematian.

Apa Penyebab Aritmia?

Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko aritmia, antara lain:

  • Ketidakseimbangan kadar elektrolit dalam darah.
  • Gaya hidup tidak sehat, seperti: kebiasaan merokok, terlalu banyak minum kafein dan alkohol, efek samping obat-obatan, dan penggunaan narkoba.
  • Masalah kesehatan tertentu, seperti: gangguan kelenjar tiroid, sleep apnea, diabetes, hipertensi, hingga penyakit jantung koroner.

Pengobatan dan Pencegahan Aritmia

Diagnosis aritmia didasarkan pada pemeriksaan denyut jantung ataupun pemeriksaan fisik khusus. Diagnosis ini dilakukan untuk memudahkan dokter dalam menentukan jenis pengobatan yang sesuai. Secara umum, pengobatan aritmia dilakukan dengan pemberian obat-obatan khusus, pemasangan alat picu jantung dan implantable cardioverter defibrillator (ICD), kardioversi (pengobatan dengan aliran listrik), hingga ablasi kateter (prosedur non-bedah).

Pencegahan aritmia bisa dilakukan dengan menerapkan gaya hidup sehat. Antara lain: menghindari atau mengurangi stres, menjaga berat badan ideal, mengonsumsi makanan sehat, membatasi konsumsi alkohol, berolahraga teratur, dan berhenti merokok.

Itulah risiko aritmia akibat denyut nadi yang tak normal. Kalau kamu punya keluhan dengan denyut nadi, segeralah berbicara dengan dokter Halodoc. Sebab melalui aplikasi Halodoc, kamu bisa berbicara pada dokter tepercaya kapan saja dan dimana saja melalui Chat, dan Voice/Video Call. Jadi, yuk download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play sekarang juga!