• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Hasil Uji Klinis Vaksin J&J Cukup 1 Kali Suntik

Hasil Uji Klinis Vaksin J&J Cukup 1 Kali Suntik

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta - Selain vaksin COVID-19 dari Sinovac, CanSinoBio, Sinopharm I & II, dan The Gamaleya Research Institute, ada vaksin lain yang sudah sempat melewati uji klinis. Vaksin tersebut yaitu vaksin eksperimental Johnson & Johnson (J&J). Vaksin ini pasalnya menunjukkan kekebalan tubuh yang kuat terhadap virus corona. 

Vaksin yang juga disebut Ad26.COV2.S ini memiliki toleransi yang baik. Dilansir dari laman Reuters, satu suntikan vaksin eksperimental Johnson & Johnson ini mampu menyederhanakan distribusi vaksin nantinya. Hanya saja, belum diketahui secara pasti bagaimana reaksi vaksin pada orang lanjut usia, yang menjadi salah satu kelompok yang paling berisiko. Akankah sama efektifnya dengan orang yang lebih muda? Ini ulasannya.

Baca juga: Ketahui Perkiraan Harga Vaksin Corona di Indonesia


Bagaimana Hasil Uji Coba Vaksin J&J yang 1 Kali Suntik?

Uji coba vaksin J&J yang didukung oleh pemerintah Amerika Serikat ini dilakukan pada hampir 1.000 orang relawan yang sehat. Uji coba dilakukan setelah vaksin J&J ditemukan pada Juli lalu. Sebelum diberikan pada manusia, vaksin diuji pada monyet dalam dosis tunggal. 

Setelah hasil pengujian terlihat menjanjikan pada monyet, kemudian perusahaan memulai studi keamanan kecil atau uji coba fase satu dan dua pada manusia. Setelah dianalisis dari 395 relawan tidak ditemukan efek samping yang serius. Hasil yang terlihat yaitu tingkat antibodi yang sesuai harapan dengan hanya satu suntikan. 

Menurut pengumuman dari website resmi J&J, pada Rabu (23/9), mereka memulai uji coba tahap akhir pada 60.000 orang relawan, dengan begitu persetujuan regulasi pun akan terbuka. Harapannya, hasil uji coba tahap tiga bisa keluar dan diketahui pada akhir tahun atau awal tahun depan nanti. 

Baca juga: Uji Coba Vaksin Corona Lemah pada Lansia, Apa Alasannya?

Para peneliti beserta J&J Janssen Pharmaceuticals, mengumumkan 29 hari setelah vaksinasi, terdapat 98 persen relawan memiliki antibodi penara yang mampu melindungi sel dari patogen. Walaupun begitu, reaksi tanggapan kekebalan baru terlihat pada sedikit orang berusia di atas 65 tahun atau lansia.

Relawan dengan usia lebih dari 65 tahun mengalami efek samping seperti kelelahan dan nyeri otot sebanyak 36 persen, lebih rendah dibanding 64 persen pada relawan yang usianya lebih muda. 

Namun, kita perlu bersabar dengan hasil rincian selanjutnya, terkait keamanan dan keefektifan vaksin akan menyusul setelah penelitian tuntas dilakukan. Hingga saat ini, hasil yang terlihat memerlukan penelitian dalam jumlah besar untuk menemukan efek samping yang serius dan dapat diantisipasi. 

Sementara itu, laman New York Times menuliskan, meski vaksin J&J menjadi kandidat di belakang vaksin lain pada beberapa bulan belakang, namun uji coba vaksin lanjutannya hingga saat ini menjadi yang terbesar. Hal ini melihat relawannya melibatkan 60.000 peserta.

Vaksin ini tampaknya berpotensi memiliki keunggulan konsekuensial daripada beberapa vaksin pesaing. Sebab, teknologi yang digunakan memiliki catatan keamanan panjang untuk vaksin penyakit lain. 

Keunggulan vaksin COVID-19 buatan J&J yang patut diperhitungkan yaitu kemungkinan hanya membutuhkan satu suntikan, bukan dua seperti vaksin pesaingnya. Faktor ini penting untuk jadi bahan pertimbangan, mengingat seluruh populasi dunia membutuhkan vaksin COVID019. Di samping itu, vaksin buatan J&J ini juga tidak harus dibekukan saat didistribusi ke rumah sakit atau tempat lainnya yang diterima oleh pasien. 

Baca juga: Alasan Pandemi Belum Tentu Usai Meski Vaksin Corona Ditemukan

Itulah informasi mengenai vaksin COVID-19 buatan J&J yang perlu diketahui. Semoga tidak lama lagi vaksin yang terbaik dapat segera diedarkan secara global agar kehidupan kembali normal. 

Selalu ingat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan selama pandemi ini masih berlangsung. Jika kamu mengalami gangguan kesehatan, terutama yang gejalanya mirip dengan virus corona, segera bicarakan pada dokter melalui aplikasi Halodoc untuk penanganannya. Yuk, download aplikasi Halodoc agar sehat lebih tenang. 

Referensi:
Johnson & Johnson. Diakses pada 2020. Johnson & Johnson Initiates Pivotal Global Phase 3 Clinical Trial of Janssen’s COVID-19 Vaccine Candidate
The New York Times. Diakses pada 2020. Johnson & Johnson’s Vaccine Advances, Sparking Optimism in Race
Reuters. Diakses pada 2020. J&J kicks off study of single-shot COVID-19 vaccine in 60,000 volunteers