Disebabkan Nyamuk, Ini Perbedaan Malaria dan DBD

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Disebabkan Nyamuk, Ini Perbedaan Malaria dan DBD

Halodoc, Jakarta – Walaupun sama-sama disebabkan oleh gigitan nyamuk, malaria dan demam berdarah adalah penyakit yang berbeda. Perbedaan yang paling terlihat adalah jenis nyamuk penyebabnya.

Malaria ditularkan oleh gigitan nyamuk Anopheles betina, sedangkan DBD ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Karakteristik, tempat hidup dan cara penularannya juga berbeda.

Baca Juga: Hobi Traveling? Waspada Penyakit Malaria

Nyamuk Aedes Aegypti biasanya berkembang di air bersih, sedangkan nyamuk Anopheles yang lebih suka menempati air kotor. Nyamuk penyebab DBD membawa virus dengue yang ditularkan melalui gigitannya, sementara nyamuk Anopheles membawa parasit yang masuk ke peredaran berdarah menuju sel-sel hati dan kemudian menyerang sistem tubuh. Berikut ini perbedaan demam berdarah dengan malaria lainnya.

1. Masa Inkubasi

Perbedaan lain dari kedua penyakit ini adalah lamanya masa inkubasi. Masa inkubasi adalah waktu yang diperlukan virus atau parasit untuk menginfeksi tubuh sampai menimbulkan gejala. Melansir dari Stanford Health Care, malaria memiliki masa inkubasi 7-30 hari sampai gejalanya muncul. Sedangkan DBD, menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), demam ini memiliki masa inkubasi 4-10 hari setelah gigitan nyamuk.

Alasan mengapa malaria memiliki masa inkubasi lebih lama karena plasmodium yang ditularkan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk berkembang atau menginfeksi saraf-saraf dalam tubuh. Itulah alasan gejala pada pengidap malaria dan DBD juga berbeda. Perbedaan lainnya, DBD umumnya menyerang secara mendadak, sedangkan malaria memerlukan waktu yang lebih lama dari awal digigit nyamuk hingga muncul gejala.

2. Gejala yang Ditimbulkan

Baik malaria maupun DBD memiliki gejala yang serupa, yaitu demam. Namun, demam yang terjadi pun berbeda. Pada DBD, demam yang terjadi biasanya merupakan demam tinggi yang berlangsung selama 2-7 hari, dan disertai gejala lainnya seperti nyeri otot, bintik-bintik pada kulit, mimisan, hingga gusi berdarah.

Sementara pada malaria, demam yang terjadi biasanya tergantung pada jenis parasit yang menyebabkannya. Ada malaria tertiana yang ditandai dengan gejala demam periodik 3 hari sekali, malaria kuartana selama 4 hari sekali, dan tropikana yang ditandai dengan demam yang terus-menerus. Demam pada malaria diawali dengan fase menggigil, kemudian demam berkeringat, yang diiringi dengan nyeri otot, mual, dan muntah.

Baca Juga: 3 Fase Demam Berdarah yang Wajib Kamu Ketahui

Dalam mendiagnosis malaria dan DBD, dokter biasanya mengecek riwayat pengidap terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan malaria biasanya terjadi di daerah-daerah endemis.

Ketika pengidap kebetulan baru saja datang dari daerah endemis, dokter biasanya akan mendiagnosisnya mengidap malaria. Namun, pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk melakukan diagnosis secara pasti, apakah pengidap terserang malaria atau DBD.

Kalau kamu, keluarga atau kerabat dekatmu mengalami sejumlah gejala di atas, segera periksakan ke dokter untuk diidentifikasi lebih lanjut. Kalau kamu berencana memeriksakan diri, kamu bisa membuat janji dengan dokter sebelum mengunjungi rumah sakit lewat aplikasi Halodoc.

Bagaimana Mencegah Malaria dan DBD?

CDC merekomendasikan langkah pencegahan agar terhindar dari gigitan nyamuk. Berikut sejumlah hal yang perlu dilakukan untuk mencegah malaria dan DBD, yaitu:

  • Oleskan obat nyamuk pada kulit yang terpapar. Contoh obat yang disarankan mengandung 20-35% persen N, N-Diethyl-meta-toluamide (DEET).

  • Kenakan pakaian lengan panjang dan celana panjang saat berada di luar ruangan dan di malam hari.

  • Gunakan kelambu di atas tempat tidur jika kamar tidak ber-AC. Untuk perlindungan tambahan, rawat kelambu dengan insektisida permetrin.

  • Semprotkan insektisida atau jenis penolak lainnya pada pakaian, karena nyamuk dapat menggigit pakaian tipis.

  • Semprotkan piretrin atau insektisida serupa di kamar sebelum tidur.

Baca juga: Mitos dan Fakta Seputar DBD

Anak-anak wajib diperhatikan karena mereka cenderung bermain di luar ruangan serta sistem kekebalan tubuhnya belum terbentuk secara sempurna. Pastikan anak-anak mengenakan pakaian tertutup dan mengoleskan obat nyamuk pada kulit yang terpapar.

Referensi :
Stanford Health Care. Diakses pada 2019. Malaria.
WHO. Diakses pada 2019. Dengue and severe dengue.
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2019. Prevent Mosquito Bites.