10 February 2019

Pemeriksaan yang Dilakukan untuk Mendiagnosis Penyakit Nefropati Diabetik

Pemeriksaan yang Dilakukan untuk Mendiagnosis Penyakit Nefropati Diabetik

Halodoc, Jakarta – Penyakit nefropati diabetik dapat terjadi kepada siapa saja, namun jauh lebih umum pada orang dengan diabetes dan tekanan darah tinggi. Penyakit ini berkembang sangat lambat selama bertahun-tahun.

Sekitar 1 dari 3 orang dengan diabetes mungkin mengidap penyakit ginjal, meskipun seiring dengan perbaikan pengobatan, lebih sedikit orang yang terkena. Dan ada beberapa hal yang dapat kamu lakukan sendiri untuk membantu merawat ginjal.

Tes darah tertentu yang mencari kimia darah tertentu dapat digunakan untuk mendiagnosis kerusakan ginjal. Ini juga dapat dideteksi sejak dini dengan menemukan protein dalam urine. Perawatan tersedia yang dapat membantu memperlambat perkembangan menjadi gagal ginjal. Itu sebabnya kamu harus melakukan tes urine setiap tahun jika kamu mengidap diabetes.

Baca juga: 7 Gejala Nefropati Diabetik

Penyakit ginjal bukan satu-satunya alasan protein muncul dalam urine. Jika kamu memiliki infeksi saluran kemih (ISK), ini dapat menyebabkan protein dikeluarkan dalam urine. Orang dengan diabetes yang tidak terkontrol dapat lebih rentan terhadap infeksi saluran kemih, karena glukosa dalam urine menyediakan tempat berkembang biak bagi bakteri. Ini mungkin perlu perawatan dengan antibiotik.

Dalam beberapa kasus, jika infeksi berlanjut, maka dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal. Sehingga, sangat penting bagi pengidap diabetes untuk mengunjungi dokter jika mengidap infeksi saluran kemih.

Pengobatan Nefropati Diabetik

Menurunkan tekanan darah dan mempertahankan kontrol gula darah mutlak diperlukan untuk memperlambat perkembangan nefropati diabetik. Beberapa obat yang disebut inhibitor angiotensin converting enzyme (ACE) dapat membantu memperlambat perkembangan kerusakan ginjal.

Meskipun ACE inhibitor, termasuk ramipril (Altace), quinapril (Accupril), dan lisinopril (Prinivil, Zestril), biasanya digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi dan masalah medis lainnya, obat ini sering diberikan kepada pengidap diabetes untuk mencegah komplikasi, bahkan jika tekanan darahnya normal.

Baca juga: Komplikasi Diabetes Bisa Sebabkan Gangguan Ginjal

Jika seseorang memiliki efek samping dari mengambil ACE inhibitor, maka obat lain yang disebut Angiotensin Receptor Blocker (ARB) sering dapat diberikan sebagai gantinya. Jika tidak diobati, ginjal akan terus gagal dan sejumlah besar protein dapat dideteksi dalam urine. Gagal ginjal lanjut membutuhkan perawatan dengan dialisis atau transplantasi ginjal.

Seringkali tidak ada gejala dengan nefropati diabetik dini. Ketika fungsi ginjal memburuk, gejalanya mungkin termasuk:

  1. Pembengkakan tangan, kaki, dan wajah

  2. Kesulitan tidur atau berkonsentrasi

  3. Nafsu makan buruk

  4. Mual

  5. Badan melemah

  6.  Gatal (penyakit ginjal tahap akhir) dan kulit sangat kering

  7. Mengantuk (penyakit ginjal tahap akhir)

  8. Abnormalitas pada irama teratur jantung, karena peningkatan kalium dalam darah

  9. Otot berkedut

Ginjal mengatur jumlah cairan dan berbagai garam dalam tubuh serta membantu mengontrol tekanan darah. Selain itu, membantu pelepasan beberapa hormon. Penyakit nefropati terjadi ketika ginjal gagal melakukan pekerjaannya dengan baik.

Baca juga: Inilah Orang yang Berisiko Kena Kista Ginjal

Pada tahap awal, biasanya tidak ada gejala dan pengidapnya mungkin merasa tidak enak badan, berarti ada perubahan tekanan darah dan keseimbangan cairan tubuh. Ini bisa menyebabkan pembengkakan, terutama di kaki dan pergelangan kaki.

Seiring perkembangan penyakit ini, ginjal menjadi semakin tidak efisien dan orang tersebut dapat menjadi sangat sakit. Ini terjadi sebagai akibat dari penumpukan produk limbah dalam darah yang tidak bisa dihilangkan oleh tubuh. Penyakit nefropati ginjal bisa menjadi kondisi yang sangat serius.

Kalau ingin mengetahui lebih banyak mengenai penyakit nefropati diabetik, bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor, kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.