Hidrosefalus

Pengertian Hidrosefalus

Hidrosefalus merupakan kondisi ketika terdapat penumpukan cairan berlebihan di dalam otak. Pada keadaan normal, terdapat cairan otak yang mengisi ruangan-ruangan (ventrikel) di dalam otak dalam jumlah tertentu. Namun, pada hidrosefalus, jumlah cairan otak tersebut berlebihan, sehingga menimbulkan penekanan sel-sel otak dan gangguan saraf. Beberapa jenis hidrosefalus, antara lain:

  • Hidrosefalus kongenital, yang merupakan kelainan bawaan yang terjadi akibat gangguan di dalam kandungan ibu saat hamil, seperti infeksi toksoplasma, kekurangan asam folat, atau penyebab lainnya.
  • Hidrosefalus didapat (acquired hydrocephalus), yang terjadi karena gangguan di otak, seperti stroke, radang selaput otak, atau tumor otak, yang mengakibatkan tersumbatnya sirkulasi cairan otak sehingga terjadi hidrosefalus.

 

Gejala Hidrosefalus

Beberapa gejala hidrosefalus kongenital yang terjadi saat bayi baru lahir, antara lain:

  • Bayi terlihat mengantuk terus atau kurang responsif terhadap lingkungan sekitarnya.
  • Kaki dan tangan berkontraksi terus, sehingga terlihat kaku dan sulit digerakkan.
  • Bayi mengalami keterlambatan perkembangan, misalnya umur 6 bulan belum bisa tengkurap, atau umur 9 bulan belum bisa duduk.
  • Kepala bayi terlihat lebih besar, juga bertambah besar jika dibandingkan dengan anak seusianya.
  • Kulit kepala bayi tipis dan pembuluh darahnya dapat terlihat dengan jelas.
  • Napas tidak teratur.
  • Mengalami kejang berulang.

Beberapa gejala hidrosefalus didapat (acquired hydrocephalus), antara lain:

  • Pengidap tampak lemas.
  • Keluhan sakit kepala hebat.
  • Muntah menyemprot.
  • Terlihat mengantuk, bingung, atau mengalami disorientasi.
  • Kejang berulang.
  • Mengalami gangguan penglihatan, berupa penglihatan kabur atau penglihatan ganda.
  • Mengompol.

 

Penyebab Hidrosefalus

Penyebab hidrosefalus kongenital umumnya adalah infeksi pada masa kehamilan, seperti cytomegalovirus (CMV), rubella, mumps, sifilis, atau toksoplasma. Sedangkan hidrosefalus yang terjadi setelah lahir (acquired hydrocephalus) umumnya disebabkan oleh penyakit di otak yang menimbulkan gangguan sirkulasi cairan otak, seperti stroke perdarahan, tumor otak, cedera otak yang parah, radang otak, atau radang selaput otak.

 

Diagnosis Hidrosefalus

Dokter akan mendiagnosis hidrosefalus dengan melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang seperti:

  • Pemindaian otak dengan CT scan, yang dilakukan sebagai pemeriksaan darurat terhadap penyakit hidrosefalus, untuk mengetahui kondisi otak pengidap.
  • Pemindaian otak dengan MRI scan, untuk mendapatkan gambaran otak secara rinci dengan menggunakan medan magnetik dan gelombang radio.
  • Pemindaian otak dengan USG, yang relatif lebih aman dan rendah risiko, serta dapat dilakukan sebagai pemeriksaan awal untuk mendeteksi hidrosefalus pada janin dalam kandungan atau bayi yang sudah lahir.

 

Pengobatan Hidrosefalus

Pengobatan utama hidrosefalus adalah dengan tindakan operasi, yang bertujuan untuk membuang kelebihan cairan serebrospinal di dalam otak. Beberapa jenis operasi yang umum dilakukan untuk menangani hidrosefalus, antara lain:

  • Operasi pemasangan shunt. Shunt merupakan alat khusus berbentuk selang yang dipasangkan oleh ahli bedah ke dalam kepala guna mengalirkan cairan otak ke bagian tubuh lain dan diserap oleh pembuluh darah. Bagian tubuh yang sering dipilih sebagai rute aliran cairan serebrospinal adalah rongga perut. Shunt dilengkapi dengan katup yang berfungsi untuk mengendalikan aliran cairan, sehingga keberadaan serebrospinal di dalam otak tidak surut terlalu cepat.
  • Operasi endoscopic third ventriculostomy (ETV). Pada prosedur ETV, cairan serebrospinal dibuang dengan cara menciptakan lubang penyerapan baru di permukaan otak. Prosedur ini umumnya diterapkan pada kasus hidrosefalus yang dipicu oleh penyumbatan ventrikel otak. ETV bertujuan agar cairan otak dapat tersebar merata di seluruh bagian otak dan tidak menumpuk di satu lokasi tertentu.

 

Komplikasi Hidrosefalus

Beberapa komplikasi yang dapat timbul setelah menjalani prosedur pemasangan shunt, antara lain:

  • Infeksi yang terjadi beberapa bulan setelah operasi.
  • Penyumbatan shunt yang berakibat penumpukan cairan serebrospinal dalam otak.
  • Posisi shunt yang dipasang tidak berada di posisi yang tepat, sehingga cairan serebrospinal merembes ke bagian sisi selang tersebut.

 

Pencegahan Hidrosefalus

Beberapa upaya pencegahan terhadap hidrosefalus, antara lain:

  • Ibu hamil melakukan kontrol berkala untuk mengetahui jika terjadi infeksi virus.
  • Ibu hamil, bayi, dan anak mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal pemerintah.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera hubungi dokter jika merasakan gejala-gejala di atas. Ingat, penanganan yang tepat dan cepat sangat dibutuhkan untuk menentukan langkah pengobatan dan mempercepat proses penyembuhan. Untuk melakukan pemeriksaan, kamu bisa langsung membuat janji dengan dokter pilihan kamu di sini.