Ketahui Fakta Fototerapi untuk Menangani Vitiligo

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Ketahui Fakta Fototerapi untuk Menangani Vitiligo

Halodoc, Jakarta – Pernahkah kamu melihat orang dengan bercak putih pada kulit? Jika iya, bisa jadi orang tersebut mengidap vitiligo. Penyakit ini menyebabkan warna kulit memudar dan bisa terjadi pada wajah, bibir, tangan, kaki, lalu menyebar ke bagian tubuh lain. Vitiligo bisa terjadi pada siapa saja, tapi lebih rentan terjadi pada remaja berusia 20 tahun.

Baca Juga: Memakai Skincare yang Salah, Bisa Memicu Terkena Vitiligo?

Mengapa Vitiligo Terjadi?

Perubahan warna kulit pada pengidap vitiligo disebabkan karena tubuh berhenti memproduksi pigmen. Akibatnya, muncul bercak putih yang kontras dengan warna kulit asli. Berhentinya produksi pigmen tubuh disebabkan oleh kelainan genetik, penyakit autoimun, stres, kulit terbakar akibat paparan sinar UV matahari, serta paparan bahan kimia.

Segera bicara pada dokter jika warna rambut, kulit, dan mata memudar. Sebab bisa jadi, perubahan warna ini menjadi tanda vitiligo. Biasanya dokter melakukan diagnosis vitiligo lewat pemeriksaan kulit menggunakan lampu ultraviolet. Setelah diagnosis ditetapkan, pengidap vitiligo diobati dengan konsumsi obat, fototerapi, hingga pembedahan.

Bagaimana Fototerapi Dilakukan pada Pengidap Vitiligo?

Meski dikenal sebagai pengobatan bayi kuning (jaundice), fototerapi juga termasuk alternatif pengobatan pengidap vitiligo. Fototerapi dilakukan jika vitiligo telah menyebar luas dan tidak bisa ditangani dengan obat oles. Sinar UV dipaparkan ke area kulit yang terinfeksi vitiligo. Sebelum prosedur ini dilakukan, pengidap diberi psoralen agar kulitnya lebih sensitif pada sinar UV. Fototerapi umumnya dilakukan sebanyak tiga kali tiap minggu selama 6 – 12 bulan. Prosedur ini dikombinasikan dengan terapi laser, obat prednisolon, vitamin D, dan obat azathioprine yang berpengaruh pada daya tahan tubuh.

Baca Juga: Serba-Serbi Bayi Kuning, Ini yang Perlu Diketahui

Sama seperti terapi lainnya, fototerapi memiliki efek samping yang perlu diwaspadai. Paparan sinar UV yang dipaparkan tidak sesuai standar bisa merusak kulit, memicu penuaan dini, hingga meningkatkan risiko kanker kulit.

Fototerapi yang dilakukan terlalu sering bisa menekan sistem kekebalan tubuh (imunosupresan), membuat tubuh rentan terhadap infeksi penyakit. Efek samping lain yang perlu diwaspadai adalah mata lebih sensitif terhadap cahaya dan risiko katarak meningkat. Fototerapi tidak dianjurkan pada ibu hamil, ibu menyusui, orang yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker kulit, serta pengidap penyakit hati dan lupus.

Apa Saja Penyakit yang Bisa Diobati dengan Fototerapi?

Pelaksanaan fototerapi tergantung pada jenis penyakit yang diobati. Selain penyakit kuning pada bayi baru lahir, berikut ini penyakit yang bisa diobati menggunakan fototerapi:

  • Masalah kulit. Selain vitiligo, masalah kulit yang bisa diobati menggunakan fototerapi adalah eksim dan psoriasis. Hasil pengobatan bersifat sementara, sehingga perlu dilakukan secara berkala sesuai anjuran dokter. Efek samping yang perlu diwaspadai adalah kulit kering, gatal, kemerahan, dan mual.

  • Gangguan tidur dan suasana hati, seperti gangguan afektif musiman (seasonal affective disorder/ SAD) ataupun tidur terlambat (delayed sleep phase syndrome).

  • Kanker. Misalnya kanker esofagus dan penyakit esofagus barret.

Baca Juga: Apakah Vitiligo Dapat Disembuhkan? Ini Faktanya

Jika kamu punya keluhan pada kulit, jangan ragu bicara pada dokter Halodoc untuk mencari tahu penyebab pastinya. Kamu bisa menggunakan aplikasi Halodoc untuk bertanya pada dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, segera download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play!