• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Epilepsi Fotosensitif Dapat Terjadi saat Nonton Film, Ini Penyebabnya
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Epilepsi Fotosensitif Dapat Terjadi saat Nonton Film, Ini Penyebabnya

Epilepsi Fotosensitif Dapat Terjadi saat Nonton Film, Ini Penyebabnya

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 11 Agustus 2022

“Efek berkedip atau berpola dapat membuat orang dengan atau tanpa epilepsi mengalami beberapa kondisi. Misalnya seperti disorientasi, menimbulkan rasa tidak nyaman hingga merasa tidak sehat.”

Epilepsi Fotosensitif Dapat Terjadi saat Nonton Film, Ini PenyebabnyaEpilepsi Fotosensitif Dapat Terjadi saat Nonton Film, Ini Penyebabnya

Halodoc, Jakarta – Belakangan ini, tengah ramai diperbincangkan di media sosial terkait film horor Indonesia terbaru yang dirilis. Selain alur cerita dan seberapa seram film tersebut, banyak orang yang memperbincangkan bagaimana efek kilatan atau flash effect di film tersebut yang dapat mengganggu pengidap epilepsi fotosensitif. Sebab, paparan cahaya yang ditampilkan dalam film tersebut dikatakan dapat memicu kejang-kejang pada pengidap kondisi ini.

Alhasil, film tersebut kini menggunakan peringatan efek kilatan sebelum penayangan dilakukan. Namun, kira-kira apa yang dimaksud dengan epilepsi fotosensitif? Dan mengapa dapat terjadi saat nonton film pada pengidapnya? Yuk, ketahui penjelasan dan penyebabnya di sini! 

Penjelasan Mengenai Epilepsi Fotosensitif

Epilepsi fotosensitif merupakan kondisi saat seseorang langsung mengalami kejang, yang dipicu oleh paparan lampu atau pola cahaya yang berkedip. Elektroensefalogram EEG dapat membantu diagnosis, dan mungkin termasuk pengujian untuk epilepsi fotosensitif. Ini melibatkan melihat cahaya yang akan berkedip pada kecepatan yang berbeda. Jika kondisi ini menyebabkan perubahan aktivitas otak, teknisi perlu segera menghentikan lampu yang berkedip sebelum kejang berkembang.

Kondisi ini tidak umum, tetapi dapat didiagnosis saat seseorang menjalani tes EEG. Perlu diketahui bahwa efek berkedip atau berpola dapat membuat orang dengan atau tanpa epilepsi merasa disorientasi, menimbulkan rasa tidak nyaman, hingga merasa tidak sehat. Kendati demikian, kondisi sensitif terhadap cahaya tidak selalu menandakan kalau kamu mengidap epilepsi fotosensitif. 

Penyebab Epilepsi Fotosensitif 

Secara garis besar, epilepsi merupakan kondisi yang umumnya disebabkan oleh aktivitas listrik abnormal pada otak. Kondisi ini dapat dipicu oleh gangguan keseimbangan neurotransmitter (pembawa pesan kimiawi di otak), gangguan saraf otak, atau kombinasi keduanya. 

Sementara itu, pada kondisi epilepsi fotosensitif, penyebab pastinya masih kurang dipahami, meskipun banyak pemicu umum telah diidentifikasi. Para ahli berpikiran bahwa faktor genetik berperan dalam perkembangan kondisi ini. 

Perlu diketahui bahwa perempuan lebih rentan terserang epilepsi fotosensitif jika dibandingkan dengan laki-laki. Namun, pengidap yang berjenis kelamin laki-laki lebih sering mengalami kejang-kejang. Kondisi kejang yang dapat kambuh ini dapat disebabkan oleh beberapa hal.

Misalnya seperti gelap terang yang kontras, kilatan cahaya, kedipan cahaya terang dengan latar sangat gelap, dan tampilan warna tertentu. Secara spesifik, kilatan cahaya yang dapat memicu terjadinya kejang epilepsi fotosensitif adalah lampu atau gambar yang berkedip antara tiga dan 60 hertz (berkedip per detik). 

Inilah alasan mengapa pengidap kondisi ini dapat mengalami kejang, ketika sedang menonton film di bioskop. Sebab, beberapa film kerap menampilkan efek kilatan dan kedipan cahaya secara tiba-tiba. Maka dari itu, pengidap epilepsi fotosensitif disarankan untuk sebisa mungkin menghindari faktor-faktor pemicu kejang di atas, demi keselamatan dan kesehatannya.

Kenali Gejalanya 

Gejala epilepsi fotosensitif dapat bervariasi, tergantung jenis kejang yang dialami pengidapnya. Namun,  gejalanya secara umum dapat meliputi:

  • Pusing. 
  • Perubahan dalam penglihatan. 
  • Sakit kepala. 
  • Gerakan tersentak-sentak dari lengan dan kaki. 
  • Merasakan mual. 
  • Mengalami penurunan kesadaran. 
  • Munculnya kejang otot yang tidak terkendali. 
  • Adanya rasa aneh di mulut dan gerakan mata yang cepat. 
  • Tubuh kehilangan kontrol atas kandung kemih dan kontrol usus. 

Itulah penjelasan mengenai alasan mengapa epilepsi fotosensitif dapat terjadi selama nonton film. Kondisi kejang yang kambuh akibat kondisi ini dapat disebabkan oleh beberapa hal. Misalnya seperti gelap terang yang kontras, kilatan cahaya, kedipan cahaya terang dengan latar sangat gelap, dan tampilan warna tertentu. Beberapa hal tersebut kerap disajikan pada film layar lebar di bioskop. 

Jika kamu masih memiliki pertanyaan seputar epilepsi fotosensitif, segeralah menghubungi dokter. Nah, melalui aplikasi Halodoc, kamu bisa tanya dokter tepercaya untuk mendapatkan informasi medis yang dibutuhkan. Tentunya melalui fitur chat/video call secara langsung pada aplikasinya. Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, download Halodoc sekarang juga! 

Referensi: 

Healthline. Diakses pada 2022. Photosensitive Epilepsy Overview. 
Epilepsy Society. Diakses pada 2022. Photosensitive epilepsy. 
WebMD. Diakses pada 2019. What Is Epilepsy?