Hati-Hati Shaken Baby Syndrome Saat Mengayun Bayi

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
shaken baby syndrome

Halodoc, Jakarta – Untuk berbagai alasan, tanpa sadar orangtua sering mengayun-ayun bayi terlalu kencang. Misalnya, karena sedikit kesal dengan Si Kecil yang terus menangis, tanpa sadar ibu mengguncang-guncang badan Si Kecil dengan keras. Atau ketika mengajak bayi bermain, ayah biasanya suka melempar-lempar bayi ke udara untuk membuatnya tertawa. Sebenarnya boleh-boleh saja mengayun bayi, tapi jangan sampai terlalu kencang karena bisa menyebabkan terjadinya shaken baby syndrome pada Si Kecil.  

Dilansir dari IDAI, shaken baby syndrome (SBS) merupakan bentuk kekerasan pada anak berupa guncangan yang hebat pada kepala. Bayi berusia di bawah 2 tahun lah yang paling mudah mengalami sindrom ini. Berikut akibat yang bisa ditimbulkan SBS pada bayi:

  • Pendarahan Otak. Cedera otak yang terjadi akibat SBS berbeda dengan cedera ketika terjatuh, kejang atau trauma kepala lainnya. Saat bayi mengalami guncangan yang hebat, otak mengalami perputaran atau pergeseran terhadap aksisnya (batang otak). Hal ini akhirnya menyebabkan saraf dan pembuluh darahnya robek, serta kerusakan dan pendarahan otak.
  • Kerusakan Saraf. Guncangan yang hebat juga dapat menyebabkan kerusakan saraf yang biasanya bersifat permanen.
  • Cedera pada Bagian Leher dan Tulang Belakang. Bayi berusia dua tahun ke bawah masih memiliki batang leher yang sangat rapuh, sehingga ketika diguncang-guncang dengan sangat keras, maka bisa menyebabkan cedera pada bagian leher dan tulang belakangnya.
  • Cedera Mata. Cedera mata yang sering terjadi akibat SBS adalah perdarahan salah satu atau kedua retina mata. Masalahnya, pendarahan di dalam mata seringkali susah terdeteksi karena bayi belum bisa mengeluhkan gangguan penglihatan yang dialaminya.
  • Kematian. SBS juga dapat berakibat fatal dan menyebabkan bayi meninggal dunia. Sekitar 10-12 persen kematian bayi di Amerika Serikat disebabkan karena shaken baby syndrome.

Baca juga: 7 Kesalahan yang Sering Dilakukan Orangtua pada Anak

Penyebab Shaken Baby Syndrome

SBS bisa terjadi karena pergerakan yang dilakukan oleh bayi sendiri, namun lebih sering disebabkan oleh tindakan orang dewasa yang dengan sengaja atau tidak sengaja mengguncang bayi secara keras. Pada sebagian besar kasus SBS yang disengaja, biasanya dilakukan oleh orangtua laki-laki atau ayah, pengasuh anak, dan orangtua yang mengalami stres secara sosial, biologis atau finansial, sehingga mudah melakukan tindakan yang impulsif dan agresif. Sedangkan pada kasus SBS yang tidak disengaja, kebanyakan orangtua sering melakukan kebiasaan-kebiasaan yang tanpa sadar bisa menyebabkan bayi mengalami sindrom ini, seperti menaruh bayi di ayunan, mengguncang saat menggendong, mengguncang bayi dengan tangan atau kaki, dan melempar bayi ke udara.

Baca juga: 4 Cara Menggendong Bayi yang Perlu Orang Tua Ketahui

Gejala Shaken Baby Syndrome atau SBS

Tergantung dari tingkat keparahan kondisi yang dialami bayi, SBS bisa menimbulkan gejala yang ringan maupun yang sangat berat. Gejala yang ringan seringkali tidak disadari dan dapat membaik seiring berjalannya waktu.

Namun, SBS juga bisa menyebabkan gejala yang sangat parah, seperti hilang kesadaran, kejang sampai kematian. Gejala awal yang akan dialami oleh bayi sesaat setelah diguncang secara hebat adalah bayi menjadi rewel, muntah-muntah, tidak mau makan dan lebih banyak tidur. Gejala ini bisa berlangsung selama beberapa hari sampai beberapa minggu. Sedangkan bayi yang sudah mengalami pendarahan otak akan menunjukkan gejala seperti hilang kesadaran, kejang, muntah, malas menyusu, dan kurang aktif. Kerusakan otak yang berat akibat SBS membuat bayi mengalami gangguan pernapasan sampai berhenti bernapas. Namun, bayi yang mengalami kerusakan otak juga bisa menunjukkan gejala yang tidak spesifik, sehingga sulit diketahui. Akibatnya, ketika sudah besar, anak tersebut dapat mengalami gangguan belajar atau gangguan perilaku.

Cara Mencegah SBS

Bila ibu mencurigai bayi mengalami shaken baby syndrome, lakukan lah pemeriksaan penunjang seperti CT scan atau MRI kepala untuk mengetahui apakah ada kerusakan otak dan pendarahan.  Foto rontgen juga diperlukan untuk mengkonfirmasi bila ada tulang yang patah, sedangkan pemeriksaan mata diperlukan untuk mengetahui perdarahan retina.

Orangtua juga sebaiknya segera menghentikan kebiasaan bermain atau bercanda dengan bayi dengan cara mengayun, mengguncang atau melempar tubuh bayi, agar Si Kecil terhindar dari shaken baby syndrome. Bila ingin meletakkan bayi pada ayunan, gunakan lah ayunan khusus bayi yang lembut dan aman.

Bila ibu ingin tahu lebih lanjut tentang shaken baby syndrome, tanyakan saja langsung ke ahlinya di aplikasi Halodoc. Melalui Video/Voice Call dan Chat, ibu bisa berdiskusi dan minta saran kesehatan dari dokter kapan saja dan di mana saja. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.