21 March 2019

Hepatitis Tingkatkan Risiko Gagal Hati, Benarkah?

Hepatitis Tingkatkan Risiko Gagal Hati, Benarkah?

Halodoc, Jakarta - Selain gagal jantung dan gagal ginjal, ada juga gagal hati yang tak kalah bahayanya. Gagal hati ini merupakan kondisi ketika organ hati tak bisa berfungsi kembali karena mengalami kerusakan yang amat luas. Risiko gagal hati ini bisa menyebabkan kematian dan memerlukan perawatan medis secepatnya.

Setidaknya, ada tiga jenis gagal hati, yaitu gagal hati akut, gagal hati subakut, dan gagal hati kronis. Gagal hati akut, yaitu hati tak berfungsi dalam waktu delapan jam setelah faktor penyebab, dan mulai menimbulkan kerusakan pada organ hati.

Sedangkan jika hati tak berfungsi selama 8–26 jam disebut sebagai gagal hati subakut. Sementara itu, gagal hati kronis kerusakannya terjadi secara perlahan. Kerusakan ini bisa dalam beberapa tahun, sampai organ hati mengalami kegagalan fungsi. Risiko gagal hati yang satu ini bisa menyebabkan kematian, lho.

Lalu, apa saja sih gejala dari gagal hati? Di samping itu, benarkah hepatitis bisa meningkatkan risiko gagal hati?

Baca juga: Gagal Hati Pengaruhi Kondis Mental, Kok Bisa?

Gagal Hati Bisa Menimbulkan Banyak Tanda

Tak ada gejala khusus pada tahap awal gagal hati. Tapi, bila pun ada gejalanya biasanya tidak khas, hanya berupa kondisi lebih cepat lelah atau nafsu makan berkurang. Tapi, ketika banyaknya sel hepatosit yang rusak, barulah gejalanya semakin jelas. Yang perlu diingat, ketika gagal hati sudah memasuki tahap lanjut, gejala yang timbul bisa bervariasi. Misalnya:

  • Badan terlihat kuning, air seni berwarna, seperti teh dan kulit sering gatal akibat gangguan metabolisme bilirubin.

  • Gejala tidak khas, seperti mudah lelah, nafsu makan turun, tubuh semakin kurus, ataupun rambut rontok.

  • Gangguan aliran darah yang menyebabkan pengidap gagal hati mengalami muntah darah, buang air besar hitam, ataupun tampak kelokan pembuluh darah di sekitar pusar.

  • Payudara membesar dan telapak tangan memerah karena penumpukan hormon estrogen

  • Gusi berdarah atau perdarahan saluran pencernaan karena hati tidak bisa memproduksi zat pembekuan darah.

  • Tubuh dan tungkai kaki bengkak akibat hati tidak bisa memproduksi protein lagi

  • Sulit tidur, bicara meracau, bahkan dapat terjadi penurunan kesadaran karena racun amonia yang tidak bisa dinetralkan oleh hati.

Baca juga: Tindakan Medis Ini Harus Dilakukan untuk Atasi Gagal Hati

Hepatitis Meningkatkan Risiko Gagal Hati?

Ketika mengalami kerusakan yang parah, hati tak akan lagi mampu untuk berfungsi. Nah, salah satu yang bisa meningkatkan risiko gagal hati adalah hepatitis, khususnya hepatitis B dan C. Hepatitis C merupakan penyakit menular yang menyebabkan kerusakan pada fungsi hati.

Jangan remehkan penyakit yang satu ini, sebab komplikasi hepatitis C kronis bisa menjadi serius dan menyebabkan penyakit lain yang lebih buruk. Komplikasi ini, meliputi sirosis, kanker hati, dan gagal hati. Tak cuma itu, komplikasi ini juga bisa membuat pengidapnya mengalami perdarahan dari lambung atau kerongkongan. Bahkan, kerusakan otak.

Baca juga:  Hati-hati, Hepatitis C yang Menular

Nah, berikut beberapa masalah yang sering menyebabkan gagal hati.

  • Kebiasaan mengonsumsi alkohol dalam jangka panjang.

  • Infeksi hepatitis B dan C yang tak diobati.

  • Di Indonesia, lebih dari 50 persen kasus gagal hati disebabkan karena infeksi hepatitis B.

  • Gizi yang buruk.

  • Infeksi virus Epstein-Barr dan adenovirus.

  • Penggunaan parasetamol dalam dosis tinggi.

  • Kelainan genetik.

  • Perlemakan hati.

  • Keracunan zat yang mengandung metal.

  • Hemokromatosis, kondisi di mana ada terlalu banyak zat besi.

  • Infeksi parasit, seperti schistosoma.

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Kamu bisa kok bertanya langsung ke dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!