• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Depresi setelah Punya Anak, Apa Penyebabnya?

Depresi setelah Punya Anak, Apa Penyebabnya?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta – Kelahiran anak dapat memicu campuran emosi mulai dari bahagia sampai rasa takut dan cemas. Kombinasi emosi ini dapat memicu depresi. Kondisi ini disebut juga sebagai baby blues.

Depresi setelah punya anak bisa mencakup perubahan suasana hati mulai dari menangis tanpa sebab, kecemasan, sampai sulit tidur. Baby blues biasanya dimulai dua hingga tiga hari pertama setelah melahirkan, dan dapat berlangsung hingga dua minggu. Namun, beberapa ibu bisa mengalami bentuk depresi yang lebih parah dan bertahan lama. Kondisi ini dikenal sebagai depresi postpartum. Apa penyebabnya dan bagaimana penanganannya? Informasi selengkapnya bisa dibaca di sini!

Baca juga: Buat Ibu Baru, Cegah Baby Blues dengan Cara Ini


Penyebab Depresi setelah Punya Anak


Tidak ada penyebab tunggal depresi pasca persalinan, masalah fisik dan emosional biasanya menjadi pemicu kondisi. Setelah melahirkan terjadi penurunan hormon yang dramatis (estrogen dan progesteron) dalam tubuh yang dapat menyebabkan depresi postpartum. 

Hormon lain yang diproduksi oleh kelenjar tiroid juga bisa turun tajam setelah melahirkan yang bisa membuat ibu cepat merasa lelah, lesu, dan tertekan. Saat ibu kurang tidur dan kewalahan, ibu mungkin kesulitan menangani masalah kecil. 

Ditambah lagi kekhawatiran tentang kemampuan untuk merawat bayi yang baru lahir. Ibu mungkin merasa kurang menarik dan merasa kehilangan kendali atas hidup, karena sudah punya anak dan tanggung jawab. Kondisi-kondisi inilah yang menyebabkan depresi postpartum.

Depresi setelah kelahiran bisa menjadi lebih kompleks bila ada faktor-faktor tambahan lainnya seperti:

1. Punya riwayat depresi, baik selama kehamilan atau di waktu lain.

2. Mengalami gangguan bipolar.

3. Mengalami depresi pasca persalinan setelah kehamilan sebelumnya.

4. Memiliki anggota keluarga yang pernah mengalami depresi atau gangguan mood lainnya.

5. Pernah mengalami peristiwa stres selama setahun terakhir, seperti komplikasi kehamilan, sakit, atau kehilangan pekerjaan.

6. Bayi memiliki masalah kesehatan atau kebutuhan khusus lainnya.

7. Memiliki anak kembar, kembar tiga, atau kelahiran ganda lainnya.

8. Mengalami kesulitan menyusui.

9. Punya masalah dalam relasi dengan pasangan atau orang terkasih lainnya. 

10. Tidak mendapat dukungan dari orang-orang terdekat.

11. Punya masalah keuangan.

12. Kehamilan itu tidak direncanakan atau tidak diinginkan.


Baca juga: Lakukan Ini Untuk Menghindari Depresi Pasca Melahirkan

Punya pertanyaan lain mengenai depresi setelah kelahiran, cari tahu langsung di Halodoc. Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik. Caranya mudah, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.


Bahaya Bila Depresi Tidak Ditangani


Depresi setelah punya anak harus segera ditangani. Bila tidak ditangani dapat memengaruhi kemampuan untuk mengasuh anak serta mengganggu relasi dengan pasangan. Bila tidak ditangani ibu bisa mengalami gejala sebagai berikut:

1. Tidak punya cukup energi.

2. Kesulitan fokus pada kebutuhan bayi dan kebutuhan diri sendiri.

3. Merasa murung.

4. Tidak bisa merawat bayi.

5. Memiliki resiko lebih tinggi untuk mencoba bunuh diri.

6. Merasa seperti ibu yang buruk dapat memperburuk depresi. Penting untuk mencari bantuan jika ibu merasa sangat tertekan.


Baca juga: Hati-Hati, Inilah 3 Komplikasi dari Post Partum Depresi


Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh US Department of Health and Human Service disebutkan kalau depresi setelah punya anak bisa memengaruhi pola asuh yang diberikan ibu pada anaknya. Pada akhirnya pola asuh tersebut bisa mengakibatkan: 

1. Penundaan dalam perkembangan bahasa dan masalah pembelajaran.

2. Masalah ikatan antara ibu dan anak.

3. Masalah perilaku.

4. Anak lebih banyak menangis atau gelisah.

5. Tinggi badan lebih pendek dan risiko obesitas lebih tinggi pada anak prasekolah.

6. Masalah mengatasi stres dan menyesuaikan diri dengan sekolah dan situasi sosial lainnya.



Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Postpartum Depression.
US Department of Health and Human Service. Diakses pada 2020. Postpartum Depression.