Gara-Gara Gadget, Mata Malas Bisa Muncul Tiba-Tiba?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Gara-Gara Gadget, Mata Malas Bisa Muncul Tiba-Tiba?

Halodoc, Jakarta – Kecanduan bermain gadget di era digital ini sudah bukan pemandangan asing. Hal ini bahkan belakangan ini terjadi pada anak-anak, dan kerap membuat khawatir orangtua. Bagaimana tidak, ketimbang manfaatnya, kecanduan bermain gadget nyatanya lebih banyak mendatangkan efek buruk, terutama pada penglihatan. Gara-gara gadget pula, mata malas atau amblyopia bisa terjadi.

Mata malas merupakan kondisi ketika otak lebih cenderung membuat salah satu mata saja yang bekerja, sementara mata yang satunya menjadi “malas”. Gangguan penglihatan ini umumnya disebabkan oleh kualitas penglihatan pada satu sisi mata yang lebih buruk daripada mata yang lainnya, sehingga membuat otak mengabaikan impuls dari mata yang lemah tersebut.

Baca juga: Ini Nama Lain dari Mata Malas

Kondisi mata malas ini bisa terjadi ketika kedua mata tidak digunakan secara seimbang, dan dapat dipicu oleh berbagai hal. Salah satunya adalah kebiasaan buruk seperti terlalu sering bermain gadget yang kemudian memicu terjadinya gangguan penglihatan, atau secara tiba-tiba seperti mengalami trauma yang menyebabkan kerusakan pada mata.

Beberapa hal lainnya yang juga dapat memicu terjadinya mata malas adalah:

  • Mata juling (strabismus) yang tidak ditangani.

  • Faktor genetik, seperti riwayat keluarga dengan mata malas.

  • Perbedaan kemampuan penglihatan yang cukup jauh di antara kedua mata.

  • Turunnya kelopak mata.

  • Kekurangan vitamin A.

  • Ulkus kornea.

  • Operasi mata.

  • Gangguan penglihatan.

  • Glaukoma.

Gejala Awal dari Mata Malas

Pada tahap yang ringan, mata malas umumnya sulit dideteksi. Biasanya kondisi ini baru terlihat ketika sudah parah. Namun, ada beberapa tanda atau gejala awal dari mata malas yang sebenarnya bisa terlihat, seperti:

  • Kecenderungan menabrak benda di satu sisi.

  • Mata yang ‘berlari’ kemana-mana, baik sisi dalam atau luar.

  • Kedua mata kelihatan tidak bekerja bersama.

  • Kurangnya kemampuan memperkirakan jarak.

  • Penglihatan ganda.

  • Sering mengernyit.

Baca juga: Benarkah Juling Bisa Sebabkan Mata Malas?

Jika mengalami gejala tersebut, atau menjumpai anak yang menunjukkan tanda seperti itu, sebaiknya segera manfaatkan aplikasi Halodoc untuk berdiskusi dengan dokter mata lewat Chat, atau buat janji dengan dokter mata di rumah sakit, guna menjalani pemeriksaan lebih lanjut. 

Bagaimana Pengobatan yang Bisa Dilakukan untuk Mata Malas?

Pengobatan mata malas perlu dilakukan dengan cara mengatasi penyebabnya. Prinsipnya adalah membantu mata yang lebih lemah untuk berkembang menjadi normal. Jika pengidap mengalami kelainan refraksi seperti rabun jauh atau rabun dekat, dokter mata akan meresepkan kacamata.

Pemakaian penutup mata untuk mata yang lebih sehat juga biasanya akan disarankan oleh dokter. Hal ini bertujuan untuk melatih mata yang lemah agar bisa lebih fokus untuk melihat dan perkembangan otak untuk mengontrol penglihatan pun terbantu. Penutup mata dapat dipakai selama 1-2 jam dalam sehari.

Baca juga: Periksa Mata Sejak Dini, Kapan Sebaiknya Mulai Dilakukan?

Sementara itu, jika mata malas terjadi akibat mata juling, dokter mata akan menyarankan operasi untuk memperbaiki otot mata. Perlu diketahui bahwa semakin cepat mata yang malas diperbaiki, semakin baik pula hasil pengobatan yang didapat. Jadi, jangan ragu untuk berkonsultasi segera pada dokter mata, ketika mengalami gangguan penglihatan dalam bentuk apapun.

Karena gejala mata malas cenderung sulit dideteksi pada tahap awal, penting untuk memeriksakan mata ke dokter secara rutin. Pemeriksaan mata rutin ini juga diperlukan untuk bayi dan anak-anak, bahkan ketika tidak mengalami gejala apapun. Bawalah anak untuk periksa ke dokter mata pada usia 6 bulan dan 3 tahun, lalu setelahnya bisa dilakukan secara rutin setiap 2 tahun sekali.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Lazy eye (amblyopia).  
Healthline. Diakses pada 2019. Lazy Eye.