04 December 2018

Disebabkan Nyamuk, Ini Perbedaan Malaria dan DBD

Disebabkan Nyamuk, Ini Perbedaan Malaria dan DBD

Halodoc, Jakarta - Meski sama-sama disebabkan oleh gigitan nyamuk, malaria dan demam berdarah (DBD) merupakan penyakit yang berbeda, lho. Perbedaan mendasar yang perlu diketahui adalah jenis nyamuk penyebabnya. Malaria ditularkan oleh nyamuk Anopheles betina, sedangkan DBD disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegypti. Karakteristik, tempat hidup, dan cara penularan penyakit yang dibawa kedua nyamuk ini pun jelas berbeda.

Nyamuk Aedes Aegypti biasanya berkembang di air bersih, berbeda dengan nyamuk Anopheles yang lebih suka menempati air kotor. Aedes Aegypti membawa virus dengue yang kemudian ditularkan ke manusia melalui gigitannya, sementara Anopheles membawa parasit yang masuk ke peredaran darah menuju sel-sel hati dan kemudian menyerang sistem tubuh.

Perbedaan Masa Inkubasi

Selain jenis nyamuk, malaria dan DBD juga memiliki perbedaan pada masa inkubasi. Masa inkubasi adalah waktu yang diperlukan virus atau parasit untuk menyebar dalam tubuh hingga menimbulkan gejala. DBD biasanya memiliki masa inkubasi sekitar 3-4 hari, sedangkan malaria membutuhkan waktu 1-3 minggu.

Malaria memiliki masa inkubasi lebih lama karena plasmodium yang ditularkan penyakit malaria membutuhkan waktu yang lebih lama untuk berkembang, atau menginfeksi saraf-saraf dalam tubuh. Itu lah mengapa gejala yang timbul pada pengidap malaria dan DBD juga berbeda. DBD umumnya menyerang secara mendadak, sedangkan malaria biasanya menunjukkan waktu yang lebih lama dari awal digigit nyamuk hingga muncul gejala.

Demam, Tapi Tak Sama

Baik malaria maupun DBD memiliki gejala yang serupa, yaitu demam. Namun, demam yang terjadi pun berbeda. Pada DBD, demam yang terjadi biasanya merupakan demam tinggi yang berlangsung selama 2-7 hari, dan disertai gejala-gejala lain seperti nyeri otot, bintik-bintik pada kulit, mimisan, hingga gusi berdarah.

Sementara pada malaria, demam yang terjadi biasanya tergantung pada jenis parasit yang menyebabkannya. Ada malaria tertiana yang ditandai dengan gejala demam periodik 3 hari sekali, malaria kuartana selama 4 hari sekali, dan tropikana yang ditandai dengan demam yang terus-menerus. Demam pada malaria diawali dengan fase menggigil, kemudian demam berkeringat, yang diiringi dengan nyeri otot, mual, dan muntah.

Dalam mendiagnosis malaria dan DBD, dokter biasanya akan mengecek riwayat pengidap terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan malaria biasanya terjadi di daerah-daerah endemis. Ketika pengidap kebetulan baru saja datang dari daerah endemis, dokter biasanya akan mendiagnosisnya mengidap malaria. Namun, pemeriksaan laboratorium tetap diperlukan untuk melakukan diagnosis secara pasti, apakah pengidap terserang malaria atau DBD.

Itu lah sedikit penjelasan tentang perbedaan penyakit malaria dan DBD. Jika kamu membutuhkan informasi lebih lanjut soal kedua penyakit ini atau gangguan kesehatan lainnya, jangan ragu untuk mendiskusikannya dengan dokter pada aplikasi Halodoc, lewat fitur Contact Doctor, ya. Mudah kok, diskusi dengan dokter spesialis yang kamu inginkan pun dapat dilakukan melalui Chat atau Voice/Video Call. Dapatkan juga kemudahan membeli obat menggunakan aplikasi Halodoc, kapan dan di mana saja, obatmu akan langsung diantar ke rumah dalam waktu satu jam. Yuk, download sekarang di Apps Store atau Google Play Store!

Baca juga: