• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ibu Harus Tahu, Ini Penyebab dan Ciri Tuna Grahita pada Anak
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ibu Harus Tahu, Ini Penyebab dan Ciri Tuna Grahita pada Anak

Ibu Harus Tahu, Ini Penyebab dan Ciri Tuna Grahita pada Anak

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 08 Agustus 2022

“Penyebab tuna grahita seringkali tidak diketahui secara pasti. Namun, ada gejala dan ciri-ciri yang bisa Ibu waspadai.”

Ibu Harus Tahu, Ini Penyebab dan Ciri Tuna Grahita pada AnakIbu Harus Tahu, Ini Penyebab dan Ciri Tuna Grahita pada Anak

Halodoc, Jakarta – Tuna grahita dikenal juga dengan istilah disabilitas intelektual. Ini merupakan gangguan perkembangan saraf yang terjadi karena adanya masalah pada pertumbuhan dan perkembangan otak. Akibatnya, fungsi intelektual pada anak sangat rendah. 

Anak-anak dengan kecerdasan intelektual (IQ) di bawah 70 dianggap memiliki tuna grahita. Kondisi ini mungkin ada sejak lahir atau berkembang selama masa bayi. Simak lebih lanjut untuk mengetahui penyebab dan gejala tuna grahita pada anak.

Penyebab Tuna Grahita pada Anak

Berbagai faktor medis, lingkungan, dan genetik selama kehamilan, kelahiran, atau setelah lahir dapat menyebabkan tuna grahita pada anak. Faktor-faktor tersebut dapat mengakibatkan kerusakan atau sering mengganggu perkembangan otak. 

Namun, penyebab spesifik dari tuna grahita tidak selalu diketahui. Faktor genetik berikut, seperti kelainan bawaan dan kelainan kromosom, dapat meningkatkan risiko:

  • Sindrom Down.
  • Sindrom X rapuh.
  • Phenylketonuria.
  • Penyakit Tay Sachs.
  • Neurofibromatosis.
  • Hipotiroid kongenital.

Komplikasi atau kondisi ibu selama kehamilan juga dapat meningkatkan risiko tuna grahita pada anak, seperti:

  • Kurang gizi.
  • Penggunaan alkohol.
  • Paparan racun, seperti methylmercury dan timbal.
  • Preeklamsia.
  • Kelahiran ganda seperti memiliki anak kembar dua atau kembar tiga.
  • Paparan obat-obatan tertentu, seperti obat kemoterapi, valproat, fenitoin, dll.
  • Infeksi virus Zika, rubella, cytomegalovirus, toxoplasma gondii, virus herpes simpleks, atau HIV.

Sementara itu, faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko tuna grahita selama persalinan adalah hipoksia janin dan kelahiran prematur yang ekstrem. Selain itu, ada juga faktor penyebab tuna grahita yang terjadi setelah kelahiran, yaitu:

  • Meningitis.
  • Radang otak.
  • Cedera kepala parah.
  • Hampir tenggelam.
  • Kurang gizi.
  • Pelecehan atau pengabaian emosional.
  • Keracunan timbal atau merkuri.
  • Tumor otak.
  • Kemoterapi.

Gejala Tuna Grahita pada Anak

Pada kebanyakan anak, gejala dan tanda tuna grahita mungkin tidak terlihat sampai usia prasekolah. Anak-anak dengan bentuk kecacatan yang parah mungkin memiliki gejala awal. Namun, diagnosis yang tepat dibuat setelah pengujian formal.

Secara umum, berikut ini ciri-ciri tuna grahita pada anak:

  • Fitur wajah yang tidak biasa.
  • Macrocephaly (kepala terlalu besar).
  • Mikrosefali (kepala terlalu kecil).
  • Malformasi tangan dan kaki.

Beberapa anak mungkin tidak memiliki ciri fisik apa pun tetapi mungkin menunjukkan tanda dan gejala masalah serius, seperti:

  • Kejang.
  • Gagal untuk berkembang.
  • Mengiler.
  • Lidah menonjol.
  • Kelesuan.
  • Keterlambatan perkembangan.
  • Muntah.

Selain itu, perilaku berikut sering terlihat pada anak dengan tuna grahita:

  • Respons lambat.
  • Ketidakmampuan untuk membuat keputusan.
  • Reaksi agresif ketika keinginannya ditolak atau dipenuhi dengan penundaan.
  • Masalah memori.
  • Kesulitan memecahkan masalah.
  • Kurang perhatian pada lingkungan sekitar.
  • Kesulitan dalam interaksi sosial.

Anak-anak dengan tuna grahita berat mungkin mengalami kesulitan belajar keterampilan motorik awal, seperti berguling, duduk, atau berdiri di tahun pertama kehidupan. Keterlambatan perkembangan bahasa merupakan masalah yang paling sering dihadapi oleh anak tuna grahita, dan sering ditemukan pada usia prasekolah.

Selain itu, anak mungkin tidak dapat mengucapkan kalimat lengkap karena kesulitan bahasa dan gangguan kognitif. Tantrum, perilaku agresif, atau menyakiti diri sendiri, dan lain-lain, lebih sering terjadi pada anak-anak dengan kondisi ini, daripada pada anak normal. 

Itulah pembahasan mengenai penyebab dan ciri-ciri tuna grahita pada anak. Lebih lanjutnya, ibu bisa periksakan kondisi anak pada dokter. Agar mudah, download Halodoc saja untuk membuat janji medis dengan dokter. 

Referensi:
Grow by WebMD. Diakses pada 2022. Intellectual Disability.
Very Well Mind. Diakses pada 2022. What Is an Intellectual Disability?
Mom Junction. Diakses pada 2022. Intellectual Disability (ID) In Children: Symptoms & Treatment.