• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ibu, Ini 5 Dampak Memaksa Anak untuk Berpuasa
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ibu, Ini 5 Dampak Memaksa Anak untuk Berpuasa

Ibu, Ini 5 Dampak Memaksa Anak untuk Berpuasa

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 18 April 2022

“Sesuatu yang dipaksakan tentu tidak baik, termasuk juga memaksa anak untuk berpuasa. Ada berbagai dampak buruk yang dapat terjadi jika anak terus dipaksa, seperti ia akan belajar berbohong dan tidak memahami makna puasa.”

Ibu, Ini 5 Dampak Memaksa Anak untuk Berpuasa

Halodoc, Jakarta – Anak memiliki respon yang berbeda-beda terkait banyak hal, termasuk juga berpuasa. Ada anak yang langsung mau mencoba untuk berpuasa, sedangkan yang lainnya enggan. Namun, bolehkah orang tua memaksa anaknya untuk berpuasa? Berikut penjelasan terkait jawaban dari pertanyaan tersebut!

Boleh atau Tidaknya Memaksa Anak untuk Berpuasa

Ibadah puasa memang wajib dilakukan oleh seluruh muslim di dunia. Meski begitu, ada beberapa kategori yang termasuk dalam kategori tidak wajib untuk menjalankan ibadah puasa. Kategori tersebut adalah ibu hamil, ibu menyusui, serta anak yang masih di bawah umur.

Namun, ada baiknya anak perlu dibiasakan untuk berpuasa sejak kecil sehingga kebiasaan ini terbawa hingga ia dewasa. Meski begitu, memang bukan perkara mudah untuk mengajarkan anak menjalankan ibadah puasa. Alhasil, beberapa orang tua ada yang memaksa anaknya untuk berpuasa.

Jika anak belum siap atau belum mau untuk menjalankan ibadah puasa, tentu akan berdampak buruk bagi anak. Maka dari itu, sangat tidak disarankan untuk memaksa anak dalam menjalankan sesuatu termasuk juga puasa. Ibu juga perlu tahu beberapa dampak negatif yang bisa terjadi pada anak saat dipaksa, yaitu:

1. Anak Akan Belajar untuk Berbohong

Salah satu dampak negatif saat orang tua memaksa anak untuk puasa adalah ia akan mulai belajar berbohong. Saat anak tidak dapat menahan lapar dan haus, ia mungkin minum atau makan secara diam-diam. Jika terus dilakukan, kebiasaan berbohong ini akan terus dilakukannya. Maka dari itu, sebelum menyuruh anak berpuasa, ada baiknya  menjelaskan makna puasa dan alasan harus dilakukan.

Selain itu, ibu juga perlu mengajarkan anak untuk melakukan puasa sedikit demi sedikit. Pertama-tama, ibu bisa menyuruhnya untuk berpuasa hingga tengah hari. Lalu, jam tersebut bertambah hingga ia mampu berpuasa secara penuh. Dengan cara ini, anak tidak merasakan paksaan dan melakukannya dengan senang.

2. Anak Tidak Akan Mengerti Makna Puasa yang Sebenarnya

Jika ibu memaksa anak untuk berpuasa, kemungkinan besar anak tidak mengerti makna puasa yang sebenarnya. Anak hanya akan menuruti perintah orang tua untuk menahan haus dan lapar selama seharian. Ia tidak paham tentang manfaat yang bisa didapatkan sekaligus seberapa besar pahala yang akan diterima. 

3. Anak Mengalami Trauma

Anak bisa saja mengalami trauma jika terus dipaksakan oleh orang tuanya. Maka dari itu, ajarkan anak secara perlahan. Dengan begitu, ia akan melakukannya dengan ikhlas. Anak juga jadi lebih sabar untuk menanti saat berbuka karena tidak mendapatkan paksaan.

 4. Anak Jadi Mudah Emosional

Anak juga menjadi lebih emosional saat sering dipaksa oleh orang tuanya. Biasanya, sesuatu yang dipaksakan akan menimbulkan masalah lainnya. Hal ini dapat membuat anak merasa tertekan dan tidak akan tenang sehingga lebih emosional.

5. Tidak Punya Inisiatif

Anak yang terus dipaksa oleh orang tuanya akan kekurangan inisiatif. Ia hanya akan menjalani apa yang disuruh tanpa memikirkan hal lainnya. Hal ini bisa terbawa hingga dirinya dewasa. Tentu, masalah ini tidak baik, terutama dalam menunjang karirnya kelak.

Maka dari itu, hal paling pertama yang perlu dilakukan oleh orang tua adalah memastikan anaknya sudah siap untuk menjalankan puasa. Umumnya, anak mulai belajar puasa saat berusia 6-7 tahun. Namun, hal ini tidak bisa menjadi patokan karena setiap anak berbeda. Jika anak tidak berpuasa, cobalah mengajarkan betapa menyenangkannya berpuasa. Lama-kelamaan, ia berkeinginan untuk mencobanya.

Ibu juga bisa melakukan interaksi dengan psikolog atau psikiater melalui fitur tanya dokter di aplikasi Halodoc. Agar bisa mendapatkan kemudahan tersebut, ibu perlu download aplikasi Halodoc di smartphone yang digunakan. Dengan begitu, kemudahan dalam interaksi dengan ahli medis bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja!

Referensi:
Penny Appeal. Diakses pada 2022. 7 Tips to Help Ease Your Child into Fasting During Ramadan.