08 February 2019

Detak Jantung Sangat Cepat, Waspada Fibrilasi Atrium

detak jantung sangat cepat waspada fibrilasi atrium

Halodoc, Jakarta – Normalnya, jantung kita berdetak dengan irama yang beraturan, sehingga dapat mengalirkan darah dari serambi jantung ke bilik jantung, yang kemudian akan dialirkan ke paru-paru atau ke seluruh tubuh. Tapi, bisa juga terjadi kondisi ketika serambi (atrium) jantung berdenyut dengan cepat dan tidak beraturan. Kondisi ini dinamakan fibrilasi atrium.

Pada fibrilasi atrium, hantaran listrik pada jantung dan irama denyut jantung mengalami gangguan, sehingga atrium tidak bisa mengalirkan darah ke ventrikel. Bila tidak ditangani segera, maka kondisi ini bisa meningkatkan risiko terjadinya penggumpalan darah, stroke, dan gagal jantung. Karena itu, yuk ketahui fibrilasi atrium lebih lanjut agar kamu bisa mewaspadai penyakit jantung ini.

Fibrilasi atrium bisa muncul akibat adanya penyakit lain atau bisa juga terjadi pada orang yang sehat yang tidak memiliki gangguan medis tertentu. Bila dilihat dari rentang waktu terjadinya kondisi ini, fibrilasi atrium bisa dibagi menjadi tiga jenis.

Fibrilasi atrium paroksismal (occasional) untuk menunjukkan kondisi fibrilasi yang muncul hanya sesekali dan berlangsung dalam hitungan menit atau jam, setelah itu dapat kembali normal dengan sendirinya. Namun, ada juga fibrilasi atrium yang terjadi dalam jangka waktu yang panjang, yaitu lebih dari satu minggu (persistent), lebih dari satu tahun (long standing persistent), bahkan kronis atau menetap (permanent).

Untuk ketiga jenis fibrilasi atrium jangka panjang tersebut, pengidap perlu diberikan obat atau penanganan medis lainnya untuk menormalkan sistem penghantaran listrik jantung.

Walaupun tidak membahayakan nyawa, namun fibrilasi atrium tetap perlu ditangani dengan serius guna mencegah terjadinya komplikasi yang lebih parah. Penanganan yang dilakukan pada tiap pengidap pun juga berbeda-beda, tergantung dari jenis dan tingkat keparahan gejala fibrilasi atrium yang dialami pengidap.

Baca juga: Debar Jantung Tak Teratur, Wajib Waspada Aritmia

Penyebab Fibrilasi Atrium

Fibrilasi atrium disebabkan karena adanya gangguan pada penghantaran sinyal listrik jantung, di mana terlalu banyak impuls listrik yang melewati nodus atrioventrikular (AV node) yang berfungsi sebagai penghubung listrik antara atrium dan ventrikel. Akibatnya, denyut jantung meningkat menjadi sekitar 100–175 denyut per menit. Sementara denyut jantung yang normal hanya 60–100 denyut per menit. Ini bisa mengakibatkan kerusakan pada struktur jantung.

Beberapa kondisi medis berikut juga diduga bisa menjadi penyebab fibrilasi atrium:

  • Adanya kelainan jantung bawaan

  • Infeksi virus

  • Penyakit paru-paru, tekanan darah tinggi, dan serangan jantung koroner

  • Gangguan metabolisme, seperti kelenjar tiroid yang terlalu aktif

  • Konsumsi obat, alkohol, ataupun tembakau

  • Pernah menjalani operasi jantung

  • Gangguan pernapasan saat tidur (sleep apnea)

  • Stres akibat mengidap suatu penyakit atau pasca operasi

  • Mengalami sick sinus syndrome, di mana pencetus impuls listrik jantung tidak bekerja secara normal.

Selain memiliki kondisi medis di atas, beberapa faktor lain yang juga bisa meningkatkan risiko seseorang terkena fibrilasi atrium, seperti:

  • Adanya riwayat penyakit fibrilasi atrium dalam keluarga

  • Kebiasaan mengonsumsi alkohol

  • Memiliki berat badan berlebih atau obesitas

  • Berusia lanjut.

Baca juga: Inilah Pengaruh Alkohol Terhadap Kesehatan Jantung dan Liver

Gejala Fibrilasi Atrium

Fibrilasi atrium dapat tidak menimbulkan gejala (asimptomatik). Namun, pengidap fibrilasi atrium biasanya akan merasakan jantungnya berdebar atau berdetak lebih cepat serta tidak beraturan hingga penurunan kesadaran. Selain itu, gejala fibrilasi atrium lainnya yang juga bisa terjadi, antara lain:

  • Mudah lelah, terutama saat berolahraga

  • Napas pendek

  • Pusing

  • Lemah

  • Dada terasa nyeri.

Baca juga: Tak Hanya Nyeri Dada, Ini 14 Tanda Sakit Jantung

Pengobatan Fibrilasi Atrium

Secara umum, pengobatan fibrilasi atrium dilakukan untuk mengembalikan irama jantung dan mengontrol kecepatan denyut jantung, mencegah timbulnya bekuan darah, serta mengurangi risiko terjadinya stroke. Pengobatan juga disesuaikan dengan kondisi medis yang dialami pengidap, termasuk jangka waktu berlangsungnya gejala.

Sebagai langkah awal pengobatan, dokter akan memberikan obat-obatan, seperti obat antikoagulan untuk mencegah darah menggumpal, obat pengendali denyut jantung, dan obat antiaritmia. Selain itu, tindakan noninvasif (tanpa pembedahan) juga bisa dilakukan untuk mengatasi gejala fibrilasi atrium. Misalnya, memberi kejutan listrik pada dada (electrical cardioversion) untuk mengembalikan denyut jantung menjadi normal. Namun, bila obat-obatan dan tindakan noninvasif tidak mampu juga mengatasi masalah fibrilasi atrium, maka dokter akan menganjurkan untuk melakukan operasi.

Itulah sedikit penjelasan mengenai fibrilasi atrium yang menyebabkan detak jantung sangat cepat. Bila kamu ingin mengetahui lebih lanjut tentang fibrilasi atrium, tanyakan saja langsung kepada ahlinya dengan menggunakan aplikasi Halodoc. Kamu bisa menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat untuk berdiskusi seputar kesehatan kapan saja dan di mana saja. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.