• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Depresi Bisa Jadi Penyebab Penyakit Jantung

Depresi Bisa Jadi Penyebab Penyakit Jantung

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh Johns Hopkins, disebutkan kalau satu dari lima orang yang mengalami serangan jantung ditemukan mengalami depresi sebelumnya. 

Dan orang-orang yang mengalami depresi tampaknya mengembangkan penyakit jantung pada tingkat yang lebih tinggi daripada populasi umum. Serangan jantung dapat memengaruhi aspek kehidupan seseorang. Proses rehabilitasi dan pemulihan setelah serangan jantung ini juga bisa memicu depresi.

Korelasi Depresi dan Jantung

Menurut hasil penelitian yang dipublikasikan oleh American Heart Association, satu dari 10 orang Amerika, berusia 18 tahun ke atas, mengalami depresi. Salah satu gejala depresinya  ditandai dengan serangan jantung akut. Ini menunjukkan hubungan yang erat antara depresi dan penyakit jantung.

Sementara itu, didiagnosis dengan penyakit jantung atau mengalami serangan jantung dapat meningkatkan risiko depresi. Depresi sendiri dapat meningkatkan kemungkinan mengembangkan penyakit jantung.

Baca juga: Benarkah Quaranteam Baik untuk Kesehatan Mental Selama Pandemi?

Menurut ahli jantung University of Iowa Milena A. Gebska, M.D., Ph.D., sejumlah faktor dapat menjelaskan mengapa seseorang dengan depresi berada pada risiko yang lebih tinggi untuk terkena penyakit jantung.

Ada hubungan timbal – balik antara penyakit jantung dan depresi. Di satu sisi, depresi itu sendiri merupakan faktor risiko independen untuk kondisi kesehatan jantung. Di sisi lain, pengidap jantung yang menjalani masa rehabilitasi berada pada risiko yang lebih tinggi untuk mengembangkan depresi baru.

Tekanan emosional yang diiringi dengan  gaya hidup tidak sehat, obesitas, merokok, pola makan buruk dan makan berlebihan, serta konsumsi alkohol berlebihan diidentifikasi sebagai faktor risiko untuk penyakit arteri koroner (penyumbatan di pembuluh jantung).

Informasi lebih detail depresi dan penyakit jantung, bisa ditanyakan ke aplikasi Halodoc. Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik. Caranya, cukup download Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat, kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah.

Fakta Kesehatan Tentang Depresi dan Penyakit Jantung

Penelitian telah menunjukkan bahwa tekanan mental memiliki efek negatif pada kesehatan jantung seseorang. Bagaimana ini bisa berhubungan? Stres yang tidak terkelola dapat menyebabkan tekanan darah tinggi, kerusakan arteri, irama jantung yang tidak teratur, dan sistem kekebalan tubuh yang melemah.

Data kesehatan dari Cleveland Clinic menunjukkan, kalau orang yang mengalami depresi telah terbukti memiliki peningkatan reaktivitas trombosit, penurunan variabilitas jantung, dan peningkatan penanda proinflamasi (seperti protein C-reaktif atau CRP), yang semuanya merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskular.

Untuk orang dengan penyakit jantung, depresi dapat meningkatkan risiko kejadian jantung yang merugikan, seperti serangan jantung atau pembekuan darah. Bagi orang yang tidak memiliki penyakit jantung, depresi juga dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan pengembangan penyakit arteri koroner.

Baca juga: Ini Efek Positif Kebahagiaan Bagi Kesehatan

Depresi yang tidak ditangani dapat memburuk. Untuk pasien jantung, depresi dapat berkontribusi pada peningkatan risiko serangan jantung dan penyakit jantung lainnya. Bicaralah dengan profesional medis mengenai memulai perawatan depresi dengan antidepresan yang aman. 

Profesional medis juga dapat memberikan rujukan ke spesialis kesehatan mental yang dapat memberikan perawatan lain dan sesuai bila perlu. Ketika depresi memengaruhi kehidupan sosialmu, ini adalah tanda kalau kamu membutuhkan bantuan profesional. Pun, tanda-tanda lainnya adalah:

  1. Perasaan negatif yang bertahan selama 2 minggu atau lebih.
  2. Kurangnya dorongan mental atau motivasi, serta kurangnya kepercayaan diri pada pengidap penyakit jantung yang sedang menjalani rehabilitasi untuk semangat melakukan perawatan.
  3. Memiliki pikiran atau perasaan untuk bunuh diri. 
Referensi:
Cleveland Clinic. Diakses pada 2020. Depression & Heart Disease.
Johns Hopkins. Diakses pada 2020. Depression and Heart Disease.