• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Fibrilasi Atrium

Fibrilasi Atrium

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Fibrilasi Atrium

Pengertian Fibrilasi Atrium

Fibrilasi atrium adalah kondisi irama jantung (aritmia) yang tidak teratur dan seringkali sangat cepat. Kondisi ini dapat menyebabkan pembekuan darah di jantung. Fibrilasi atrium dapat meningkatkan risiko stroke, gagal jantung, dan komplikasi terkait jantung lainnya. 

Selama fibrilasi atrium, bilik atas jantung (atrium) berdenyut secara tidak teratur (tidak sinkron dengan bilik bawah (ventrikel) jantung). Bagi banyak orang, kondisi ini mungkin tidak menimbulkan gejala. Namun, fibrilasi atrium dapat menyebabkan detak jantung yang cepat dan berdebar (palpitasi), sesak napas, atau kelemahan. 

Episode fibrilasi atrium dapat muncul dan pergi, atau menetap. Meskipun fibrilasi atrium biasanya tidak mengancam jiwa, tetapi ini adalah kondisi medis serius yang memerlukan perawatan yang tepat untuk mencegah stroke. 

Penyebab Fibrilasi Atrium

Masalah dengan struktur jantung adalah penyebab paling umum dari fibrilasi atrium. Penyebab fibrilasi atrium meliputi:

  • Penyakit arteri koroner.
  • Serangan jantung.
  • Cacat jantung yang dialami sejak lahir (cacat jantung bawaan).
  • Masalah katup jantung.
  • Tekanan darah tinggi.
  • Penyakit paru-paru.
  • Stres fisik karena operasi, rada paru-paru, atau penyakit lainnya. 
  • Pernah menjalani operasi jantung sebelumnya.
  • Memiliki masalah dengan alat pacu jantung alami.
  • Apnea tidur.
  • Penyakit tiroid, seperti tiroid yang terlalu aktif (hipertiroidisme) dan ketidakseimbangan metabolisme lainnya.
  • Penggunaan stimulan, termasuk obat-obatan tertentu, kafein, tembakau, dan alkohol.
  • Infeksi virus.

Beberapa orang yang memiliki fibrilasi atrium tidak diketahui memiliki masalah jantung atau kerusakan jantung. Namun, tidak semua orang dengan atrial fibrilasi memiliki salah satu kondisi di atas. Terkadang dapat mempengaruhi orang-orang yang secara fisik sangat sehat, seperti atlet.

Ketika tidak ada kondisi lain yang terkait dengan fibrilasi atrium, hal ini dikenal sebagai fibrilasi atrium tunggal.

Faktor Risiko Fibrilasi Atrium

Terdapat beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami fibrilasi atrium, meliputi:

  • Usia. Risiko untuk mengalami fibrilasi atrium semakin tinggi ketika usia seseorang semakin tua.
  • Penyakit jantung. Seorang individu dengan penyakit jantung, termasuk kelainan katup jantung, penyakit jantung bawaan, penyakit jantung koroner, atau riwayat serangan jantung, dan memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami fibrilasi atrium.
  • Tekanan darah tinggi. Tekanan darah tinggi juga menjadi faktor risiko akan meningkatnya fibrilasi atrium, terutama jika tidak terkontrol dan dijaga dengan perubahan gaya hidup atau perubahan.
  • Adanya penyakit lainnya. Individu dengan penyakit, seperti kelainan kelenjar tiroid, gangguan napas saat tidur, diabetes, penyakit ginjal, ataupun penyakit paru-paru memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami fibrilasi atrium.
  • Konsumsi alkohol. Asupan alkohol dapat memicu timbulnya episode fibrilasi atrium bagi sebagian orang.
  • Obesitas. Risiko terjadinya fibrilasi atrium akan lebih tinggi bagi individu yang mengidap obesitas.

Gejala Fibrilasi Atrium

Beberapa orang dengan fibrilasi atrium tidak mengalami gejala apapun. Mereka yang memiliki gejala tandanya berupa:

  • Sensasi detak jantung yang cepat, berdebar, atau palpitasi.
  • Sakit dada.
  • Pusing.
  • Kelelahan.
  • Berkurangnya kemampuan untuk berolahraga.
  • Sesak napas.
  • Kelemahan.

Kondisi fibrilasi atrium bisa berlangsung dengan durasi yang berbeda-beda, yaitu:

  • Kadang-kadang (fibrilasi atrium paroksismal). Gejala datang dan pergi, biasanya berlangsung selama beberapa menit hingga berjam-jam. Kadang-kadang gejala terjadi selama seminggu dan episode dapat terjadi berulang kali. Gejala akan hilang dengan sendirinya. Kondisi ini sesekali membutuhkan perawatan.
  • Persisten. Dengan jenis fibrilasi atrium ini, irama jantung tidak kembali normal dengan sendirinya. Jika seseorang memiliki gejala fibrilasi atrium, kardioversi atau pengobatan dengan obat-obatan dapat digunakan untuk memulihkan dan mempertahankan irama jantung yang normal.
  • Bertahan lama. Jenis fibrilasi atrium ini berlangsung terus-menerus dan berlangsung lebih dari 12 bulan.
  • Permanen. Pada jenis fibrilasi atrium ini, irama jantung yang tidak teratur tidak dapat dipulihkan. Obat-obatan diperlukan untuk mengontrol detak jantung dan untuk mencegah pembekuan darah.

Diagnosis Fibrilasi Atrium

Untuk menetapkan diagnosis fibrilasi atrium, dokter dapat melakukan wawancara medis yang terinci untuk mengevaluasi tanda, gejala, riwayat penyakit, serta melakukan pemeriksaan fisik secara langsung.

Beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan, yaitu:

  • Elektrokardiogram (EKG). Pemeriksaan EKG menggunakan elektroda (sensor) yang diletakkan di dada, lengan, serta kaki untuk mendeteksi dan merekam aktivitas listrik jantung. Pemeriksaan EKG merupakan pemeriksaan utama dalam melakukan diagnosis fibrilasi atrium.
  • Ekokardiogram. Pemeriksaan ini menggunakan gelombang suara untuk mendapatkan pencitraan bentuk jantung.
  • Stres test. Pemeriksaan ini melibatkan pemeriksaan jantung yang dilakukan saat seseorang sedang melakukan aktivitas olahraga.

Pengobatan Fibrilasi Atrium

Penanganan fibrilasi atrium bergantung pada jangka waktu kondisi yang dialami pengidap, kadar berat-ringan gangguan dan gejala yang timbul, serta penyebab dari fibrilasi atrium tersebut. Secara umum, penanganan fibrilasi atrium dilakukan untuk mengembalikan irama jantung dan mengontrol kecepatan denyut jantung, mencegah timbulnya bekuan darah, dan mengurangi risiko terjadinya stroke.

Strategi penanganan yang ditentukan oleh dokter bergantung dari berbagai faktor, termasuk bila ditemui kondisi masalah jantung lainnya dan kemampuan untuk mengonsumsi pengobatan guna mengontrol irama jantung. Pada sebagian kasus, penanganan invasif dibutuhkan, seperti prosedur medis yang melibatkan kateter jantung atau pembedahan.

Komplikasi yang Dapat Terjadi

Gumpalan darah adalah komplikasi berbahaya dari fibrilasi atrium yang dapat menyebabkan stroke. Pada fibrilasi atrium, irama jantung yang tidak beraturan dapat menyebabkan darah terkumpul di ruang atas jantung (atrium) dan membentuk gumpalan. Jika bekuan darah di bilik kiri atas (atrium kiri) terlepas dari area jantung, ia dapat mengalir ke otak dan menyebabkan stroke.

Risiko stroke akibat fibrilasi atrium meningkat seiring bertambahnya usia. Kondisi kesehatan lain juga dapat meningkatkan risiko stroke karena fibrilasi atrium, termasuk:

  • Tekanan darah tinggi.
  • Diabetes.
  • Gagal jantung.
  • Beberapa penyakit katup jantung.

Pengencer darah biasanya diresepkan untuk mencegah pembekuan darah dan stroke pada orang dengan fibrilasi atrium.

Pencegahan Fibrilasi Atrium

Fibrilasi atrium bisa dicegah dengan melaksanakan gaya hidup sehat. Gaya hidup sehat ini mencakup:

  • Menjalani pola diet yang sehat bagi jantung.
  • Melakukan aktivitas fisik secara rutin.
  • Menghindari rokok.
  • Menjaga berat badan agar tetap ideal.
  • Membatasi asupan kafein dan alkohol.
  • Mengurangi stres, karena stres yang terus-menerus dapat menyebabkan gangguan irama jantung.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera hubungi dokter apabila merasakan gejala-gejala di atas. Penanganan yang tepat dapat meminimalisir akibat sehingga pengobatan bisa lebih cepat dilakukan. Pilih dokter di rumah sakit yang sesuai dengan kebutuhan kamu di aplikasi Halodoc. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga!

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Atrial fibrillation.
WebMD. Diakses pada 2022. Atrial Fibrillation: Causes, Risk Factors, and Triggers.