Deteksi Gejala Dini dari Hidrosefalus pada Anak

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Deteksi Gejala Dini dari Hidrosefalus pada Anak

Halodoc, Jakarta - Anak-anak masih terbilang rentan terserang beberapa penyakit. Salah satu penyakit yang dapat terjadi adalah hidrosefalus. Hal tersebut dapat membuat kepala pengidapnya menjadi lebih besar dibandingkan orang normal.

Gangguan hidrosefalus terjadi akibat cairan yang bertumpuk di rongga otak dan dapat menekan otak. Seorang anak yang mengidap gangguan ini harus mendapatkan pencegahan dini agar gangguan yang berbahaya dapat dicegah. Maka dari itu, kamu harus tahu gejala dini yang ditimbulkan. Berikut bahasan lengkapnya!

Baca juga: Ketahui Berbagai Faktor Risiko Hidrosefalus Sejak Dini

Gejala Dini Hidrosefalus pada Anak

Hidrosefalus adalah terjadinya penumpukan cairan di otak, yaitu cairan serebrospinal dalam sistem ventrikel, yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan yang dapat merusak otak di kepala. Sebagian besar anak yang mengalami kelainan ini sudah terlahir dengan gangguan tersebut dengan perbandingan 1 per 1.000 bayi.

Sistem ventrikel di otak terdiri dari empat ruang yang dapat menampung sebagian besar cairan serebrospinal di kepala. Dua kamar yang berada di bagian atas disebut dengan ventrikel lateral kiri dan kanan. Keduanya terhubung dengan ventrikel ketiga yang akan mengalir ke bagian keempat.

Cairan serebrospinal sendiri adalah zat yang menyerupai air dan berfungsi untuk melindungi otak di dalam tengkorak. Cairan tersebut diproduksi di dinding ventrikel dan akan mengalir dari ventrikel atas ke ventrikel bawah yang akhirnya ke permukaan otak. Pada akhirnya, cairan tersebut diserap oleh permukaan otak dan masuk ke aliran darah.

Apabila tubuh seseorang memproduksi lebih banyak cairan serebrospinal dibanding yang dapat diserap oleh otak, maka penumpukan akan terjadi. Hal tersebut disebabkan oleh dua penyebab dasar, yaitu aliran darah kesulitan menyerap cairan dan/atau aliran cairan di dalam ventrikel tersumbat.

Baca juga: Hidrosefalus Bisakah Ukuran Kepala Menjadi Normal?

Gangguan ini harus segera diobati agar tidak menyebabkan kerusakan pada otak yang tertekan oleh penumpukan cairan. Maka dari itu, agar kamu dapat melakukan pencegahan dini, gejala awal yang timbul harus diketahui. Berikut adalah beberapa gejala awal dari hidrosefalus yang dapat timbul:

  1. Ukuran Kepala yang Naik secara Drastis

Gejala awal hidrosefalus pada anak yang pertama adalah ukuran kepala yang meningkat secara drastis, terutama jika dibandingkan dengan anak seumurnya. Ukuran kepala bayi baru lahir sekitar 32 hingga 39 sentimeter dengan pertambahan 2 sentimeter ketika memasuki usia 3 bulan. Jika ukurannya lebih dari angka tersebut, ada baiknya untuk memeriksakannya  ke dokter.

Jika kamu mempunyai pertanyaan terkait gejala hidrosefalus pada anak, dokter dari Halodoc siap membantu. Caranya, kamu hanya perlu download aplikasi Halodoc di smartphone yang digunakan! Selain itu, kamu juga dapat melakukan pemesanan online untuk pemeriksaan fisik pada beberapa rumah sakit terpilih yang bekerjasama dengan Halodoc.

  1. Kejang secara Tiba-Tiba

Hidrosefalus pada anak juga dapat menimbulkan gejala lainnya, yaitu kejang secara tiba-tiba. Sejalan dengan bertambahnya cairan pada kepala, sehingga tekanan terus terjadi pada saraf dan otak. Hal tersebut yang membuat terjadinya kejang secara tiba-tiba pada bayi.

Baca juga: Bisakah Hidrosefalus Diketahui dari Dalam Kandungan?

  1. Sering Muntah dan Semakin Parah

Bayi yang mengidap hidrosefalus kemungkinan akan menimbulkan gejala sering muntah dan lama-kelamaan akan menjadi semakin parah. Muntah yang terjadi dapat menjadi indikator apabila penyakit yang terjadi telah semakin berkembang. Sebagai orangtua, kamu harus selalu waspada apabila gejala ini muncul.

Itulah beberapa gejala hidrosefalus yang dapat terjadi pada anak. Sangat penting untuk selalu memperhatikan anak ibu yang masih bayi apabila gejala tersebut terjadi, sehingga penanganan dini dapat dilakukan. Jika hidrosefalus yang terjadi sudah parah, maka komplikasi yang parah mungkin saja sulit untuk dibendung.

Referensi:
Cincinnati Children's Hospital Medical Center. Diakses pada 2019. Hydrocephalus
Health Line. Diakses pada 2019. What is hydrocephalus?