Fibrilasi Atrium

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Pengertian Fibrilasi Atrium

Fibrilasi atrium adalah suatu kondisi dimana denyut jantung tidak biasa dan sering kali cepat. Hal ini bisa meningkatkan kemungkinan terjadinya stroke, gagal jantung, dan komplikasi lainnya terkait dengan organ jantung.

 

Faktor Risiko Fibrilasi Atrium

Terdapat beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami fibrilasi atrium, meliputi:

  • Usia. Risiko untuk mengalami fibrilasi atrium semakin tinggi ketika usia seseorang semakin tua.

  • Penyakit jantung. Seorang individu dengan penyakit jantung, termasuk kelainan katup jantung, penyakit jantung bawaan, penyakit jantung koroner, atau riwayat serangan jantung, dan memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami fibrilasi atrium.

  • Tekanan darah tinggi. Tekanan darah tinggi juga menjadi faktor risiko akan meningkatnya kemungkinan fibrilasi atrium, terutama jika tidak terkontrol dan dijaga dengan perubahan gaya hidup atau perubahan.

  • Adanya penyakit lainnya. Individu dengan penyakit, seperti kelainan kelenjar tiroid, gangguan napas saat tidur, diabetes, penyakit ginjal, ataupun penyakit paru-paru memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami fibrilasi atrium.

  • Konsumsi alkohol. Asupan alkohol dapat memicu timbulnya episode fibrilasi atrium bagi sebagian orang.

  • Obesitas. Risiko terjadinya fibrilasi atrium akan lebih tinggi bagi individu yang mengidap obesitas.

Baca juga : Jantung Berdenyut Tak Beraturan, Perlukah Waspada?

 

Penyebab Fibrilasi Atrium

Kerusakan atau perubahan pada struktur jantung dapat menyebabkan fibrilasi atrial. Penyebab lain dari fibrilasi atrial, yaitu:

  • Tekanan darah tinggi (hipertensi);

  • Serangan jantung;

  • Penyakit jantung koroner; dan

  • Penyakit katup jantung.

 

Gejala Fibrilasi Atrium

Beberapa gejala ringan yang mungkin dikeluhkan pengidap, yaitu:

  • Palpitasi;

  • Mudah lelah atau toleransi rendah terhadap aktivitas fisik;

  • Presinkop atau sinkop; dan

  • Kelemahan umum dan pusing.

Selain itu, FA juga dapat menyebabkan gangguan hemodinamik, kardiomiopati yang diinduksi oleh takikardia, dan tromboembolisme sistemik. Penilaian awal dari pengidap dengan FA yang baru pertama kali terdiagnosis harus berfokus pada stabilitas hemodinamik dari pengidap.

Baca juga : Detak Jantung Sangat Cepat, Waspada Fibrilasi Atrium

 

Diagnosis Fibrilasi Atrium

Untuk menetapkan diagnosis fibrilasi atrium, dokter dapat melakukan wawancara medis yang terinci untuk mengevaluasi tanda, gejala, riwayat penyakit, serta melakukan pemeriksaan fisik secara langsung.

Beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan, yaitu:

  • Elektrokardiogram (EKG). Pemeriksaan EKG menggunakan elektroda (sensor) yang diletakkan di dada, lengan, serta kaki untuk mendeteksi dan merekam aktivitas listrik jantung. Pemeriksaan EKG merupakan pemeriksaan utama dalam melakukan diagnosis fibrilasi atrium.

  • Ekokardiogram. Pemeriksaan ini menggunakan gelombang suara untuk mendapatkan pencitraan bentuk jantung.

  • Stres test. Pemeriksaan ini melibatkan pemeriksaan jantung yang dilakukan saat seseorang sedang melakukan aktivitas olahraga.

 

Pengobatan Fibrilasi Atrium

Penanganan fibrilasi atrium bergantung pada jangka waktu kondisi yang dialami pengidap, kadar berat-ringan gangguan dan gejala yang timbul, serta penyebab dari fibrilasi atrium tersebut. Secara umum, penanganan fibrilasi atrium dilakukan untuk mengembalikan irama jantung dan mengontrol kecepatan denyut jantung, mencegah timbulnya bekuan darah, dan mengurangi risiko terjadinya stroke.

Strategi penanganan yang ditentukan oleh dokter bergantung dari berbagai faktor, termasuk bila ditemui kondisi masalah jantung lainnya dan kemampuan untuk mengonsumsi pengobatan guna mengontrol irama jantung. Pada sebagian kasus, penanganan invasif mungkin dibutuhkan, seperti prosedur medis yang melibatkan kateter jantung atau pembedahan.

 

Pencegahan Fibrilasi Atrium

Fibrilasi atrium bisa dicegah dengan melaksanakan gaya hidup sehat. Gaya hidup sehat ini mencakup:

  • Menjalani pola diet yang sehat bagi jantung;

  • Melakukan aktivitas fisik secara rutin;

  • Menghindari rokok;

  • Menjaga berat badan agar tetap ideal;

  • Membatasi asupan kafein dan alkohol; dan

  • Mengurangi stres, karena stres yang terus-menerus dapat menyebabkan gangguan irama jantung.

Baca juga : Pengidap Fibrilasi Atrium Rentan Alami Stroke, Kok Bisa?

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera hubungi dokter apabila merasakan gejala-gejala di atas. Penanganan yang tepat dapat meminimalisir akibat sehingga pengobatan bisa lebih cepat dilakukan. Pilih dokter di rumah sakit yang sesuai dengan kebutuhan kamu di sini

Referensi:
medicalnewstoday.com (2019). Atrial fibrillation: Causes, characteristics, and related conditions
WebMD (2019). Atrial fibrillation