• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Hidrosefalus

Hidrosefalus

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Hidrosefalus

Hidrosefalus adalah kondisi saat terjadinya penumpukan cairan berlebihan di dalam otak. Pada keadaan normal, terdapat cairan otak yang mengisi ruangan-ruangan (ventrikel) di dalam otak dalam jumlah tertentu. Namun, pada hidrosefalus, jumlah cairan otak tersebut berlebihan, sehingga menimbulkan penekanan sel-sel otak dan gangguan saraf. Beberapa jenis hidrosefalus, antara lain:

  • Hidrosefalus Kongenital. Ini adalah kelainan bawaan yang terjadi akibat gangguan di dalam kandungan ibu saat hamil, seperti infeksi toksoplasma, kekurangan asam folat, atau penyebab lainnya.
  • Hidrosefalus yang Didapat (acquired hydrocephalus). Kondisi ini terjadi karena gangguan di dalam otak, seperti misalnya stroke, radang selaput otak, atau tumor otak. Kemudian, kondisi tersebut menyebabkan sirkulasi cairan otak tersumbat, dan menyebabkan hidrosefalus. 

Penyebab Hidrosefalus

Penyebab hidrosefalus kongenital umumnya adalah infeksi pada masa kehamilan, seperti cytomegalovirus (CMV), rubella, penyakit gondok, sifilis, atau toksoplasma. Sementara itu, pada hidrosefalus yang terjadi setelah lahir (acquired hydrocephalus) umumnya disebabkan oleh penyakit di otak yang menimbulkan gangguan sirkulasi cairan otak, seperti stroke perdarahan, tumor otak, cedera otak yang parah, radang otak, atau radang selaput otak.

Hidrosefalus disebabkan oleh ketidakseimbangan antara berapa banyak cairan serebrospinal yang diproduksi dan berapa banyak yang diserap ke dalam aliran darah.  Cairan serebrospinal ini diproduksi oleh jaringan yang melapisi ventrikel otak. Ia mengalir melalui saluran interkoneksi dan cairan akhirnya akan mengalir ke ruang di sekitar otak dan tulang belakang. Cairan akan diserap terutama oleh pembuluh darah di jaringan permukaan otak. 

Cairan serebrospinal memainkan peran penting dalam fungsi otak dengan cara:

  • Menjaga otak tetap apung, dalam artian membiarkan otak yang relatif berat mengapung di dalam tengkorak.
  • Bantalan otak untuk mencegah cedera.
  • Mengeluarkan produk sisa metabolisme otak.
  • Mengalir bolak-balik antara rongga otak dan tulang belakang untuk mempertahankan tekanan konstan di dalam otak, mengompensasi perubahan tekanan darah di otak.

Terlalu banyak cairan serebrospinal di ventrikel terjadi karena salah satu alasan berikut:

  • Sumbatan. Masalah yang saling umum adalah penyumbatan parsial aliran cairan serebrospinal, baik dari satu ventrikel ke ventrikel lain, atau dari ventrikel ke ruang lain di sekitar otak. 
  • Penyerapan yang Buruk. Hal ini sebenarnya kurang umum, namun sering dikaitkan dengan peradangan jaringan otak akibat penyakit atau cedera. 
  • Produksi Cairan Berlebih. Meskipun jarang terjadi, cairan serebrospinal dibuat lebih cepat dibandingkan yang bisa diserap. 

Faktor Risiko Hidrosefalus

Terdapat beberapa beberapa kondisi yang memperbesar peluang seorang anak mengalami hidrosefalus pada bayi baru lahir, antara lain:

  • Adanya perkembangan yang tidak normal pada sistem saraf pusat, sehingga menghalangi aliran cairan serebrospinal.
  • Adanya perdarahan di ventrikel otak, sehingga memicu kemungkinan bayi lahir prematur.
  • Saat hamil, ibu mengalami infeksi pada rahim, sehingga timbul peradangan di jaringan otak janin. Misalnya akibat infeksi rubella, toksoplasma, gondok atau bahkan cacar air.

Sementara itu, jika hidrosefalus terjadi setelah anak tumbuh besar, faktor risikonya antara lain:

  • Tumbuhnya tumor di otak atau sumsum tulang belakang anak.
  • Terjadinya infeksi yang menyerang otak atau sumsum tulang belakang.
  • Mengalami pendarahan di pembuluh darah otak.
  • Operasi di area kepala.

Gejala Hidrosefalus

Beberapa gejala hidrosefalus kongenital yang terjadi saat bayi baru lahir, antara lain:

  • Bayi terlihat mengantuk terus atau kurang responsif terhadap lingkungan sekitarnya.
  • Kaki dan tangan berkontraksi terus, sehingga terlihat kaku dan sulit digerakkan.
  • Bayi mengalami keterlambatan perkembangan, misalnya umur enam bulan belum bisa tengkurap, atau umur sembilan bulan belum bisa duduk.
  • Kepala bayi terlihat lebih besar, juga bertambah besar jika dibandingkan dengan anak seusianya.
  • Kulit kepala bayi tipis dan pembuluh darahnya dapat terlihat dengan jelas.
  • Napas tidak teratur.
  • Mengalami kejang berulang.

Sementara itu, beberapa gejala hidrosefalus didapat (acquired hydrocephalus), antara lain:

  • Pengidap tampak lemas.
  • Keluhan sakit kepala hebat.
  • Muntah yang menyemprot.
  • Terlihat mengantuk, bingung, atau mengalami disorientasi.
  • Kejang berulang.
  • Mengalami gangguan penglihatan, berupa penglihatan kabur atau penglihatan ganda.
  • Mengompol. 

Diagnosis Hidrosefalus

Dokter akan melakukan beberapa tahapan pemeriksaan guna mendiagnosis hidrosefalus, seperti dengan melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang lain, seperti:

  • Pemindaian otak dengan CT scan, yang dilakukan sebagai pemeriksaan darurat terhadap penyakit hidrosefalus, untuk mengetahui kondisi otak pengidap.
  • Pemindaian otak dengan MRI, untuk mendapatkan gambaran otak secara rinci dengan menggunakan medan magnetik dan gelombang radio.
  • Pemindaian otak dengan USG, yang relatif lebih aman dan rendah risiko, serta dapat dilakukan sebagai pemeriksaan awal untuk mendeteksi hidrosefalus pada janin dalam kandungan atau bayi yang sudah lahir.

Pengobatan Hidrosefalus

Pengobatan dalam menangani hidrosefalus adalah dengan melakukan tindakan operasi, yang bertujuan untuk membuang kelebihan cairan serebrospinal di dalam otak. Beberapa jenis operasi yang biasa dilakukan untuk menangani hidrosefalus, antara lain:

  • Operasi Pemasangan Shunt. Shunt merupakan alat khusus berbentuk selang yang dipasangkan oleh ahli bedah ke dalam kepala guna mengalirkan cairan otak ke bagian tubuh lain dan diserap oleh pembuluh darah. Bagian tubuh yang paling sering dipilih sebagai rute aliran cairan serebrospinal ini adalah rongga perut. Shunt akan dilengkapi dengan katup yang berfungsi mengendalikan aliran cairan, sehingga keberadaan serebrospinal di dalam otak tidak surut terlalu cepat.
  • Operasi Endoscopic Third Ventriculostomy (ETV). Pada prosedur ini, cairan serebrospinal dibuang dengan cara menciptakan lubang penyerapan baru di permukaan otak. Prosedur ini sering diterapkan pada kasus hidrosefalus yang dipicu oleh penyumbatan ventrikel otak. ETV bertujuan agar cairan otak dapat tersebar merata di seluruh bagian otak dan tidak menumpuk di satu lokasi tertentu. 

Komplikasi Hidrosefalus

Beberapa komplikasi yang dapat timbul setelah menjalani prosedur pemasangan shunt, antara lain:

  • Infeksi yang terjadi beberapa bulan setelah operasi.
  • Penyumbatan shunt yang berakibat penumpukan cairan serebrospinal dalam otak.
  • Posisi shunt yang dipasang tidak berada di posisi yang tepat, sehingga cairan serebrospinal merembes ke bagian sisi selang tersebut. 

Pencegahan Hidrosefalus

Beberapa upaya pencegahan terhadap hidrosefalus, antara lain:

  • Ibu hamil melakukan kontrol berkala untuk mengetahui jika terjadi infeksi virus.
  • Ibu hamil, bayi, dan anak mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal yang diberikan dokter. 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera hubungi dokter jika ada kamu atau kerabat terdekat mengalami gejala hidrosefalus. Penanganan yang tepat dan cepat sangat dibutuhkan untuk menentukan langkah pengobatan dan mempercepat proses penyembuhan. Kamu pun bisa membuat jadwal kunjungan dokter di rumah sakit terdekat melalui aplikasi Halodoc. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga!

Referensi:
National Health Service UK. Diakses pada 2022. Hydrocephalus.
Kids Health. Diakses pada 2022. Hydrocephalus.
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Hydrocephalus.
Diperbarui pada 28 April 2022.