Faktor yang Tingkatkan Risiko Toxic Shock Syndrome

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
faktor-yang-tingkatkan-risiko-toxic-shock-syndrome-halodoc

Halodoc, Jakarta – Menstruasi adalah siklus alami yang akan dialami oleh wanita dewasa setiap bulannya. Namun ternyata, siklus alami ini membuat wanita lebih berisiko mengalami toxic shock syndrome, lho. Apa itu toxic shock syndrome? Sindrom syok toksik adalah kondisi langka berupa keracunan darah yang terjadi secara tiba-tiba dan bisa berakibat fatal. Selain wanita, masih ada beberapa faktor lain lagi yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami toxic shock syndrome. Yuk, cari tahu di sini.

Toxic shock syndrome bisa terjadi akibat pelepasan racun dari bakteri bernama Staphylococcus aureus atau Staph yang sering ditemukan di dalam tubuh wanita. Penyakit ini memengaruhi wanita yang sedang menstruasi, terutama mereka yang menggunakan tampon selama siklus tersebut. Hal ini semakin diperkuat ketika banyak produsen tampon menarik produknya dari pasaran, dan diketahui tingkat toxic shock syndrome pada wanita menstruasi pun langsung menurun drastis. 

Tidak hanya penggunaan tampon, toxic shock syndrome juga terkait dengan penggunaan spons kontraseptif, dan metode kontrasepsi dengan diafragma. Seorang wanita yang baru saja melahirkan juga memiliki peluang lebih tinggi untuk terkena syok toksik.

Namun, selain wanita, pria pun juga berisiko mengalami sindrom syok toksik bila mengalami luka atau infeksi pada kulit, paru-paru, tenggorokan, atau tulang. Jenis bakteri kedua yang menjadi penyebab paling sering sindrom ini setelah bakteri Staphylococcus aureus, adalah Streptococcus pyogenes yang bisa masuk ke dalam tubuh melalui kulit yang terluka akibat operasi atau luka ringan, seperti tergores, gesekan, bisul, cacar air, dan sebagainya.

Baca juga: Sedang Haid, Pakai Tampon atau Pembalut?

Penyebab Toxic Shock Syndrome

Bakteri Staph sebenarnya tidak berbahaya dan biasa ditemukan di dalam Miss V. Bagaimana bakteri tersebut menyebabkan sindrom syok masih belum dipahami. Namun, pertumbuhan bakteri Staph yang terlalu banyak berpotensi melepaskan racun, sehingga racun masuk ke aliran darah. 

Tampon yang penuh dengan darah adalah lingkungan yang sangat mendukung bakteri Staph untuk bertumbuh dengan cepat. Hal ini juga dipengaruhi oleh bahan dasar pembuat tampon tersebut. Sedangkan pada kasus spons menstrual dan kontrasepsi diafragma, penggunaan alat tersebut di dalam Miss V dalam waktu yang lama (lebih dari 30 jam) menjadi salah satu pemicu terjadinya sindrom syok toksik.

Baca juga: Penggunaan Alat Kontrasepsi Tingkatkan Risiko Gejala Menoragia

Faktor Risiko Toxic Shock Syndrome

Berikut ini beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko toxic shock syndrome:

  • Mengalami luka gores atau luka bakar;

  • Baru saja menjalani operasi;

  • Menggunakan tampon, spons kontraseptif, dan diafragma; dan

  • Terkena infeksi virus, seperti flu atau cacar air.

Waspadai Gejala Sindrom Toksik

Gejala toxic shock syndrome yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus, meliputi demam yang biasanya bisa mencapai 39 derajat Celsius, menggigil, muntah, diare, nyeri otot, kelemahan otot yang parah, takikardia, muncul ruam seperti terbakar sinar matahari, sakit kepala, dan tekanan darah rendah.

Sedangkan gejala syok toksik yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus meliputi napas pendek, pusing, lemah, dan detak jantung meningkat. Infeksi luka yang dialami pengidap juga mungkin akan memerah, membengkak, serta terjadinya gangguan fungsi ginjal dan hati.

Toxic shock syndrome adalah kondisi yang tidak boleh dibiarkan saja, karena bisa berakibat fatal. Jadi, bila kamu mengalami gejala-gejala tersebut, sebaiknya segera temui dokter untuk mendapatkan penanganan. 

Cara Mencegah Toxic Shock Syndrome

Nah, dengan mengetahui faktor risiko sindrom toksik di atas, kamu pun bisa menyusun langkah-langkah guna mencegah kondisi tersebut terjadi:

  • Rajin mengganti tampon atau pembalut selama menstruasi.

  • Cuci tangan dengan air dan sabun sampai bersih sebelum memasukkan tampon. Hal ini karena bakteri banyak ditemukan pada kulit, terutama di tangan.

  • Minum antibiotik untuk mengatasi bakteri penyebab sindrom toksik dengan dosis yang tepat.

Baca juga: Harus Tahu, Masalah Menstruasi yang Enggak Boleh Diabaikan

Bila ingin mengonsumsi obat-obatan untuk mengatasi toxic shock syndrome, sebaiknya bicarakan dulu dengan dokter. Kamu juga bisa berdiskusi dengan dokter lewat aplikasi Halodoc, lho. Melalui Video/Voice Call dan Chat, kamu bisa minta saran kesehatan kapan saja dan di mana saja. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.